Selasa, 29 Mei 2012

Strategi Komunikasi Pada Anak

“Ayah, kapan berangkat ke Kalimantan?”
“InsyaAllah minggu depan, Nak”
“Ayah jangan lupa kalau pulang beli oleh-oleh, ya. Kalau tidak ada, beli makanan saja. Kalau tidak ada makanan, gak apa-apa gak usah bawa oleh-oleh”
“InsyaAllah Ayah belikan oleh-oleh ya. Abang doakan ayah ya, agar ayah sehat dan selamat sampai pulang ke rumah”
Dialog ini terus berulang antara putra pertama kami, Faruq dengan ayahnya, saat ayahnya mau berangkat ke luar kota. Dialog ini memiliki pola yang sama. Ada satu hal menarik yang dapat saya ceritakan dari dialog di atas. Faruq memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap kegiatan ayahnya terutama saat ayahnya mau pergi keluar kota. Faruq memberikan sebuah permintaan pada ayahnya. Tetapi permintaannya ia turunkan satu tahap dari meminta hal yang tinggi, turun ke permintaan yang sedang sampai pada tahap ia tidak meminta apa pun kalau permintaannya tidak ada.
Faruq memiliki tingkat kecerdasan empati yang sangat jarang dimiliki oleh anak usia lima tahun. Kesadaran empati faruq bisa dilihat dari ucapan permintaan oleh-oleh yang ia harapkan. Tetapi ia menyadari saat permintaannya tidak bisa terpenuhi ia meminta hal lain yang sekiranya dapat terpenuhi dan akhirnya ia menyadari bila semua permintaannya tidak biasa terpenuhi, ia tidak menginginkan apa-apa dari ayahnya.
Sebagai orang terkadang sering menyikapi permintaan anak dengan kurang bijaksana tanpa mendengar alasan mengapa ia meminta sesuatu. Apakah karena orang tua kurang memiliki kedekatan secara emosional terhadap anak ataukah kurang memiliki strategi untuk mempengaruhi anak. Sesungguhnya bila orang tua memberikan strategi komunikasi pada anak dengan cara mendengar dan berdialog, orangtua dan anak akan menemukan sebuah pola komunikasi yang unik saat anak mengajukan sebuah permintaan. Tarik ulur pertanyaan dan permintaan akan menggali konsep anak dalam mengajukan sebuah permintaan sehingga hal ini akan member dampak positif pada anak di masa depan. Ia akan terampil dalam mengemukakan pendapat, akan pandai berdiplomasi dan akan bisa mempertahankan argumen atau alasan permintaan yang ia ajukan.
Perlu latihan dan latihan dalam upaya menggali kemampuan dasar anak sehingga akan menjadi bekal terbaiknya di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar