Senin, 30 April 2012

Super Junior dan Krisis Keteladanan

Saya tahu namanya saat mengikuti sebuah presentasi. Nama yang belum pernah saya baca, belum pernah saya dengar dan belum pernah saya lihat. Nama itu adalah Super Junior. Saya ditertawakan seorang teman saat menayakan siapa sih Super Junior itu. Maklumlah untuk seorang ibu dengan empat orang anak dan berstatus sebagai pengacara (pengangguran banyak acara), menonton televisi adalah sebuah kegiatan yang sangat langka dan mahal.
Ternyata, SJ adalah sebuah grup boyband dari Seoul, Korea Selatan yang berjumlah 13 orang lebih dikenal dengan istilah SuJu. Musik Super Junior termasuk dalam kategori arus utama pop Korea. Dimodifikasi dengan lagu dan tari pop serta rap. Gaya tarian mereka secara luas disebut sebagai jalan menari, dengan mayoritas dari mereka yang berisi koreografi tari hip hop seperti meletuskan bergerak, melambai, geser, dan cair menari. Super Junior dikenal paling baik menjadi seorang muda, energik,dan kelompok humor.
Melihat antusiasme para remaja dan ABG di Indonesia saat menjelang konsernya, membuat saya sangat prihatin. Harga tanda masuk sangat mahal. Dikabarkan, bahwa demi untuk melihat pertunjukan Super Junior (SuJu), remaja rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Seluruh tiket yang disediakan panitia habis. Mulai kelas junior sky Rp 500 ribu, super sky Rp 1 juta, junior VIP Rp 1,4 juta, super box Rp 1,7 juta, hingga termahal super VIP Rp 2 juta. Bahkan, mereka rela antre sejak sehari sebelum loket tiket dibuka pukul 08.00 pada 7/4/2012. Karena kelelahan, 12 remaja pingsan saat mengantre. Kacaunya antrean dan fisik yang lemah adalah penyebabnya. Mereka antre mulai dini hari dan belum makan.
Remaja dan ABG memiliki seorang idola adalah hal yang wajar dan biasa. Tetapi kalau seorang idola sudah dijadikan seorang suri tauladan yaitu seseorang yang diteladani tingkah laku dan perbuatannya, maka nilai sebuah keteladanan sudah bergeser ke arah hal yang tidak pantas. Sang idola dijadikan kiblat berpakaian, model rambut, asesoris, gaya hidup dan tingkah laku para penggemar. Remaja dan ABG yang tidak mengikuti trendsetter dianggap sebagai remaja dan ABG kuper dan kolot.
Remaja dan ABG yang rela antri sejak dini hari demi selembar tiket, apakah dalam kesehariannya rela bangun dini hari untuk melaksanakan shalat malam. Apakah dana yang dikeluarkan untuk membayar selembar tiket sama dengan dana yang ia keluarkan untuk bersedekah dan berinfak. Apakah waktu yang dihabiskan untuk menunggu pintu Gedung Konser, ia tidak melupakan waktu shalat. Apakah banyak lagu-lagu yang dihafal dari album SuJu, sebanding dengan jumlah hafalan surat-surat dalam Alqur’an.
Semoga saja para remaja dan ABG yang sedang mencari identitas dirinya menemukan sebuah figur keteladanan yang akan menyelamatkannya di dunia dan di akherat.
Semoga saja para remaja dan ABG menjadi sebuah generasi yang dapat mewarisi tongkat estafet kepemimpinan bangsa yang berakhlak mulia dan sesuai dengan seorang suri tan tauladan terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW.

Antara Hari Kartini dan RUU KKG

Sudah satu minggu Bu Yani disibukan dengan mencari kostum.Kostum yang dicari bukan konsum untuk konser atau bukan juga kostum untuk pesta. Kostum yang dicairnya adalah sepasang baju yang akan dikenakan putrinya dalam menyambut Hari Kartini 21 April. Putrinya akan memakai kostum yang sesuai dengan tema peringatan Hari Kartni di sekolah taman kanak-kanaknya, memakai baju tradisional yakni kebaya.
Ingat hari kartini, terbayanglah seorang perempuan muda anggun, cantik, memakai konde, memakai baju kebaya, riasan mukanya sederhana dan wajahnya memancarkan kesedihan bahkan tatapan matanya terkesan kosong. Beliaulah Ibu Kartini yang lahir di Jepara, 21 April 19879 sebagai anak dari sebuah keluarga bangsawan.
Dalam salah satu buku tentang perjuangan RA Kartini berjudul RA Kartini, Riwayat dan Perjuangannya (1985) yang ditulis oleh Mardanas Safwan, keberhasilan Kartini mencapai cita-cita luhurnya tidak serta merta didapatkan begitu saja, tapi melewati perjalanan panjang penuh liku. Setelah tamat sekolah dasar, oleh orang tuanya Kartini tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini sudah dipingit di usia 12 tahun. Saat itu, hidupnya berubah kesepian, ibarat burung dalam sangkar emas. Keluarganya yang memegang teguh adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini yang menghendaki adanya perubahan.
Dalam kesunyian dan kesendiriannya, Kartini tak lantas menyesali diri. Bahkan ketika banyak celaan yang ditujukkan kepadanya karena dianggap sebagai penentang adat dan tradisi, semangat Kartini justru menggelora. Selama menuju proses perubahan, Kartini mencurahkan cita-cita perjuangannya dalam bentuk surat.
Kartini rajin menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Ny. Abendanon, Nn. Stella Zeehandelaar, Ny Marie Ovink Soer, Ir. H. H. Van Kol, Ny. Nellie dan Dr Adriani, Isinya, tentang keinginannya untuk mengangkat derajat wanita Indonesia. Dia ingin agar wanita Indonesia setara dengan pria, memiliki hak bukan hanya kewajiban, dan juga bisa sejajar dengan wanita-wanita dari negara lain. Berkat kegigihannya yang tak henti, pada 1903 didirikanlah Sekolah Kartini. Sebuah bukti bahwa dalam situasi apa pun Kartini tetap menemukan cinta dan semangat.
Pakar sejarah Ahmad Mansur Suryanegara tentang sosok Kartini. Dalam bukunya yang fenomenal, Api Sejarah, Ahmad Mansur menulis :
“Dari surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata R.A Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi dan westernisasi. Dari surat-surat R.A. Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah waktu itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa Indonesia. Sebaliknya, Kristen dinilai merendahkan derajat bangsa karena para gerejawannya memihak kepada politik imperialisme dan kapitalisme.”
Kepada E.C. Abandenon, Kartini menulis surat yang berisi penolakannya terhadap misi kristenisasi: “Zending Protestan jangan bekerjasama dengan mengibarkan panji-panji agama. Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani. Hal ini akan membuat Zending memandang Islam sebagai musuhnya. Dampaknya, semua agama akan memusuhi Zending.”
Di bagian lain Kartini menulis, “orang Islam umumnya memandang rendah kepada orang yang tadinya seagama dengan dia, lalu melepaskan keyakinannya sendiri memeluk agama lain.” Kenapa?, “karena yang dipeluknya agama orang Belanda, sangkanya dia sama tinggi derajatnya dengan orang Belanda.”
Sebuah opini yang lugas bahwa kristenisasi berjalin erat dengan westernisasi dan penanaman nilai-nilai yang memandang rendah bangsa sendiri dan memandang tinggi bangsa penjajah. Masih menurut Ahmad Mansur, Kartini memiliki sikap demikian setelah memperoleh dan membaca tafsir Al-Qur’an. Kekagumannya pada Qur’an ia tulis dalam suratnya kepada E.C. Abandenon : “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami.” Qur’an ia sebut dengan “gunung kekayaan”.
Kalau selama ini Kartini hanya dikaitkan dengan emansipasi, emansipasi dalam arti kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, apakah perempuan yang mengusung kesetaraan dengan laki-laki memahami bahwa ada tugas dan peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Seperti kewajiban untuk mencari nafkah keluarga adalah ada di pundak laki-laki sedangkan bila perempuan bekerja bukanlah sebuah kewajiban melainkan hanya membantu dan tentu saja atas seijin dari suaminya. Fitrah seorang perempuan hamil, melahirkan dan menyusui adalah sesuai dengan kodrat alamiah yang harus dijalankan oleh seorang perempuan.
RUU kesetaraan gender yang sedang hangat dibicarakan, banyak menuai protes dan kritikan dari berbagai kalangan. Makna kesetaraan dan keadilan dalam RUU KKG, terutama dalam Pasal 1, 2, dan 3 memiliki pertentangan dalam ajaran Islam. Sebab dalam Islam, pemaknaan hal tersebut tidaklah berarti persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam semua hal. Di bagian lain, RUU KKG pasal 4 menurutnya memberikan gambaran yang keliru tentang kemajuan dan peran perempuan dalam pembangunan.
Sehingga ini memaksakan keterlibatan perempuan di dalam ruang publik, di semua lembaga pemerintah dan non pemerintah, dan mengucilkan makna peran perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak-anak di rumah. Tapi malah RUU KKG masuk materi pengajaran dan tidak lagi memperjuangkan diskriminasi terhadap perempuan.
Semoga RUU KKG bisa memperjuangkan perempuan…………

Jumat, 27 April 2012

Ummi, Teteh Bosan Shalat


Ummi….Teteh gak mau shalat, Teteh bosen shalat lagi shalat lagi.  Teman Teteh juga kalau datang waktu shalat gak disuruh-suruh sama umminya shalat.
Ummi….Teteh gak mau makan, bosen makan, makannya itu lagi-itu lagi.  Teman Teteh juga kalau makan sama yang enak-enak terus.
Ummi….Teteh gak mau mandi sore, bosen mandi terus nanti juga bau lagi.  Teman Teteh juga mandinya hanya sekali saja kalau mau berangkat sekolah.
Ummi….Teteh gak mau rapikan mainan, bosen rapikan nanti juga dimainin lagi.  Teman Teteh juga kalau habis main berantakan.
Ummi…..Teteh gak mau belajar malam, bosen belajar terus kan sudah tadi di sekolah.  Teman Teteh belajarnya kalau mau ulangan saja.
Ummi….Teteh gak mau ngaji setelah magrib, bosen ngaji kan sudah ngaji di sekolah.  Teman Teteh juga ngajinya di sekolah saja.
            Hampir setiap hari Bu Iis mendengar kalimat diatas dari putri keduanya, Ria yang berumur 8 tahun.  Ria anak yang pintar di sekolahnya.  Ria sangat senang bermain peran, menari dan nonton film kartun. Bu Iis merasa kebingungan menghadapi tingkah laku Ria.  Semenjak usianya menginjak 8 tahun, sebulan yang lalu, bila disuruh melakukan sesuatu pasti banyak membantah.  Selama ini Bu Iis selalu mencoba untuk membujuk dengan kata-kata yang halus, mengimingi dengan hadiah bila telah melakukan sebuah perbuatan baik sampai suaranya agak meninggi.  Tetap saja Ria sangat sulit untuk mematuhi perintah Bu Iis.
            Bu Iis dengan belaian kasih sayangnya, membawa Ria jalan-jalan.  Jalan-jalan ke pasar terdekat tidak melalui jalur angkutan seperti biasa tetapi melewati jalur kebun dan pematang sawah yang jalannya terjal, licin dan berliku. Dengan wajah cemberut Ria merajuk agar kembali ke jalur angkutan agar lebih cepat sampai, tidak kelelahan.  Bu Iis membujuk Ria dengan mengajak bernyanyi dan bercerita.  Sampailah akhirnya di pasar. Di pasar Ria segera menyerbu tukang batagor dan es kelapa muda kesukaannya.  Sambil menikmati sepiring batagor kuah yang masih panas, Bu Iis bertanya, “Setelah perjalanan yang melelahkan, menuruni kebun, melewati pematang sawah yang licin, lalu jalan menanjak ketika sampai pasar langsung menikmati batagor, bagaimana perasaan Ria?” Ria menjawab, “Hilang letih dan capenya saat ketemu makanan dan minuman kesukaan Ria,” Bu Iis. “Begitu pun dengan Ria, setelah bersusah payah belajar, bersungguh-sungguh mengaji, merasakan capenya merapikan mainan, mandi dan makan teratur suatu saat pasti akan memberikan kebahagian.  Bila rajin belajar, insyaAllah akan mendapatkan prestasi yang bagus.  Bila rajin shalat dan mengaji, insyaAllah akan disayangi Allah.  Bila teratur mandi dan makan, makan badan kita akan sehat dan terhindar dari penyakit.”
            Sebagai manusia, kita hanya berkewajiban memaksimalkan ikhtiar, mengoptimalkan berdoa, selanjutnya bertawakal.  Permintaan kita dikabulkan atau tidak  oleh Allah adalah hak preogratif Allah.  Anak hanyalah sebuah amanah atau titipan Allah. Suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban akan amanah yang selama ini Ia titipkan.  Merawat dan mendidik anak sangat perlu ilmu.  Ilmu tentang pendidikan anak harus selalu bertambah sesuai dengan bertambahnya usia anak.

Sabtu, 21 April 2012

Industri Penyiaran Sayangi Anak Yuuuk


“Banyak konten siaran TV dan radio yang tidak memberikan rasa keadilan bagi semua dan tidak layak ditonton anak-anak karena mengandung unsur kekerasan, seksualitas, dan bertentangan dengan norma sosial dan agama,” kata Wakil Ketua Fraksi PKS, Almuzammil Yusuf, kepada Republika, Jumat (13/4). Saya sangat setuju sekali dengan pernyataan di atas. Pagi hari saat mempersiapkan perbekalan anak-anak sekolah, bila diamati tayangan televisi mereka sudah menyuguhkan siaran yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak. Walaupun sedang ditayangkan film kartun anak tetapi banyak adegan kekerasan yang ditampilkan belum lagi sisipan iklan lagu dangdut dan iklan konsumtif yang sasarannya adalah anak-anak.
Saya sangat bersyukur saat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengeluarkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) 2012 yang mengikat bagi semua industri penyiaran. Kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan jaminan perlindungan bagi masyarakat dan mengatur persaingan industri penyiaran yang sehat. Masyarakat diharapkan menjadi penonton yang cerdas dan berperan aktif menyampaikan pengaduan isi siaran TV dan radio yang tidak mendidik kepada KPI. Masyarakat bisa mengadukan penyimpangan isi penyiaran ke Call Center KPI 021 6340 626 atau SMS ke 0812 130 70000. Industri penyiaran harus mentaati dan menghormati P3SPS yang secara resmi dikeluarkan KPI yang mengikat untuk semua industri penyiaran. Bila industri penyiaran punya kritik dan masukan bisa disampaikan dan didialogkan kepada KPI sebagai bahan pertimbangan.
Semoga dengan keluarnya P3SPS ini menjadikan sebuah ‘cambukan’ bagi industri penyiaran agar menayangkan siaran yang mengedepankan nilai, moral luhur orang Indonesia. Industri penyiaran memproduksi siaran yang tidak hanya mengedepankan keuntungan ekonomi semata tetapi memikirkan juga masa depan anak-anak dimasa mendatang. Anak-anak perlu mendapatkan tayangan yang berisi panduan menghormati orang tua, guru, sesama, tayangan yang memberi contoh untuk tidak mencintai dunia secara berlebihan sehingga sejak dini sudah diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan.
Sudah beberapa bulan tayangan televisi di rumah saya memakai televisi langganan. Hal ini saya lakukan agar meminimalisir kerugian akibat tontonan yang dilihat anak saat saya dan suami tidak ada dirumah. Luar biasa sekali tayangan televisi anak luar negeri bila dibandingkan dengan tayangan anak dalam negeri. Tayangan untuk anak di saluran anak sangat mendidik anak untuk berbagi, mengasihi, belajar untuk mandiri dan hal-hal mendasar lain yang diperlukan anak dalam tumbuh kembangnya.
Semoga bisa lahir tayangan yang peduli pada anak-anak, generasi penerus bangsa

Minggu, 15 April 2012

Children Learn What They Live (Dorothy Law Nolte)

If a child lives with criticism, he learns to condemn
If a child lives with hostility, he  learns to fight
If a child lives with ridicule, he learns to be shy
If a child lives with shame, he learns to feel  guilty
If a chlild lives with tolerance, he learns to be patient
If a child lives with encouragement, he learns to be confident
If a child lives with praise, he learns to appreciate
If a child lives with fairness, he learns justice
If a child lives with security, he learns to have faith
If a child lives with approval, he learns to like himself
If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world

Anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan denga cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan. Ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Jumat, 13 April 2012

Tontonan Mencerminkan Karakter Bangsa

Bila Anda ingin mengetahui karakter suatu masyarakat di suatu bangsa, sangatlah mudah. Coba perhatikan tontonan apa yang menjadi favorit, bacaan apa yang sering dibaca, media apa yang digunakan untuk menambah dan pengetahuannya.
Menurut James Curran dan Michael Gurevitch dalam bukunya Media and Society, ada tiga revolusi dalam komunikasi. Yang pertama, media adalah sangat besar pengaruhnya pada masyarakat. Yang kedua media merupaka cerminan dari keadaan masyarakat. Yang ketiga, media hadir sebagai refleksi dan efek permintaan masyarakat.
Masyarakat Indonesia, khususnya kaum wanita sangat menyukai tayangan sinetron dan infotainment. Tayangan sinetron yang menggambarkan kekayaan, kemewahan, sarana yang serba mudah menjadi tontonan populer di kalanga masyarakat menengah ke bawah. menonton sinetron sepertinya menjadi obat atas kesengsaraan, kesulitan yang dialami dalam kehidupan nyata penonton. Sejenak terlupakan masalah mahalnya beras, melambungnya harga susu, sulitnya mendapatkan pekerjaan, pusing mencari pekerjaan baru setelah di PHK, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, deritanya seolah lenyap sesaat kala sinetron membuai pikiran dan angannya.
Bagi penonton remaja, sinetron menjadikan pusat mode terkini, gaya hidup yang semakin metropolis, pergaulan bebas yang tidak lagi mengenal norma dan nilai timur, asesoris teknologi yang begitu hebat. Pemeran sinetron menjadi rujukan trendsetter anak remaja. Ya bila orang tuanya mampu untuk membelikan apa yang remaja minta, bila tidak diimbangi keimanan yang kuat, remaja akan terjerumus melakukan perbuatan tidak pantas untuk sekedar melampiaskan keinginan untuk disebut remaja gaul di mata teman-temannya.
Disinilah peran semua pihak agar moral anak bangsa, moral masyarakat pada umumnya tidak menjadi berubah ke arah yang lebih negatif akibat banyaknya tayangan yang kurang bertanggung jawab terhadap kerusakan moral remaja dan angan-angan tinggi bagi masyarakat yang menginginkan kesejahteraan.

Pers Indonesia Kebablasan?

“Dalam era demokrasi dan keterbukaan media, pers Indonesia menduduki peringkat paling tinggi di Asia. Bahkan, di negara maju, seperti Amerika dan Australia dalam pemberitaan di media masih ada batas-batas tertentu. Dengan kebebasan pers, media, baik cetak maupun elektronik bisa menjaga nilai-nilai demokratis” Kalimat di atas adalah kutipan Menkominfo Tifatul Sembiring di Nusa Dua, Bali, hari Rabu tanggal 11 April 2012, seusai menghadiri acara Pembukaan ‘Publish Asia 2012’ yang digelar World Association of Newspaper and News Publishers (WANIFRA).
Sejak memasuki era reformasi, pers Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Saat ini pers Indonesia dinilai sebagai pers yang paling terbuka di Asia. Bisnis media di Indonesia membuka banyak peluang kerja bagi banyak pencari kerja. Media yang menjamur di Indonesia khususnya media cetak, memberikan pilihan kepada masyarakat untuk memilih media yag sesuai dengan kebutuhan informasi dan sesuai dengan kemudahan mendapatkan media. Hal ini membuat media cetak saling bersaing untuk menarik minat khalayak untuk menjadikan medianya sebagai media cetak rujukan atau referensi. Berbagai media cetak banyak yang memfokuskan memberitakan informasi khusus seperti majalah anak, majalah perempuan, majalah politik, majalah pertanian, majalah remaja, majalah laki-laki agar lebih memudahkan mencari khalayak yang sudah tersegmentasi dengan informasi yang disesuaikan dengan tingkat usia dan kepentingan.
Fungsi media komunikasi yang berteknologi tinggi ialah sebagai berikut (Burgon & Huffner, 2002) :
1. Untuk penyebaran informasi/to information; dengan adanya media komunikasi terlebih yang hi-tech akan lebih membuat penyebaran informasi menjadi efisien. Efisiensi yang dimaksudkan di sini ialah penghematan dalam biaya, tenaga, pemikiran dan waktu. Misalnya, kita memberikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri atau Natal cukup melalui SMS, MMS, e-mail, mailist dan media canggih lainnya. Hal ini lebih disukai karena nilai praktisnya jika dibandingkan dengan mengirimkan kartu lebaran atau kartu Natal dengan waktu yang lebih lama.
2. Untuk Mendidik/ to educate, media komunikasi yang berteknologi tinggi dapat mendidik khalayak.
3. Menghibur/ to entertain, media komunikasi berteknologi tinggi tentunya lebih menyenangkan (bagi yang familiar) dan dapat memberikan hiburan tersendiri bagi khalayak. Bahkan jika komunikasi itu bersifat hi-tech maka nilai jualnya pun akan semakin tinggi. Misalnya, presentasi seorang marketing akan lebih mempunyai nilai jual yang tinggi jika menggunakan media komunikasi hi-tech daripada presentasi yang hanya sekedar menggunakan metode konvensional.
4. Kontrol sosial; media komunikasi yang berteknologi tinggi akan lebih mempunyai fungsi pengawasan terhadap kebijakan sosial. Seperti misalnya, informasi yang disampaikan melalui TV dan internet akan lebih mempunyai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah sehingga pemerintah menjadi cepat tanggap terhadap dampak kebijakan tersebut. Masih ingat kasus facebookers pendukung Bibit & Chandra?
5. Untuk mengajak atau to persuate, media berfungsi untuk mengajak dan mempengaruhi khalayak agar bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan pemberi informasi. Misalnya, bagaimana mencegah terinfeksi virus Flu Burung dengan mencuci tanga dengan sabun setelah memegang unggas peliharaan.
Mencermati isi media yang berkembang di Indonesia, misalnya media cetak, informasi yang disampaikan seharusnya memberikan informasi yang tidak membuat khalayak pembaca gelisah. Seperti pemberitaan tentang perampokan, pemerkosaan digambarkan secara detail prosesnya dan seolah-olah mengajarkan pembaca bagaimana cara untuk merampok. Efek media yang paling berpengaruh terhadap masyarakat adalah teori peluru, dimana media ‘menembakan’ informasi pada khalayak dan khalayak terkena peluru tersebut dengan menerima begitu saja ‘tembakan’ informasi yang diberikan media.
Saya sebagai seorang warga negara, sebagai masyarakat, sebagai guru, sebagai orang tua sangat merindukan hadirnya media cetak, media televisi, media online, media audio yang mengutamakan norma dan nilai sebagai bangsa Timur yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, mengedepankan akhlak yang tinggi dan luhur. Media yang menjadi panutan, contoh untuk generasi muda yang akan member arahan bagaimana seharusnya generasi muda menjadi generasi yang tangguh dan siap menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Media yang membuat masyarakat tenang dan aman saat membaca informasi, media yang menginformasikan peluang peningkatan pemberdayaan masyarakat yang berbasis komunitas masyarakat dan berpihak pada rakyat.
Semoga……………

Rabu, 11 April 2012

Facebook merupakan Salah Satu Bagian Cybercommunity

Suatu hari anak saya yang berusia 10 menanyakan bagaimana membuat akun facebook. Pertanyaan yang mungkin diterima oleh semua orang tua dari anak yang mulai menginjak usia remaja. Saya mengajaknya melihat akun facebook saya, yang selama ini produktif untuk sarana berjualan. Saya terangkan manfaat akun facebook, diantaranya mencari teman yag sudah lama tidak bertemu, menjalin silaturahim dan mencari teman baru atau saya istilahkan jejaring sosial layaknya sarang laba-laba dalam dunia maya.
Saya pastikan setiap orang yang memiliki telepon genggam memiliki akun facebook. Kemudahan yang ditawarkan saat membuat akun ini, menjadikan setiap orang mudah membuat akun facebook pribadi.
Mengutip laporan dari Check Facebook, pada 9 November 2009, Amerika Serikat, Inggris, Turki, Perancis, Kanada, Italia, Indonesia, Spanyol, Australia, dan Filipina menempati urutan negara-negara yang memiliki pengguna Facebook terbanyak. Indonesia sendiri bertengger di urutan ke-7, dengan jumlah pengguna 11.759.980 atau mendekati angka 12 juta orang. Sebanyak 47,04%-nya merupakan pengguna aktif.  Situs tersebut juga melansir pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia yang mencapai 6,84%, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penambahan jumlah user tertinggi. Secara keseluruhan jumlah pengguna situs yang dibidani oleh Mark Zuckerberg sejak dua tahun lalu (2007) sudah menembus 325 juta orang. Banyak yang tercengang akan besarnya jumlah pemilik akun Facebook di Tanah Air. Angkanya tidak terpaut jauh dengan jumlah pengguna Facebook di negara-negara seperti Italia, Perancis, Kanada, dan Australia. Padahal infrastruktur dan kepemilikan teknologi secara individu di Indonesia tak sebaik dan semasal dibandingkan negara-negara ekonomi maju. Sangat mungkin pendapatan global Facebook akan semakin menggembung dengan kontribusi signifikan dari kawasan Asia, khususnya Indonesia. Setidaknya dari 40.04% atau kurang lebih 5 juta pengguna aktif dari total pemilik akun Facebook di Indonesia akan menjadi target pasar bagi produk-produk yang dipasarkan oleh individu, usaha kecil menengah, serta korporasi dalam negeri.

