Setiap hari Senin pagi, sebelum saya berangkat kuliah, saya selalu mendapat pertanyaan yang sama dari Bang Faruq, anak saya yang ketiga berusia 5 tahun. “Ummi,
nanti pulang jam berapa?””Ummi kuliahnya hari apa saja?” Jangan lupa
oleh-olehnya ya.” Sambil saya mengelus kepalanya, saya menjawab, “Ummi
sampai rumah jam 5 insyaAllah, ummi hanya 3 hari kuliahnya, hari Senin,
Selasa dan Rabu. Hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu ada di rumah. InsyaAllah nanti ummi belikan oleh-oleh ya.” Setelah saya mengantarnya ke sekolah, saya berangkat ke kampus.
Awal pagi yang sangat indah yang saya rasakan di saat anak paham terhadap kegiatan ibunya di luar rumah. Menjadi
sebuah memori dalam salah satu bagian kehidupan saya, yang di sisi lain
harus tetap menjaga dan merawat anak-anak dan di sisi lain harus selalu
meningkatkan kualitas ilmu sebagai seorang hamba Allah. Dengan harapan ilmu yang diperoleh memberikan manfaat untuk kelurga, bangsa dan umat manusia.
Sebagai
seorang ibu dengan 4 anak, memiliki aktifitas yang banyak adalah sebuah
tantangan dan menjadi lahan untuk mendapatkan pahala. Dukungan suami, anak-anak dan keluarga besar menjadi energi yang luar biasa dalam menjalani semua aktifitas harian. Sejak
dini anak-anak diajak untuk berdiskusi tentang kegiatan ibunya diluar
rumah, apa yang mereka inginkan terhadap ibunya, selama ibunya diluar
rumah apa yang bisa dilakukan di rumah. Dengan mendengarkan aspirasi mereka, insyaAllah kesulitan yang akan dihadapi akan mendapatkan jalan keluarnya. Dipahamkan kepada anak-anak bahwa ibunya selain milik anak-anak dan keluarga, adalah milik umat juga. Ibunya diperlukan di masyarakat untuk membantu memberdayakan masyarakat terutama ibu-ibu demi majunya negeri ini di masa depan.
Anak-anak sangat menantikan kedatangan kita. Buktinya adalah saat terlambat 5 menit saja, mereka langsung protes, katanya pulang jam 5 kenapa datangnya lebih dari jam 5. Mereka
sangat menantikan kedatangan kita dengan oleh-oleh yang dijanjikan dan
lebih dari itu kehadiran kita di tengah mereka akan membuat mereka lebih
tenang dan nyaman. Janji yang telah kita berikan pada
anak-anak sesaat sebelum berangkat adalah menjadi utang untuk dilunasi,
jangan sampai melupakannya. Mereka akan merasa sedih sekali karena merasa permintaannya diabaikan.
Banyak ibu yang memiliki pekerjaan dan karir berdalih bahwa kualitas pertemuan adalah lebih baik daripada kuantitas pertemuan. Bagaimana menuntut kualitas bila kuantitas pertemuannya sedikit. Alangkah lebih baik diseimbangkan antara kuantitas dan kualitas pendampingan anak di rumah. Anak sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tuanya dibandingkan pengasuhnya. Seringkali
orang tua sudah merasa tenang meninggalkan anak dengan memberikannya
banyak fasilitas permainan elektronik padahal anak tidak memerlukannya.
Mendidik dan merawat anak tidak ada akhirnya. Diperlukan peningkatan ilmu tentang bagaimana mendidik dan merawat anak sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Jangan sampai anak-anak tumbuh besar, sedangkan ilmu yang dimiliki orang tua tentang anak tidak mengikuti tumbuh kembang anak. Ayo
Bunda baca buku-buku yang sesuai dengan usia anak, ikut seminar
parenting dan selalu jadikan anak kita mitra dalam berkeluarga. Anak adalah cerminan orang tua. Jangan jadikan anak sebagai bawahan kita yang tidak berdaya. Ingatlah selalu bahwa orang tua hanya diamanahkan atau dititipkan oleh Allah SWT untuk mendidik dan merawatnya. Suatu saat sang pemilik memintanya, insyaAllah amanahNya sudah kita rawat dan didik dengan sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar