Bila dilihat dari struktur muatan pemberitaan media massa pada umumnya belum berimbang merespons kepentingan kaum perempuan. Pemberitaan media massa umumnya memberitakan ruang publik laki-laki. Mulai
dari persoalan negara, politik, militer, olahraga, pemerintahan lokal
sampai dengan berbagai wacana publik laki-laki lainnya. Namun
ketika ada pemberitaan masalah perempuan, sorotan domestic rumah tangga
seperti keterampilan rumah tangga, pengasuhan anak, kosmetika dan
kecantikan, terkecuali ketika ada tokoh publik perempuan, baru menjadi
berita utama, itu pun terkesan tidak menjadi agenda setting
media pada hari itu, karena berita utama tersebut tidak diikuti oleh
pemberitaan atau tulisan lain di bagian lain pemberitaan hari itu.
Dari
sisi pemaknaan, pemberitaan media massa, juga tidak seimbang antara
pemaknaan ruang publik laki-laki dan ruang publik perempuan. Ketika
pemberitaan media massa menyangkut persoalan laki-laki, maka media
massa menyorotinya sebagai”pahlawan” publik yang menjadi pahlawan karena
masyarakat membutuhkan mereka. Tetapi saat sorotan media massa pada persoalan perempuan, terkesan maknanya sebagai pelengkap pemberitaan hari itu. Masalah
menjadi serius saat pemberitaan media massa menyangkut sisi-sisi “aurat
perempuan”, makna pemberitaannya justru menjadi konsumsi laki-laki,
seperti kasus pemakaian rok mini di DPR, maka disitu terkesan bahwa
perempuan sedang dieksploitasi sebagai ketidakadilan terhadap perempuan.
Model
pemberitaan media massa yang didominasi laki-laki menunjukkan media
massa merekonstruksi realitas dalam kehidupan sosial dimana laki-laki
lebih banyak mendominasi ruang publik masyarakat. Ruang publik perempuan di media massa adalah bagian dari kerelaan kekuasaan laki-laki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar