Jumat, 21 September 2012

Menyedihkan...Siswa SMU Tidak Hafal Lagu Nasional

 0
13475057312144257133

Tidak sengaja kemarin pagi (13/9/2012) saya menonton tayangan Rangking 1 di salah satu stasiun televisi swasta. Ada yang menggelitik hati saya. Para peserta ketika diminta menyanyikan lagu Padamu Negeri dan Dari Sabang sampai Merauke, hampir semua peserta tidak sempurna dalam menyanyikan lagu wajib nasional yang diminta oleh juri.
Saat ditanya, “Kenal dengan Try Soetrisno, Soedarmono?”
Sambil mesem-mesem mereka bilang tidak kenal.
Ada seorang siswi mengatakan,”Saya tidak suka pelajaran sejarah. Kenapa belajar sejarah, sejarah kan masa lalu, kenapa mikirkan masa lalu, lebih baik pikirkan masa depan.”
Hati saya sangat miris sekali. Saat ini pelajaran sejarah, geografi, PSPB sudah tidak lagi jadi pelajaran favorit di daftar pelajaran anak sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah lanjutan atas. Padahal dengan belajar sejarah, manusia akan lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Dengan pelajaran geografi, kita bisa mengetahui dimana kita tinggal dan mengenal dunia alam sekitar. Dengan pelajaran PSPB, siswa dikenalkan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan bagaimana belajar kearifan kehidupan sejarah masa lalu.
Generasi muda jaman sekarang lebih mengenal SMASH, Cherrybelle atau anggota boysband, girlsband yang sedang popular dibandingkan dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia.
Terpaan media yang sedang melanda negara berkembang seperti di Indonesia, memberikan pengaruh sangat besar pada perkembangan pengetahuan dan psikologis anak-anak muda. Saat lagu Cherybelle naik tangga, dari anak kecil yang mulai bisa bicara sampai orang tua hafal dengan lagunya. Semua gaya Cibidan perilakunya ditiru oleh semua remaja. Asesoris mereka laku keras di pasaran.
Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak. Tetapi perlu perhatian khusus dari orang tua dan para pendidik di sekolah untuk menyeimbangkan antara pengetahuan sejarah negara dan pengetahuan agama. Agar anak-anak muda yang sedang mencari identitas dirinya tidak sampai terjerumus pada dunia yang hingar bingar dan melupakan sejarah masa lalu. Bila generasi muda tidak mengenal siapa wakil presiden yang sangat berjasa pada bangsa dan negara, rasa mencintai bangsa pun akan menurun. Kalau tidak warga negara Indonesia sendiri yang mencintai bangsa dan negaranya, siapa lagi yang akan membela dan bangga akan menjadi warga Indonesia.
Jangan sampai rasa nasionalisme tumbuh ketika ada elemen atau akar budaya bangsa kita diklaim oleh negara lain. Perlu dukungan dari pemerintah praktisi pendidikan untuk memasukan kurikulum pendidikan mencintai bangsa dan negara.

Rabu, 06 Juni 2012

GreenTV IPB Inovasi Peradaban Baru

Panasnya matahari siang di atas bumi kampus biru IPB, tidak menyurutkan langkahku menuju sebuah gedung baru. Gedung itu terletak di belakang gedung rektorat IPB. Tepat sekali, itu adalah gedung GreenTV. Hari ini aku dan teman kuliah yang mengambil mata kuliah Ilmu Teknologi dan Komunikasi mengadakan kunjungan lapang, sebagai tugas akhir. GreenTV adalah sebuah lembaga penyedia konten dalam bidang pertanian secara luas, pengelolaan sumber-sumber alam, lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Konten GreenTV IPB telah dapat diakses oleh khalayak luas secara live streaming sejak 23 November 2011 melalui website http://greentv.ipb.ac.id.
“Kehadiran GreenTV IPB diharapkan sebagai jembatan komunikasi antara IPB dengan dunia luas, sehingga hasil penelitian civitas akademika IPB dapat segera terpublikasi dan diakses public,” ujar Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, Rektor IPB. GreenTV mempunyai logo Inovasi Peradaban Baru yang kalau disingkat menjadi IPB juga. GreenTV memiliki visi yaitu menjadi penyedia konten dan lembaga penyiaran rujukan di bidang pertanian, pengelolaan sumber-sumber alam dan lingkungan hidup yang mengangkat martabat kehidupan pertanian dan gaya hidup baru yang berkelanjutan.
Tujuan didirikannya GreenTV adalah mendorong transformasi IPTEKS pada masyarakat di bidang pendidikan, pertanian, pengembangan pedesaan dan lingkungan hidup, memperkuat komunikasi pembangunan antara IPB dengan masyarakat stakeholder lainnya, guna mendorong tumbuhnya kreativitas masyarakat dengan pendayagunaan IPTEKS di sektor pendidikan, pertanian, dan lingkungan hidup.
Program yang disajikan berupa :
Green Highlight, menyiarkan berita berskala nasional dan internasional yang diselenggarakan oleh Institut Pertanian Bogor. Bincang Bintang, talkshow menghadirkan orang-orang yang berprestasi dalam bidangnya. Membahas kiat-kiat dan kunci kesuksesan. Green Fact, memaparkan hasil-hasil riset IPB dan fakta-fakta mengenai berbagai aktivitas dan produk pertanian dalam arti luas. Jelajah Informasi dan Tips, memberikan informasi dan tips mengenai hal-hal unik dan penting untuk diketahui masyarakat.
Kehadiran GreenTV IPB semoga bisa menjalin komunikasi lebih efektif antar dan intra civitas akademika. Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan dan keilmuan di tanah air, khususnya dalam bidang pertanian secara luas, lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Wujud nyata dari kontribusi penting itu adalah terlaksananya Tridharma Perguruan Tinggi oleh civitas akademika IPB. IPB telah menghasilkan ribuan hasil penelitian, ratusan paten dan berbagai inovasi lainnya yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan masyarakat. Dalam bidang pengabdian pada masyarakat, IPB telah melaksanakan beragam program yang telah berhasil secara langsung memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Seluruh hasil karya tersebut merupakan potensi yang tidak ternilai harganya, yang tentu akan sangat bermanfaat bagi seluruh stakeholder manakala mampu didiseminasikan dengan baik kepada masyarakat luas.

Senin, 04 Juni 2012

Duka di Atas Duka

Kumandang adzan magrib belum selesai. Telepon seluler saya bergetar, pertanda sebuah sms masuk. Ketika saya baca, berita duka yang isinya tentang meninggalnya seorang nenek dari siswa sekolah yang saya kelola. Segera saya mengirim sms ke keluarga yang ditinggal agar yang meninggal diterima semua amal baiknya dan yang ditinggalkan mendapat kesabaran. Esok harinya saya tidak bisa datang takziyyah karena kedua anak saya sakit. Baru hari kedua saya berjumpa dengan keluarga yang berduka. Berikut dialog saya dengan Mbak Desi, bude dari siswa saya.
Mbak Desi : “Maafin kesalahan Mbah ya Bunda.”(matanya mulai mengembang air mata)
Saya : “Ia Bude, bila ada kesalahan Mbah telah saya maafkan.”
Mbak Desi : “Saya sedih bukan karena Mbah meninggal, karena Desi sadar Allah lebih menyayangi Mbah. Hanya….(perkataannya terhenti karena mulai menangis). Sepertinya orang-orang sekitar rumah malah berbahagia saat ada salah satu anggota keluarga lain yang meninggal.
Saya : “Memangnya kenapa Bude?
Mbak Desi : “Orang yang mandikan, menyalatkan, ikut mengantar ke pemakaman, tetangga semuanya meminta uang dan sedekahan. Saya yang sedang sedih dan berduka harus sibuk mencari uang pinjaman untuk membayar orang yang mandikan, ke pemakaman dan menyiapkan makanan sedekahan untuk keluarga. Malah kami tidak bisa menyelenggarakan tahlilan karena tidak ada uang lagi untuk memberi makanan untuk tetangga yang datang mengaji, hanya keluarga saja yang mengaji.”
Saya sampai tidak bisa bernafas mendengar keterangan Mbak Desi mengenai duka yang bertambah dengan kondisi tetangganya yang mengambil untung dari meninggalnya mbah.
Sebagai seorang muslim, saat ada saudaranya yang mengalami musibah berupa kematian, maka saudaranya berkewajiban untuk membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Kejadian yang dialami oleh Mbak Desi banyak ditemukan di masyarakat kita. Keluarga yang ditinggalkan selalu bertambah kesedihannya saat ada kewajiban yang tidak tertulis di lingkungannya berupa menyediakan makanan berupa sedekahan untuk tetangga yang ikut memandikan, menshalatkan dan mengikuti ke pemakaman. Hal ini sangat memberatkan. Seharusnya tetangga sekitarnya bahu membahu membantu berupa makanan, minuman dan keperluan yang dibutuhkan.
Semoga keluarga yang ditinggalkan tidak merasakan kesedihan yang mendalam dengan harus memberikan uang dan sedekahan yang tidak seharusnya dikeluarkan oleh keluarga yang berduka.

Kapok Ah Berlangganan Indovision

Salah satu alasan saya memilih televisi berlangganan adalah agar anak-anak menonton siaran televisi yang tayangannya jauh dari iklan dan sinetron lokal yang sangat kurang mendidik, baik dari bahasa maupun adegannya. Tidak mudah bagi saya dan suami memutuskan televisi berlangganan mana yang sesuai dengan yang kami cari. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih Indovision.
Hanya dengan pendaftaran seratus ribu rupiah, terpasanglah antena dan decoder Indovision dirumah kami. Sebulan pertama kami bisa menikmati semua tayangan Indovision, walaupun saluran usia dewasa kami blokir. Sebulan pertama kami menikmati fasilitas gratis siaran di semua saluran. Kami cukup puas karena banyak tayangan pendidikan dan anak-anak yang bagus. Walaupun sudah ada televisi berlangganan, kami tetap membatasi waktu anak menonton televisi sehari hanya dua jam. Saat orang tua tidak ada di rumah, anak-anak bisa menikmati tayangan anak dan pendidikan.
Kekecewaan kami muncul saat membayar tagihan bulanan, ternyata sangat sulit memakai sms banking, internet banking maupun membayar di kantor pos. kesulitan yang saya alami adalah tidak sesuainya antara tagihan dengan yang seharusnya kami bayar. Jadi sangat terpaksa harus membayar cash ke kantor pelayanan Indovision. Hal ini sangat merugikan saya sebagai pelanggan karena harus meluangkan waktu. Jarak tempuh yang harus saya capai sekitar satu jam perjalanan, belum meninggalkan anak dirumah, ongkos angkutan yang tidak sedikit. Di era teknologi yang sudah canggih, seharusnya Indovision memiliki jaringan online yang memudahkan pelanggan dalam hal pembayaran sehingga pelanggan merasa puas.
Kekesalan saya juga saat datang ke kantor pelayanan untuk membayar tagihan. Pihak Indovision tidak mengantisipasi kedatangan pelanggan dengan memberikan nomor antrian. Jadi siapa yang tahan malu bisa menyerobot duluan membayar ke kasir. Ada kalanya perang mulut terjadi di antara pelanggan. Satu hal lagi yang membuat saya kapok berlangganan Indovision, saat jatuh tempo sudah muncul dilayar, beberapa hari kemudian saya membayar tetapi saluran sudah banyak yang diblokir dan siangnya langsung berubah siaran semua menjadi TVRI.
Kalau selama delapan bulan pelayanan Indovision terus seperti ini, saya tidak mau meneruskan lagi berlangganan Indovision. Kapok ah……

Selasa, 29 Mei 2012

Strategi Komunikasi Pada Anak

“Ayah, kapan berangkat ke Kalimantan?”
“InsyaAllah minggu depan, Nak”
“Ayah jangan lupa kalau pulang beli oleh-oleh, ya. Kalau tidak ada, beli makanan saja. Kalau tidak ada makanan, gak apa-apa gak usah bawa oleh-oleh”
“InsyaAllah Ayah belikan oleh-oleh ya. Abang doakan ayah ya, agar ayah sehat dan selamat sampai pulang ke rumah”
Dialog ini terus berulang antara putra pertama kami, Faruq dengan ayahnya, saat ayahnya mau berangkat ke luar kota. Dialog ini memiliki pola yang sama. Ada satu hal menarik yang dapat saya ceritakan dari dialog di atas. Faruq memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap kegiatan ayahnya terutama saat ayahnya mau pergi keluar kota. Faruq memberikan sebuah permintaan pada ayahnya. Tetapi permintaannya ia turunkan satu tahap dari meminta hal yang tinggi, turun ke permintaan yang sedang sampai pada tahap ia tidak meminta apa pun kalau permintaannya tidak ada.
Faruq memiliki tingkat kecerdasan empati yang sangat jarang dimiliki oleh anak usia lima tahun. Kesadaran empati faruq bisa dilihat dari ucapan permintaan oleh-oleh yang ia harapkan. Tetapi ia menyadari saat permintaannya tidak bisa terpenuhi ia meminta hal lain yang sekiranya dapat terpenuhi dan akhirnya ia menyadari bila semua permintaannya tidak biasa terpenuhi, ia tidak menginginkan apa-apa dari ayahnya.
Sebagai orang terkadang sering menyikapi permintaan anak dengan kurang bijaksana tanpa mendengar alasan mengapa ia meminta sesuatu. Apakah karena orang tua kurang memiliki kedekatan secara emosional terhadap anak ataukah kurang memiliki strategi untuk mempengaruhi anak. Sesungguhnya bila orang tua memberikan strategi komunikasi pada anak dengan cara mendengar dan berdialog, orangtua dan anak akan menemukan sebuah pola komunikasi yang unik saat anak mengajukan sebuah permintaan. Tarik ulur pertanyaan dan permintaan akan menggali konsep anak dalam mengajukan sebuah permintaan sehingga hal ini akan member dampak positif pada anak di masa depan. Ia akan terampil dalam mengemukakan pendapat, akan pandai berdiplomasi dan akan bisa mempertahankan argumen atau alasan permintaan yang ia ajukan.
Perlu latihan dan latihan dalam upaya menggali kemampuan dasar anak sehingga akan menjadi bekal terbaiknya di masa yang akan datang.

Minggu, 20 Mei 2012

Negeri Kaya Karena Spanduk

Sudah hampir dua jam saya duduk di ruang tamu sebuah kantor desa, dekat kampus sebuah universitas di Bogor. Saya menunggu bapak sekretaris desa untuk menyerahkan surat ijin pemasangan spanduk. Sebagai seorang humas di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, salah tugas saya adalah mengurus perijinan spanduk penerimaan siswa baru. Setelah beliau datang kami berbincang mengenai surat dan biaya yang diminta pihak desa sebagai tanda ‘menjaga’ spanduk selama proses penerimaan siswa baru.
Pemasangan spanduk yang resmi harus melalui ijin kepala bidang ekonomi di kantor kecamatan. Biaya yang dibayarkan katanya untuk kas daerah kabupaten. Untuk memasang satu spanduk resmi harus mengeluarkan uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah selama kurun waktu dua minggu, selanjutnya hanya wajib lapor ke kecamatan dan untuk kantor desa meminta dana seratus ribu rupiah tidak ada batas waktu pemasangan. Maka terpasanglah sebuah spanduk resmi yang sudah mendapat ijin kecamatan dan desa di sebuah lokasi yang diinginkan.
Kenyataanya, spanduk yang telah terpasang hanya bertahan tiga hari. Besoknya raib entah kemana, digantikan spanduk penerimaan siswa baru untuk sebuah sekolah menengah yang tidak ada ijin. Terlihat dari spanduknya yang tidak ada stiker pengesahan kecamatan dan desa. Ketika konfirmasi ke kantor desa, mereka hanya menjawab “Pasang kembali saja Bu”. Sebuah pernyataan yang kurang simpati. Masalahnya spanduk resmi itu siapa yang menurunkannya dan sekarang ada dimana. Apakah harus membuat spanduk baru dengan biaya sekitar seratus ribu jadi kalau dijumlahkan untuk sebuah spanduk saja menghabiskan uang sebesar tiga ratusan ribu rupiah. Sebuah harga yang sangat besar untuk ukuran sekolah taman kanak-kanak yang baru.
Seandainya saja spanduk yang bertebaran di pinggir jalan, melintang jalan melakukan proses perijinan resmi seperti yang saya lakukan, negeri ini akan menjadi negeri yang sangat kaya raya, pasti milyaran rupiah akan masuk ke kas pemerintah daerah. Seandainya saja semua pemasang spanduk taat hukum, negeri ini akan terbebas dari lilitan hutang. Seandainya saja perijinan pemasangan spanduk disosialisasikan dengan baik pada masyarakat, pasti kemiskinan di negeri ini akan berkurang.
Spanduk oh spanduk….

Kala Perpustakaan Berubah Fungsi

Sebagai mahasiswa, salah satu kegiatan rutin saya adalah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan biasanya saya datangi sebagai tempat mencari buku sesuai keperluan, tempat membaca buku dan literatur atau sekedar mengerjakan tugas karena suasananya sepi sehingga mudah dalam mengembangkan ide.
Sebuah kejadian unik terjadi saat saya di perpustakaan. Lima mahasiswa, sepertinya mahasiswa strata satu, di depan tumpukan buku, berfose layaknya seorang model. Dengan memakai kamera di telepon genggam, dengan menggunakan notebook saling bergantian memoto dengan berbagai gaya. Mengumbar senyum, berlenggak lenggok dengan berbagai gaya.
Saya hanya senyum-senyum saja melihat tingkah laku mereka. Mungkin inilah yang bisa dilakukan mahasiswa disela mengerjakan tugas agar beban yang sedang dihadapi sedikit berkurang. Melepaskan syaraf ketegangan karena dikejar deadline tugas dan paper. Atau hanya sekedar berbagi dengan temannya dan keluarganya di kampung. Suatu aktifitas yang boleh dilakukan tapi tempatnya sungguh tidak tepat karena mengganggu sesama pengunjung perpustakaan.
Menurut UU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.
Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.
Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia.
Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).

I miss u Mom

Seperti pagi hari yang biasa dilewati, saya bangun sebelum anggota keluarga bangun. Setelah selesai bertemu dengan Sang Kholik, saya bergegas menuju dapur dan sumur, mempersiapkan segala keperluan anak-anak dan suami. Tapi hari ini ada yang lain rasanya, ada tamu yang akan datang siang nanti. Tamu luar biasa yang selalu saya nantikan kehadirannya.
Ibu…tepat sekali. Hari ini ibu akan datang ke rumah untuk menjenguk keempat cucunya, putrinya tercinta dan menantunya yang sangat ia sayangi. Perjalanan selama tujuh jam tidak menyurutkan niat Ibu untuk datang ke rumah. Di usia Beliau yang genap 55 tahun masih sanggup bepergian jauh sendirian tanpa diantar saudara di kampung. Sosok yang sangat mandiri, kuat dan penuh energi. Ibu masih rutin pergi ke pasar setiap hari untuk berbelanja, siang hari sampai sore menunggu toko. Di sela-sela menunggu toko, beliau juga menerima jahitan, menerima yang mau potong rambut dan bahkan masih merias pengantin. Subhanallah…sebuah figur idola dan panutan saya sebagai anak pertamanya. Beliau tidak pernah mengeluh atas rutinitas kesehariannya, malah kalau tidak beraktifitas malah badan sakit katanya.
Ibu tidak pernah menyuruh saya mencuci pakaian, tidak pernah menyuruh saya memasak, tidak pernah menyuruh saya ini dan itu. Saat kecil saya hanya diberi tugas untuk membersihkan semprong lampu kaca, saat saya sekolah dasar belum ada listrik jadi kami memakai lampu teplok minyak tanah. Hanya itu saja tugas rutin yang saya lakukan. Hal ini berlanjut sampai saya duduk di bangku perguruan tinggi, tidak pernah menyuruh bekerja atau membantu urusan rumah tangga. Kalau saya Tanya mengapa saya tidak diperkenankan membantu pekerjaaan rumah tagga, Beliau selalu bilang, “Teteh belajar saja ya agar jadi orang pintar dan sholehah, kerjaan rumah tangga biar mamah saja yang mengerjakan. Nanti kalau sudah menikah akan bisa sendiri.” Pulang sekolah biasanya saya ganti baju shalat makan lalu main sampai waktu asar tiba, lanjut main sampai waktu magrib.
Setelah saya menikah, saya mengambil pelajaran atas didikan Ibu selama saya sebelum berumah tangga. Demi kebaikan anaknya agar menjadi orang pintar dan sholehah, Ibu saya rela tidak berbagi tugas rumah tangga pada saya, hanya satu yang diinginkan beliau agar kelak saya menjadi orang pintar dan sholehah. Sebuah cita-cita yang sangat mulia. Semoga saja Allah memperkenanka doa Ibu. Semoga Allah selalu menjaga Ibu, selalu memberi kesehatan, kebaikan, kelapangan, perlindungan dengan sebaik-baiknya perlindungan.
Miss you so much, Mamah…

Minggu, 13 Mei 2012

Menjadi Manusia Juara dan Bahagia

SharMatahari masih enggan beranjak dari peraduannya. Kabut tipis menyelimuti jalan. Jam masih menunjukkan 5.35. Dengan tergegas kumelangkahkan kaki menuju jalan raya menyambut angkutan yang menuju ke arah stasiun kota Bogor. Hari ini dengan dua rekan sesama pendidik akan mengikuti acara Seminar Pendidikan dengan tema Menjadi Manusia Juara dan Bahagia, dengan pembicara Pak Munif Chatib seorang pakar Multiple Intelligences dan Ibu Dewi Yogo Pratomo seorang Ketua Hypnotherapis Indonesia Sehati. Acara ini bertempat di Convention Hall, Gedung SMESCO Jl Gatot Soebroto, Jakarta Selatan.
Tepat jam 07.15 Commuter yang menuju ke arah Cawang meninggalkan kota Bogor. Sekitar jam 8.30 sampai di stasiun Cawang, kami langsung mencari halte Busway ke arah Gedung SMESCO. Ini adalah kali pertama saya naik Transjakarta. Setelah membayar uang karcis sebesar Rp 3500, kami harus menunggu dan berdesakan sambil menatap ke arah datangnya bis. Tiga bis sudah melewati halte tetapi kami masih juga belum terangkut. Akhirnya bis keempat tiba dan membawa kami tepat di depan halte Pancoran Barat.
Jam 9.15 kami masuk ke Gedung SMESCO. Antrian registrasi sangat panjang. Menurut panitia, peserta yang datang sekitar 2000 orang yang datang dari Jabodetabek dan daerah Sukabumi. Setelah bersusah payah mengambil tiket tanda masuk dan mendapat goodybag yang berisi buku parenting, majalah dan berbagai macam brosur, kami masuk ke ruang Convention Hall yang sangat besar dan acara pembukaan sudah dimulai.
Acara pembukaan dipandu oleh Daan P-Project dan rekan. Acara dimulai dengan menampilkan sekilas film yang berjudul “Ambilkan Bintang”, film kerjasama antara MIZAN dan BNI Syariah yang akan diputar serentak saat liburan sekolah tiba, tanggal 28 Juni 2012. Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Direktur MIZAN, Direktur BNI Syariah, Inggrid Kansil anggota dewan komisi 8 DPR RI serta penandatanganan kerja sama antara MIZAN dan BNI Syariah. Acara pembukaan diisi oleh pentas dari anak-anak Lazuardi School, penyanyi anak Gita dan group nasyid.
Seminar pendidikan dimulai tepat pukul 11.00. Moderator seminar adalah Shahnaz Haque, seorang selebriti yang juga pemerhati pendidikan keluarga. Acara semakin hangat saat Shahnaz turun ke peserta dan mengajak berdialog dengan peserta.
“Selamat siang Ibu dan Bapak Guru, saya melihat banyak ahli Syurga disini”
Spontan peserta menjawab, “Aamiin” diiringi dengan tepuk tangan dan kilatan foto dari peserta yang ingin memoto sang moderator.
Dialog dilanjutkan dengan mengajak dua narasumber ke atas panggung dan Ibu Dewi mulai memberikan materi manfaat Hypnoparenting pada peserta. Para peserta diminta berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan, lalu masing-masing saling menarik. Ibu Dewi meminta peserta menggambar lingkaran dari ukuran kecil sampai besar bergantian kanan kiri kemudian dua-duanya. Suasana riuh rendah diruangan seminar. Setelah peserta duduk ditempat masing-masing, Ibu Dewi menjelaskan bahwa kegiatan tadi dimaksudkan untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri agar siap untuk mengikuti seminar dengan baik. Ibu Dewi memberikan tips bagaimana mengatasi anak-anak yang sering dianggap nakal, bodoh, agresif dan malas belajar. Salah satunya dengan rutin mengusap punggung anak sebanyak 15 kali saat bangun tidur, saat anak main atau belajar dan saat mau tidur malam. Disitulah waktu yang tepat untuk memberikan kata-kata sugesti yang positif, seperti “Nisa dokter mama yang sholehah dan pintar, jadilah anak yang baik dan sayang sama adik”. Sugesti positif yang dilakukan terus menerus akan menjadikan anak lebih tenang dan bahagia yang akan menyebabkan orang tuanya juga bahagia. Diperagakan juga oleh salah seorang peserta yang mengalami fobia terhadap kucing, bagaimana hipnotheraphy bisa menyembuhkan fobia ini.
Puncak seminar menghadirkan Pak Munif Chatib. Beliau menerangkan bahwa semua anak adalah juara dan memiliki ciri khas yang unik. Kewajiban orang tuanya adalah bagaimana menggali potensi yang domiliki anak dan memaksimalkan potensinya agar anak menjadi bahagia dalam menjalani kehidupannya. Pak Munif banyak bercerita tentang teman-temannya yang memiliki kesulitan dalam menghadapi anak-anaknya. Seorang bapak kehilangan waktu bermain dengan anaknya saat ia pulang bekerja gara-gara anaknya sibuk mengerjakan pr dari sekolahnya, sehingga bapak ini merasa sekolah sudah merebut waktunya bersama anak-anak dirumah. Bapak yang lain merasa pusing melihat kelakuan anak-anaknya saat ia pulang bekerja. Anak yang satu minta digendong, anak yang kedua naik dipunggungnya dan anak ketiga mau naik di atas kepalanya. Melihat apapun fenomena di rumah, pak munif mengajak para orang tua melihat dari sisi kepentingan anak. Mungkin ketiga anak ini merasa rindu ditinggal ayahnya seharian sehingga pas ayahnya datang, diserbu dengan luar biasa. Tinggalkan kepenatan dan keletihan di kantor saat berada di rumah. Jadilah ayah yang utuh dan jangan jadi ayah yang ke rumah dengan membawa beban kantor sehingga hilang kesempatan emas bersama anak.
Semoga materi seminar ini menjadi bekal yang penting untuk para guru agar mendidik anak sesuai dengan potensi anak sehingga bisa melahirkan generasi bangsa yang pintar dan berakhlak mulia

Minggu, 06 Mei 2012

Poligami*Syarat dan Ketentuan Berlaku

Ibu Dini, rekan kerja saya selama satu tahun ini tidak pernah cerita apapun tentang keluarganya. Saat beliau datang ke rumah saya, beliau menceritakan bahwa ia adalah istri kedua dari empat istri suaminya. Anak pertamanya sudah kelas satu sma dan tinggal bersama neneknya, sedangkan sekarang ia tinggal bersama dua anak dari istri ketiga suaminya. Selama ini saya menyangka kedua anaknya itu adalah anak kandungnya. Selama berumah tangga enam belas tahun, ia merasa hidup di neraka. Penuh dengan kesedihan, lahir batin tersiksa, tetapi ia tidak berdaya. Menurut beliau status janda di masyarakat lebih jelek statusnya dibanding status istri kedua. Suaminya cenderung memperhatikan istri mudanya daripada memperhatikannya.
Bagi mayoritas ibu-ibu di daerah saya, kata poligami merupakan kata yang tabu diucapkan dan tabu untuk dibicarakan. Alasan mereka adalah takut dicatat oleh malaikat dan akhirnya menjadi kenyataan. Entah benar atau tidak, hal itu sudah menjadi mitos para ibu yang tidak boleh dilanggar
Kekhawatiran yang dialami ibu-ibu sangat beralasan. Lebih dari lima laki-laki yang melakukan poligami di daerahnya, berbuat sangat tidak adil terhadap istri pertama dan anak-anaknya. Mereka ditelantarkan tanpa diberi nafkah yang memadai dan ditinggalkan tanpa kabar berita. Suaminya tinggal bersama dengan istri barunya dan melupakan keluarga lamanya.
Laki-laki yang memiliki istri baru dan melupakan istri lamanya kurang memiliki pengetahuan bagaimana aturan dan hukum berpoligami. Ajaran Islam mengatur bagaimana aturan, syarat dan hukum berpoligami. Poligami boleh dilakukan tetapi syarat dan ketentuan berlaku. Walaupun berpoligami tidak mesti meminta ijin dari istri pertama tetapi alangkah baiknya membicarakan dengan istri pertamanya. Boleh melakukan poligami tetapi harus memiliki rasa keadilan yang sama untuk istri-istrinya. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan dalam membagi waktu, membagi perhatian, membagi harta, membagi kasih sayang agar kedua belah pihak tidak merasa dirugikan. Pada dasarnya hukum poligami adalah boleh. Diperbolehkan sampai empat istri bila merasa mampu dan sanggup menjaga keutuhan rumah tangga.
Alasan untuk melakukan poligami bermacam-macam. Misalnya atas ijin dan permintaan istri pertamanya karena istrinya memiliki penyakit sehingga tidak bisa melayani kebutuhan batin suaminya, istrinya tidak memiliki keturunan sedangkan suami sangat mengharapkan keturunan, suami memiliki kemampuan untuk berbuat adil saat berpoligami, atau suami hanya ingin menciptakan imej bahwa dia lelaki yang mampu berpoligami dengan kelebihan harta yang ia miliki.
Hukum Allah dibuat agar manusia lebih mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Semoga poligami bukan hal yang menakutkan untuk dibahas tetapi memahami bahwa poligami hal yang diperbolehkan oleh agama asal memahami syarat dan ketentuan yang berlaku. Sehingga pahala bagi laki-laki yang adil dalam berpoligami yang diperoleh dan bukannya kebencian dari manusia dan yang membuat aturan.

Kebahagiaan Adalah Sebuah Pilihan

Seorang sahabat bercerita kepada saya. Pekan lalu ia dan teman kantornya melakukan sebuah riset.Riset ini ingin melihat tingkat kebahagiaan dalam rumah tangga Respondennya adalah laki-laki yang sudah berkeluarga, dengan usia pernikahan minimal 10 tahun. Hasil riset mengungkapkan bahwa 80 persen dari jumlah responden sekitar 300 orang, merasa tidak bahagia dengan rumah tangga yang sedang dijalaninya. Tentu saja dikuesioner diungkapkan alasan-alasan mengapa ia tidak bahagia.
Saya merasa tertarik dengan hasil riset ini. Apa sebenarnya arti kebahagian menurut laki-laki yag sudah mengarungi biduk rumah tangga minimal 10 tahun dengan istrinya dan mungkin sudah dikaruniai oleh anak-anak.
Ketika dua insan akan memasuki gerbang pernikahan, masing-masing semestinya sudah memiliki visi dan misi berumah tangga. Ketika pernikahan berlangsung tentu saja visi dan misi antara suami dan istri haruslah sama, sejalan dan seirama sehingga dalam menjalani kehidupan berumah tangga akan mudah dilalui bersama. Dalam sebuah keluarga, visi dan misi ini mutlak diperlukan. Mengapa, karena visi dan misi adalah semacam undang-undang kesepahaman bersama antara suami istri dalam melalui tahapan-tahapan berumah tangga. Saat ada masalah, persoalan, onak duri yang mengganjal  maka suami istri bisa melihat kembali visi dan misi awal berumah tangga.
Visi dan misi berumah tangga menjadikan tolak ukur sandaran agar dalam melangkah sesuai dengan isi dari kesepakatan awal. Pernikahan tidak seperti mengendarai mobil di jalan bebas hambatan tapi banyak jalanan menukik, turunan terjal bahkan menemui jalan yang buntu.
Kebahagiaan tidak mutlak dari datang dari pasangan,anak, sahabat, uang, hobi dan lainnya. Sesungguhnya kebahagiaan itu mutlak ada dalam diri sendiri. Kebahagiaan tergantung pemaknaan seseorang terhadap kebahagiaan itu sendiri. Dengan mensyukuri apapun yang Allah berikan akan mendatangkan kebahagiaan, kebahagiaan muncul dengan lapang dada dan merasa cukup atas karunia dan rahmatNya pada dirinya. Kebahagiaan bisa muncul saat seseorang bisa melakukan sebuah perbuatan yang membuat orang lain bahagia seperti dengan berbagi, membantu anak yatim piatu, mengurangi beban janda miskin yang memiliki tanggungan anak sekolah dengan menyantuninya dan banyak hal yang bisa membangkitkan kebahagiaan orang di sekitar kita.
Seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sesungguhnya pola pikir seseoranglah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan dari faktor luar. Bahagia tidaknya kehidupan kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa cantik atau tampan pasangan kita, seberapa banyak keturunan yang dimiliki, seberapa panjang gelar yang dimiliki atau sesukses apa kehidupan kita.
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan, apakah kita akan memilih bahagia atau tidak bahagia

TV Digital di Indonesia Adalah Sebuah Keniscayaan

“Zaman merupakan keniscayaan. Inovasi teknologi tidak bisa ditawan, “ sebuah konsep Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring. Menkoinfo akan memberlakukan sistem televisi digital secara nasional pada tahun 2018. Televisi dengan konsep Digital Video Broadcasting Terrestial akan diberlakukan di Indonesia seiring switch of system analog pada 17 Juni 2015 yang dicanangkan International Television Union.
Pengertian TV Digital
TV Digital adalah sebuah perkembangan teknologi di bidang elektronik. TV digital memiliki kualitas gambar yang bagus, spektrum komunikasi lebih hemat. Perbedaan mendasar antara sistem penyiaran televisi analog dan digital terletak pada penerimaan gambar lewat pemancar. Pada sistem analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi, sinyal akan melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Sedangkan pada sistem digital, siaran gambar yang jernih akan dinikmati sampai pada titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi.
Perkembangan teknologi sangat berkembang pesat. Seperti jam, banyak yang sudah beralih memakai teknologi digital. Beralihnya siaran televisi analog ke televisi digital memiliki banyak keuntungan, baik terhadap konsumen, pemerintah maupun industri televisi.
Semoga semakin meningkatnya perkembangan sistem industri televisi diimbangi dengan meningkatnya kualitas siaran yang menitik beratkan pada pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa

Rabu, 02 Mei 2012

Seorang Guru menjadi Korban Kekerasan Suami


Saat pulang mengantar anak sekolah, saya terkejut melihat Bu Ira, seorang rekan pengajar bersimpuh dibelakang pintu dapur. Ia berpakaian kaos pendek dengan celana robek selutut dan tidak mengenakan jilbab. Padahal dalam keseharian sang rekan menutup auratnya dengan rapi. Ia duduk sambil mendekap kedua lututnya, matanya bengkak dan sembab sebagai tanda telah lama menangis. Ketika melihat kedatangan saya, ia langsung memeluk saya dan menangis dengan sangat kencang. 

Ketika tangisnya sudah mereda, ia menunjukkan bagian atas tangan kanannya yang biru lebam, dekat pergelangan tangan kirinya menghitam, bagian punggungnya biru lebam dan diatas alis kirinya ada dua luka terbakar berdiameter sekitar satu sentimenter. Saya tidak berani menanyakan penyebabnya, saya pikir biarlah ia cerita sendiri. Sambil meminum air putih yang saya hidangkan, dengan kata yang terbata-bata ia bercerita. “Bunda, semua biru lebam dan bekas luka bakar ini adalah perbuatan suamiku. Penyebabnya adalah suami membaca sebuah pesan singkat di telepon selulerku”. “Pesan singkat yang dibacanya dari mantanku yang isinya apakah aku masih mencintainya atau tidak dan aku membalas bahwa sekarang sudah mempunyai suami dan anak”. Suaminya marah sekali dan menyangka selama 16 tahun pernikahan, Bu Ira menjalin hubungan dengan sang mantan pacar.
Bu Ira sudah menjelaskan bahwa selama 16 tahun menikah tidak pernah berhubungan dengan mantan pacarnya. Suami Bu Ira tidak percaya lalu memukuli punggung dan tangan Bu Ira dengan bertubi-tubi. Bu Ira sudah bersumpah tidak melakukan apapun tuduhan suaminya, ujung-ujungnya malah di atas alisnya ditempelkan rokok panas yang sedang diisap suaminya. Tidak tahan menghadapi perlakuan suaminya, ia pergi dengan naik ojeg dengan memakai pakaian seadanya ke rumah saya. Karena saya tidak ada di rumah, ia menunggu saya di depan pintu dapur, denga harapan tidak ada orang yang melihatnya.

Saya langsung mengajaknya ke rumah sakit untuk di visum. Menurut pemeriksaan dokter, luka lebamnya karena pukulan benda tumpul dan luka bakarnya bekas rokok panas. Saya menanyakan ke Bu Ira, apakah kasusnya mau dibawa ke pihak yang berwajib karena sudah masuk kekerasan dalam rumah tangga ataukah mau pulang ke rumah orang tuanya. Ia memilih pulang ke rumah orang tuanya dan menjaga jarak dulu dengan suami sambil berharap suaminya sadar atas perbuatan yang menyakitinya.

Sebagai seorang perempuan, saya sangat merasakan apa yang Bu Ira rasakan. Sedih, prihatin, empati dan simpati terhadap masalah yang ia alami. Niat awal saat menikah salah satunya adalah mendapatkan cinta, kasih sayang, rasa aman dan perlindungan dari suami. Waktu 24 jam dihabiskan untuk mengurus keperluan suami, anak, rumah. Istri terkadang lupa untuk merawat diri karena sudah kecapaian mengurus rumah tangga. Perjalanan waktu yang panjang berumah tangga selayaknya sudah dibangun rasa kepercayaan, rasa memiliki, rasa mencintai dan mengetahui kelemahan dan kelebihan pasangan. Masalah selalu ada dalam kehidupan berumah tangga karena menikah itu menyatukan dua hati, dua pemikiran yang berbeda pastilah ada gesekan-gesekan. Saat masalah itu timbul, bisa dikomunikasikan dengan baik sehingga ditemukan jalan keluarnya dengan kepala dingin, dewasa dan bertanggung jawab. Tetapi bila masalah diselesaikan dengan ringan tangan, memukul, menganiaya bahkan sampai membakar kulit istri dengan rokok, hal itu sangat menyakitkan hati dan fisik istri.

Senin, 30 April 2012

Super Junior dan Krisis Keteladanan

Saya tahu namanya saat mengikuti sebuah presentasi. Nama yang belum pernah saya baca, belum pernah saya dengar dan belum pernah saya lihat. Nama itu adalah Super Junior. Saya ditertawakan seorang teman saat menayakan siapa sih Super Junior itu. Maklumlah untuk seorang ibu dengan empat orang anak dan berstatus sebagai pengacara (pengangguran banyak acara), menonton televisi adalah sebuah kegiatan yang sangat langka dan mahal.
Ternyata, SJ adalah sebuah grup boyband dari Seoul, Korea Selatan yang berjumlah 13 orang lebih dikenal dengan istilah SuJu. Musik Super Junior termasuk dalam kategori arus utama pop Korea. Dimodifikasi dengan lagu dan tari pop serta rap. Gaya tarian mereka secara luas disebut sebagai jalan menari, dengan mayoritas dari mereka yang berisi koreografi tari hip hop seperti meletuskan bergerak, melambai, geser, dan cair menari. Super Junior dikenal paling baik menjadi seorang muda, energik,dan kelompok humor.
Melihat antusiasme para remaja dan ABG di Indonesia saat menjelang konsernya, membuat saya sangat prihatin. Harga tanda masuk sangat mahal. Dikabarkan, bahwa demi untuk melihat pertunjukan Super Junior (SuJu), remaja rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Seluruh tiket yang disediakan panitia habis. Mulai kelas junior sky Rp 500 ribu, super sky Rp 1 juta, junior VIP Rp 1,4 juta, super box Rp 1,7 juta, hingga termahal super VIP Rp 2 juta. Bahkan, mereka rela antre sejak sehari sebelum loket tiket dibuka pukul 08.00 pada 7/4/2012. Karena kelelahan, 12 remaja pingsan saat mengantre. Kacaunya antrean dan fisik yang lemah adalah penyebabnya. Mereka antre mulai dini hari dan belum makan.
Remaja dan ABG memiliki seorang idola adalah hal yang wajar dan biasa. Tetapi kalau seorang idola sudah dijadikan seorang suri tauladan yaitu seseorang yang diteladani tingkah laku dan perbuatannya, maka nilai sebuah keteladanan sudah bergeser ke arah hal yang tidak pantas. Sang idola dijadikan kiblat berpakaian, model rambut, asesoris, gaya hidup dan tingkah laku para penggemar. Remaja dan ABG yang tidak mengikuti trendsetter dianggap sebagai remaja dan ABG kuper dan kolot.
Remaja dan ABG yang rela antri sejak dini hari demi selembar tiket, apakah dalam kesehariannya rela bangun dini hari untuk melaksanakan shalat malam. Apakah dana yang dikeluarkan untuk membayar selembar tiket sama dengan dana yang ia keluarkan untuk bersedekah dan berinfak. Apakah waktu yang dihabiskan untuk menunggu pintu Gedung Konser, ia tidak melupakan waktu shalat. Apakah banyak lagu-lagu yang dihafal dari album SuJu, sebanding dengan jumlah hafalan surat-surat dalam Alqur’an.
Semoga saja para remaja dan ABG yang sedang mencari identitas dirinya menemukan sebuah figur keteladanan yang akan menyelamatkannya di dunia dan di akherat.
Semoga saja para remaja dan ABG menjadi sebuah generasi yang dapat mewarisi tongkat estafet kepemimpinan bangsa yang berakhlak mulia dan sesuai dengan seorang suri tan tauladan terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW.

Antara Hari Kartini dan RUU KKG

Sudah satu minggu Bu Yani disibukan dengan mencari kostum.Kostum yang dicari bukan konsum untuk konser atau bukan juga kostum untuk pesta. Kostum yang dicairnya adalah sepasang baju yang akan dikenakan putrinya dalam menyambut Hari Kartini 21 April. Putrinya akan memakai kostum yang sesuai dengan tema peringatan Hari Kartni di sekolah taman kanak-kanaknya, memakai baju tradisional yakni kebaya.
Ingat hari kartini, terbayanglah seorang perempuan muda anggun, cantik, memakai konde, memakai baju kebaya, riasan mukanya sederhana dan wajahnya memancarkan kesedihan bahkan tatapan matanya terkesan kosong. Beliaulah Ibu Kartini yang lahir di Jepara, 21 April 19879 sebagai anak dari sebuah keluarga bangsawan.
Dalam salah satu buku tentang perjuangan RA Kartini berjudul RA Kartini, Riwayat dan Perjuangannya (1985) yang ditulis oleh Mardanas Safwan, keberhasilan Kartini mencapai cita-cita luhurnya tidak serta merta didapatkan begitu saja, tapi melewati perjalanan panjang penuh liku. Setelah tamat sekolah dasar, oleh orang tuanya Kartini tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini sudah dipingit di usia 12 tahun. Saat itu, hidupnya berubah kesepian, ibarat burung dalam sangkar emas. Keluarganya yang memegang teguh adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini yang menghendaki adanya perubahan.
Dalam kesunyian dan kesendiriannya, Kartini tak lantas menyesali diri. Bahkan ketika banyak celaan yang ditujukkan kepadanya karena dianggap sebagai penentang adat dan tradisi, semangat Kartini justru menggelora. Selama menuju proses perubahan, Kartini mencurahkan cita-cita perjuangannya dalam bentuk surat.
Kartini rajin menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Ny. Abendanon, Nn. Stella Zeehandelaar, Ny Marie Ovink Soer, Ir. H. H. Van Kol, Ny. Nellie dan Dr Adriani, Isinya, tentang keinginannya untuk mengangkat derajat wanita Indonesia. Dia ingin agar wanita Indonesia setara dengan pria, memiliki hak bukan hanya kewajiban, dan juga bisa sejajar dengan wanita-wanita dari negara lain. Berkat kegigihannya yang tak henti, pada 1903 didirikanlah Sekolah Kartini. Sebuah bukti bahwa dalam situasi apa pun Kartini tetap menemukan cinta dan semangat.
Pakar sejarah Ahmad Mansur Suryanegara tentang sosok Kartini. Dalam bukunya yang fenomenal, Api Sejarah, Ahmad Mansur menulis :
“Dari surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata R.A Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi dan westernisasi. Dari surat-surat R.A. Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah waktu itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa Indonesia. Sebaliknya, Kristen dinilai merendahkan derajat bangsa karena para gerejawannya memihak kepada politik imperialisme dan kapitalisme.”
Kepada E.C. Abandenon, Kartini menulis surat yang berisi penolakannya terhadap misi kristenisasi: “Zending Protestan jangan bekerjasama dengan mengibarkan panji-panji agama. Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani. Hal ini akan membuat Zending memandang Islam sebagai musuhnya. Dampaknya, semua agama akan memusuhi Zending.”
Di bagian lain Kartini menulis, “orang Islam umumnya memandang rendah kepada orang yang tadinya seagama dengan dia, lalu melepaskan keyakinannya sendiri memeluk agama lain.” Kenapa?, “karena yang dipeluknya agama orang Belanda, sangkanya dia sama tinggi derajatnya dengan orang Belanda.”
Sebuah opini yang lugas bahwa kristenisasi berjalin erat dengan westernisasi dan penanaman nilai-nilai yang memandang rendah bangsa sendiri dan memandang tinggi bangsa penjajah. Masih menurut Ahmad Mansur, Kartini memiliki sikap demikian setelah memperoleh dan membaca tafsir Al-Qur’an. Kekagumannya pada Qur’an ia tulis dalam suratnya kepada E.C. Abandenon : “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami.” Qur’an ia sebut dengan “gunung kekayaan”.
Kalau selama ini Kartini hanya dikaitkan dengan emansipasi, emansipasi dalam arti kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, apakah perempuan yang mengusung kesetaraan dengan laki-laki memahami bahwa ada tugas dan peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Seperti kewajiban untuk mencari nafkah keluarga adalah ada di pundak laki-laki sedangkan bila perempuan bekerja bukanlah sebuah kewajiban melainkan hanya membantu dan tentu saja atas seijin dari suaminya. Fitrah seorang perempuan hamil, melahirkan dan menyusui adalah sesuai dengan kodrat alamiah yang harus dijalankan oleh seorang perempuan.
RUU kesetaraan gender yang sedang hangat dibicarakan, banyak menuai protes dan kritikan dari berbagai kalangan. Makna kesetaraan dan keadilan dalam RUU KKG, terutama dalam Pasal 1, 2, dan 3 memiliki pertentangan dalam ajaran Islam. Sebab dalam Islam, pemaknaan hal tersebut tidaklah berarti persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam semua hal. Di bagian lain, RUU KKG pasal 4 menurutnya memberikan gambaran yang keliru tentang kemajuan dan peran perempuan dalam pembangunan.
Sehingga ini memaksakan keterlibatan perempuan di dalam ruang publik, di semua lembaga pemerintah dan non pemerintah, dan mengucilkan makna peran perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak-anak di rumah. Tapi malah RUU KKG masuk materi pengajaran dan tidak lagi memperjuangkan diskriminasi terhadap perempuan.
Semoga RUU KKG bisa memperjuangkan perempuan…………

