Saya tahu namanya saat mengikuti sebuah presentasi. Nama yang belum pernah saya baca, belum pernah saya dengar dan belum pernah saya lihat. Nama itu adalah Super Junior. Saya ditertawakan seorang teman saat menayakan siapa sih Super Junior itu. Maklumlah
untuk seorang ibu dengan empat orang anak dan berstatus sebagai
pengacara (pengangguran banyak acara), menonton televisi adalah sebuah
kegiatan yang sangat langka dan mahal.
Ternyata, SJ adalah sebuah grup boyband dari Seoul, Korea Selatan yang berjumlah 13 orang lebih dikenal dengan istilah SuJu. Musik Super Junior termasuk dalam kategori arus utama pop Korea. Dimodifikasi dengan lagu dan tari
pop serta rap. Gaya tarian mereka secara luas disebut sebagai jalan
menari, dengan mayoritas dari mereka yang berisi koreografi tari hip hop
seperti meletuskan bergerak, melambai, geser, dan cair menari. Super
Junior dikenal paling baik menjadi seorang muda, energik,dan kelompok
humor.
Melihat antusiasme para remaja dan ABG di Indonesia saat menjelang konsernya, membuat saya sangat prihatin. Harga tanda masuk sangat mahal.
Dikabarkan, bahwa demi untuk melihat pertunjukan Super Junior (SuJu),
remaja rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.
Seluruh tiket yang disediakan panitia habis. Mulai kelas junior sky Rp
500 ribu, super sky Rp 1 juta, junior VIP Rp 1,4 juta, super box Rp 1,7 juta, hingga termahal super VIP Rp
2 juta. Bahkan, mereka rela antre sejak sehari sebelum loket tiket
dibuka pukul 08.00 pada 7/4/2012. Karena kelelahan, 12 remaja pingsan
saat mengantre. Kacaunya antrean dan fisik yang lemah adalah
penyebabnya. Mereka antre mulai dini hari dan belum makan.
Remaja dan ABG memiliki seorang idola adalah hal yang wajar dan biasa. Tetapi
kalau seorang idola sudah dijadikan seorang suri tauladan yaitu
seseorang yang diteladani tingkah laku dan perbuatannya, maka nilai
sebuah keteladanan sudah bergeser ke arah hal yang tidak pantas. Sang
idola dijadikan kiblat berpakaian, model rambut, asesoris, gaya hidup
dan tingkah laku para penggemar. Remaja dan ABG yang tidak mengikuti
trendsetter dianggap sebagai remaja dan ABG kuper dan kolot.
Remaja
dan ABG yang rela antri sejak dini hari demi selembar tiket, apakah
dalam kesehariannya rela bangun dini hari untuk melaksanakan shalat
malam. Apakah dana yang dikeluarkan untuk membayar selembar tiket sama dengan dana yang ia keluarkan untuk bersedekah dan berinfak. Apakah waktu yang dihabiskan untuk menunggu pintu Gedung Konser, ia tidak melupakan waktu shalat. Apakah banyak lagu-lagu yang dihafal dari album SuJu, sebanding dengan jumlah hafalan surat-surat dalam Alqur’an.
Semoga
saja para remaja dan ABG yang sedang mencari identitas dirinya
menemukan sebuah figur keteladanan yang akan menyelamatkannya di dunia
dan di akherat.
Semoga saja
para remaja dan ABG menjadi sebuah generasi yang dapat mewarisi tongkat
estafet kepemimpinan bangsa yang berakhlak mulia dan sesuai dengan
seorang suri tan tauladan terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW.