Jumat, 21 September 2012

Menyedihkan...Siswa SMU Tidak Hafal Lagu Nasional

 0
13475057312144257133

Tidak sengaja kemarin pagi (13/9/2012) saya menonton tayangan Rangking 1 di salah satu stasiun televisi swasta. Ada yang menggelitik hati saya. Para peserta ketika diminta menyanyikan lagu Padamu Negeri dan Dari Sabang sampai Merauke, hampir semua peserta tidak sempurna dalam menyanyikan lagu wajib nasional yang diminta oleh juri.
Saat ditanya, “Kenal dengan Try Soetrisno, Soedarmono?”
Sambil mesem-mesem mereka bilang tidak kenal.
Ada seorang siswi mengatakan,”Saya tidak suka pelajaran sejarah. Kenapa belajar sejarah, sejarah kan masa lalu, kenapa mikirkan masa lalu, lebih baik pikirkan masa depan.”
Hati saya sangat miris sekali. Saat ini pelajaran sejarah, geografi, PSPB sudah tidak lagi jadi pelajaran favorit di daftar pelajaran anak sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah lanjutan atas. Padahal dengan belajar sejarah, manusia akan lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Dengan pelajaran geografi, kita bisa mengetahui dimana kita tinggal dan mengenal dunia alam sekitar. Dengan pelajaran PSPB, siswa dikenalkan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan bagaimana belajar kearifan kehidupan sejarah masa lalu.
Generasi muda jaman sekarang lebih mengenal SMASH, Cherrybelle atau anggota boysband, girlsband yang sedang popular dibandingkan dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia.
Terpaan media yang sedang melanda negara berkembang seperti di Indonesia, memberikan pengaruh sangat besar pada perkembangan pengetahuan dan psikologis anak-anak muda. Saat lagu Cherybelle naik tangga, dari anak kecil yang mulai bisa bicara sampai orang tua hafal dengan lagunya. Semua gaya Cibidan perilakunya ditiru oleh semua remaja. Asesoris mereka laku keras di pasaran.
Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak. Tetapi perlu perhatian khusus dari orang tua dan para pendidik di sekolah untuk menyeimbangkan antara pengetahuan sejarah negara dan pengetahuan agama. Agar anak-anak muda yang sedang mencari identitas dirinya tidak sampai terjerumus pada dunia yang hingar bingar dan melupakan sejarah masa lalu. Bila generasi muda tidak mengenal siapa wakil presiden yang sangat berjasa pada bangsa dan negara, rasa mencintai bangsa pun akan menurun. Kalau tidak warga negara Indonesia sendiri yang mencintai bangsa dan negaranya, siapa lagi yang akan membela dan bangga akan menjadi warga Indonesia.
Jangan sampai rasa nasionalisme tumbuh ketika ada elemen atau akar budaya bangsa kita diklaim oleh negara lain. Perlu dukungan dari pemerintah praktisi pendidikan untuk memasukan kurikulum pendidikan mencintai bangsa dan negara.