Jumat, 27 April 2012

Ummi, Teteh Bosan Shalat


Ummi….Teteh gak mau shalat, Teteh bosen shalat lagi shalat lagi.  Teman Teteh juga kalau datang waktu shalat gak disuruh-suruh sama umminya shalat.
Ummi….Teteh gak mau makan, bosen makan, makannya itu lagi-itu lagi.  Teman Teteh juga kalau makan sama yang enak-enak terus.
Ummi….Teteh gak mau mandi sore, bosen mandi terus nanti juga bau lagi.  Teman Teteh juga mandinya hanya sekali saja kalau mau berangkat sekolah.
Ummi….Teteh gak mau rapikan mainan, bosen rapikan nanti juga dimainin lagi.  Teman Teteh juga kalau habis main berantakan.
Ummi…..Teteh gak mau belajar malam, bosen belajar terus kan sudah tadi di sekolah.  Teman Teteh belajarnya kalau mau ulangan saja.
Ummi….Teteh gak mau ngaji setelah magrib, bosen ngaji kan sudah ngaji di sekolah.  Teman Teteh juga ngajinya di sekolah saja.
            Hampir setiap hari Bu Iis mendengar kalimat diatas dari putri keduanya, Ria yang berumur 8 tahun.  Ria anak yang pintar di sekolahnya.  Ria sangat senang bermain peran, menari dan nonton film kartun. Bu Iis merasa kebingungan menghadapi tingkah laku Ria.  Semenjak usianya menginjak 8 tahun, sebulan yang lalu, bila disuruh melakukan sesuatu pasti banyak membantah.  Selama ini Bu Iis selalu mencoba untuk membujuk dengan kata-kata yang halus, mengimingi dengan hadiah bila telah melakukan sebuah perbuatan baik sampai suaranya agak meninggi.  Tetap saja Ria sangat sulit untuk mematuhi perintah Bu Iis.
            Bu Iis dengan belaian kasih sayangnya, membawa Ria jalan-jalan.  Jalan-jalan ke pasar terdekat tidak melalui jalur angkutan seperti biasa tetapi melewati jalur kebun dan pematang sawah yang jalannya terjal, licin dan berliku. Dengan wajah cemberut Ria merajuk agar kembali ke jalur angkutan agar lebih cepat sampai, tidak kelelahan.  Bu Iis membujuk Ria dengan mengajak bernyanyi dan bercerita.  Sampailah akhirnya di pasar. Di pasar Ria segera menyerbu tukang batagor dan es kelapa muda kesukaannya.  Sambil menikmati sepiring batagor kuah yang masih panas, Bu Iis bertanya, “Setelah perjalanan yang melelahkan, menuruni kebun, melewati pematang sawah yang licin, lalu jalan menanjak ketika sampai pasar langsung menikmati batagor, bagaimana perasaan Ria?” Ria menjawab, “Hilang letih dan capenya saat ketemu makanan dan minuman kesukaan Ria,” Bu Iis. “Begitu pun dengan Ria, setelah bersusah payah belajar, bersungguh-sungguh mengaji, merasakan capenya merapikan mainan, mandi dan makan teratur suatu saat pasti akan memberikan kebahagian.  Bila rajin belajar, insyaAllah akan mendapatkan prestasi yang bagus.  Bila rajin shalat dan mengaji, insyaAllah akan disayangi Allah.  Bila teratur mandi dan makan, makan badan kita akan sehat dan terhindar dari penyakit.”
            Sebagai manusia, kita hanya berkewajiban memaksimalkan ikhtiar, mengoptimalkan berdoa, selanjutnya bertawakal.  Permintaan kita dikabulkan atau tidak  oleh Allah adalah hak preogratif Allah.  Anak hanyalah sebuah amanah atau titipan Allah. Suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban akan amanah yang selama ini Ia titipkan.  Merawat dan mendidik anak sangat perlu ilmu.  Ilmu tentang pendidikan anak harus selalu bertambah sesuai dengan bertambahnya usia anak.

Sabtu, 21 April 2012

Industri Penyiaran Sayangi Anak Yuuuk


“Banyak konten siaran TV dan radio yang tidak memberikan rasa keadilan bagi semua dan tidak layak ditonton anak-anak karena mengandung unsur kekerasan, seksualitas, dan bertentangan dengan norma sosial dan agama,” kata Wakil Ketua Fraksi PKS, Almuzammil Yusuf, kepada Republika, Jumat (13/4). Saya sangat setuju sekali dengan pernyataan di atas. Pagi hari saat mempersiapkan perbekalan anak-anak sekolah, bila diamati tayangan televisi mereka sudah menyuguhkan siaran yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak. Walaupun sedang ditayangkan film kartun anak tetapi banyak adegan kekerasan yang ditampilkan belum lagi sisipan iklan lagu dangdut dan iklan konsumtif yang sasarannya adalah anak-anak.
Saya sangat bersyukur saat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengeluarkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) 2012 yang mengikat bagi semua industri penyiaran. Kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan jaminan perlindungan bagi masyarakat dan mengatur persaingan industri penyiaran yang sehat. Masyarakat diharapkan menjadi penonton yang cerdas dan berperan aktif menyampaikan pengaduan isi siaran TV dan radio yang tidak mendidik kepada KPI. Masyarakat bisa mengadukan penyimpangan isi penyiaran ke Call Center KPI 021 6340 626 atau SMS ke 0812 130 70000. Industri penyiaran harus mentaati dan menghormati P3SPS yang secara resmi dikeluarkan KPI yang mengikat untuk semua industri penyiaran. Bila industri penyiaran punya kritik dan masukan bisa disampaikan dan didialogkan kepada KPI sebagai bahan pertimbangan.
Semoga dengan keluarnya P3SPS ini menjadikan sebuah ‘cambukan’ bagi industri penyiaran agar menayangkan siaran yang mengedepankan nilai, moral luhur orang Indonesia. Industri penyiaran memproduksi siaran yang tidak hanya mengedepankan keuntungan ekonomi semata tetapi memikirkan juga masa depan anak-anak dimasa mendatang. Anak-anak perlu mendapatkan tayangan yang berisi panduan menghormati orang tua, guru, sesama, tayangan yang memberi contoh untuk tidak mencintai dunia secara berlebihan sehingga sejak dini sudah diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan.
Sudah beberapa bulan tayangan televisi di rumah saya memakai televisi langganan. Hal ini saya lakukan agar meminimalisir kerugian akibat tontonan yang dilihat anak saat saya dan suami tidak ada dirumah. Luar biasa sekali tayangan televisi anak luar negeri bila dibandingkan dengan tayangan anak dalam negeri. Tayangan untuk anak di saluran anak sangat mendidik anak untuk berbagi, mengasihi, belajar untuk mandiri dan hal-hal mendasar lain yang diperlukan anak dalam tumbuh kembangnya.
Semoga bisa lahir tayangan yang peduli pada anak-anak, generasi penerus bangsa