Dalam sebuah survei dipaparkan tiga besar rentang umur para facebookers di Indonesia berturut-turut berada pada kisaran 18-24 tahun, 25-34 tahun, dan 14-17 tahun. Bila dilihat dari data tadi, sebagian besar pengguna Facebook memiliki tingkat konsumtif yang rendah karena banyak dari mereka masih berstatus pelajar atau belum berpenghasilan.  Kegiatan mereka murni sekadar have fun, bila pun mereka sempat melihat iklan yang terpampang di halaman Facebooknya, kecil kemungkinan untuk mengetahuinya lebih lanjut.  Akan tetapi, bukan berarti pula kategori umur tadi menjadi tidak potensial sama sekali. Di sinilah diperlukan ketajaman intuisi bisnis seorang pengiklan untuk melihat kebutuhan dan menangkap peluang pasar. Salah satu indikatornya adalah segmen umur.
Masyarakat maya membangun dirinya dengan sepenuhnya mengandalkan interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan kelompok intra dan sesama anggota masyarakat maya(cybercommunity). Kemajuan teknologi manusia, khususnya teknologi informasi secara sadar membuka ruang kehidupan manusia semakin luas, semakin tanpa batas dengan indikasi manusia sebagai khalifah di planet bumi dan galaksinya. Kemajuan teknologi mengubah dunia maya yang terdiri dari berbagai macam gelombang magnetik dan gelombang radio, serta sifat kematerian yang belum ditemukan manusia sebagai ruang kehidupan baru yang sangat prospektif bagi aktiitas manusia yang memiliki nilai efisiensi yang tinggi. Terlebih ketika akal manusia sebagai anugerah tertinggi dari Allah SWT secara pasti dari waktu ke waktu dapat membuka misteri pengetahuan, sehingga manusia dapat menikmati teknologi informasi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.

Kekuasaan Laki-laki atas Perempuan di Media

Saat koran harian pagi datang, saya langsung membaca headline dan beberapa liputan yang sedang aktual dan saya memang sedang menanti suatu berita. Berita lainnya saya baca bila ada waktu luang. Saya tidak pernah membaca rubrik olahraga. Berita olahraga sepak bola sangat mendominasi rubrik olahraga. Sebagai perempuan saya tidak tertarik dengan pemberitaan seputar sepak bola. Apa tidak ada olahraga lain di negeri ini yang layak diberitakan selain dominasi sepak bola.
Bila dilihat dari struktur muatan pemberitaan media massa pada umumnya belum berimbang merespons kepentingan kaum perempuan. Pemberitaan media massa umumnya memberitakan ruang publik laki-laki. Mulai dari persoalan negara, politik, militer, olahraga, pemerintahan lokal sampai dengan berbagai wacana publik laki-laki lainnya. Namun ketika ada pemberitaan masalah perempuan, sorotan domestic rumah tangga seperti keterampilan rumah tangga, pengasuhan anak, kosmetika dan kecantikan, terkecuali ketika ada tokoh publik perempuan, baru menjadi berita utama, itu pun terkesan tidak menjadi agenda setting media pada hari itu, karena berita utama tersebut tidak diikuti oleh pemberitaan atau tulisan lain di bagian lain pemberitaan hari itu.
Dari sisi pemaknaan, pemberitaan media massa, juga tidak seimbang antara pemaknaan ruang publik laki-laki dan ruang publik perempuan. Ketika pemberitaan media massa menyangkut persoalan laki-laki, maka media massa menyorotinya sebagai”pahlawan” publik yang menjadi pahlawan karena masyarakat membutuhkan mereka. Tetapi saat sorotan media massa pada persoalan perempuan, terkesan maknanya sebagai pelengkap pemberitaan hari itu. Masalah menjadi serius saat pemberitaan media massa menyangkut sisi-sisi “aurat perempuan”, makna pemberitaannya justru menjadi konsumsi laki-laki, seperti kasus pemakaian rok mini di DPR, maka disitu terkesan bahwa perempuan sedang dieksploitasi sebagai ketidakadilan terhadap perempuan.
Model pemberitaan media massa yang didominasi laki-laki menunjukkan media massa merekonstruksi realitas dalam kehidupan sosial dimana laki-laki lebih banyak mendominasi ruang publik masyarakat. Ruang publik perempuan di media massa adalah bagian dari kerelaan kekuasaan laki-laki.

Senin, 09 April 2012

Negeri 5 Menara 'The Dream Comes True'

Derai air mata dan isak tangis mengiringi alur cerita yang disajikan Film Negeri 5 Menara.
Aku teringat masa lalu. Saat duduk di kelas 3 SLTP di sebuah kota kecamatan, aku bercita-cita masuk pesantren. Disaat teman-temanku berencana masuk ke SLTA favorit di ibukota kabupaten, pilihanku tak tergoyahkan. Waktu itu, aku merasa kalau hidup di pesantren akan lebih dekat mengenal Allah dan kelak ilmuku akan kugunakan untuk membangun desaku yang terpencil. Namun, guru-guru di sekolah menyarankan aku meneruskan ke SLTA karena peluang untuk masuk perguruan tinggi sangat terbuka lebar. Terlebih saat itu aku juara kelas. Halangan juga datang ayahku. Ayahku berpendapat bahwa pesantren hanya ngaji dan ngaji, sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dan ayah tidak memiliki biaya yang cukup untuk memasukkanku kesana.
Saat melihat peran Alif, yang menginginkan melanjutkan SLTA di Bandung dan kuliah di ITB, aku berandai menjadi Alif. Duh kalau saja kita bisa bertukar peran. Bahagianya memiliki ayah dan ibu yang menginginkan anaknya sekolah di pesantren dan kelak jadi anak yang berguna untuk agamanya. Aku sekolah di tempat yang Alif harapkan dan alif sekolah di tempat yang aku harapkan. Latar belakang kehidupan kami sama yakni tinggal di sebuah desa dengan memiliki impian yang sama, yaitu merantau untuk meraih cita-cita.
Rasanya kerinduanku akan menikmati suasana sekolah di pesantren terobati dengan melihat Film N5M. Aku rasanya kembali ke tahun 1993, saat aku bersedih niatku tidak kesampaian masuk ke pesantren, sama dengan peran Alif yang pada awalnya bersedih saat menerima keputusan ama dan ayahnya untuk masuk ke pondok madani.
Kini aku sebagai seorang ibu yang memiliki impian yang sama dengan Ama Alif. Aku berharap ada anak-anakku yang memiliki cita-cita dan keinginan seperti aku saat aku sekolah di SLTP. Aku mendiskusikan dengan anakku yang pertama yang duduk di kelas 4 SD. Ternyata ia ingin sekolah dimana Alif sekolah. InsyaAllah
Film ini luar biasa dalam alur ceritanya karena mengangkat sebuah realita kehidupan masyarakat pada umumnya, yang jauh dari kesan kemewahan dan materialistis. Didukung dengan pencahayaan yang modern dan music klasikal yang sepadan dengan cerita.
Bagi yang sudah membaca novelnya, akan semakin lengkap mengetahui kedalaman cerita bila melihat langsung Film N5M.
Akhir yang happy ending memberikan kesan bahwa bila hidup dijalani dengan ridho orang tua, insyaAllah dunia ini akan mengikuti setiap langkah kehidupan