Rabu, 11 April 2012

Kekuasaan Laki-laki atas Perempuan di Media

Saat koran harian pagi datang, saya langsung membaca headline dan beberapa liputan yang sedang aktual dan saya memang sedang menanti suatu berita. Berita lainnya saya baca bila ada waktu luang. Saya tidak pernah membaca rubrik olahraga. Berita olahraga sepak bola sangat mendominasi rubrik olahraga. Sebagai perempuan saya tidak tertarik dengan pemberitaan seputar sepak bola. Apa tidak ada olahraga lain di negeri ini yang layak diberitakan selain dominasi sepak bola.
Bila dilihat dari struktur muatan pemberitaan media massa pada umumnya belum berimbang merespons kepentingan kaum perempuan. Pemberitaan media massa umumnya memberitakan ruang publik laki-laki. Mulai dari persoalan negara, politik, militer, olahraga, pemerintahan lokal sampai dengan berbagai wacana publik laki-laki lainnya. Namun ketika ada pemberitaan masalah perempuan, sorotan domestic rumah tangga seperti keterampilan rumah tangga, pengasuhan anak, kosmetika dan kecantikan, terkecuali ketika ada tokoh publik perempuan, baru menjadi berita utama, itu pun terkesan tidak menjadi agenda setting media pada hari itu, karena berita utama tersebut tidak diikuti oleh pemberitaan atau tulisan lain di bagian lain pemberitaan hari itu.
Dari sisi pemaknaan, pemberitaan media massa, juga tidak seimbang antara pemaknaan ruang publik laki-laki dan ruang publik perempuan. Ketika pemberitaan media massa menyangkut persoalan laki-laki, maka media massa menyorotinya sebagai”pahlawan” publik yang menjadi pahlawan karena masyarakat membutuhkan mereka. Tetapi saat sorotan media massa pada persoalan perempuan, terkesan maknanya sebagai pelengkap pemberitaan hari itu. Masalah menjadi serius saat pemberitaan media massa menyangkut sisi-sisi “aurat perempuan”, makna pemberitaannya justru menjadi konsumsi laki-laki, seperti kasus pemakaian rok mini di DPR, maka disitu terkesan bahwa perempuan sedang dieksploitasi sebagai ketidakadilan terhadap perempuan.
Model pemberitaan media massa yang didominasi laki-laki menunjukkan media massa merekonstruksi realitas dalam kehidupan sosial dimana laki-laki lebih banyak mendominasi ruang publik masyarakat. Ruang publik perempuan di media massa adalah bagian dari kerelaan kekuasaan laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar