Senin, 30 April 2012

Super Junior dan Krisis Keteladanan

Saya tahu namanya saat mengikuti sebuah presentasi. Nama yang belum pernah saya baca, belum pernah saya dengar dan belum pernah saya lihat. Nama itu adalah Super Junior. Saya ditertawakan seorang teman saat menayakan siapa sih Super Junior itu. Maklumlah untuk seorang ibu dengan empat orang anak dan berstatus sebagai pengacara (pengangguran banyak acara), menonton televisi adalah sebuah kegiatan yang sangat langka dan mahal.
Ternyata, SJ adalah sebuah grup boyband dari Seoul, Korea Selatan yang berjumlah 13 orang lebih dikenal dengan istilah SuJu. Musik Super Junior termasuk dalam kategori arus utama pop Korea. Dimodifikasi dengan lagu dan tari pop serta rap. Gaya tarian mereka secara luas disebut sebagai jalan menari, dengan mayoritas dari mereka yang berisi koreografi tari hip hop seperti meletuskan bergerak, melambai, geser, dan cair menari. Super Junior dikenal paling baik menjadi seorang muda, energik,dan kelompok humor.
Melihat antusiasme para remaja dan ABG di Indonesia saat menjelang konsernya, membuat saya sangat prihatin. Harga tanda masuk sangat mahal. Dikabarkan, bahwa demi untuk melihat pertunjukan Super Junior (SuJu), remaja rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Seluruh tiket yang disediakan panitia habis. Mulai kelas junior sky Rp 500 ribu, super sky Rp 1 juta, junior VIP Rp 1,4 juta, super box Rp 1,7 juta, hingga termahal super VIP Rp 2 juta. Bahkan, mereka rela antre sejak sehari sebelum loket tiket dibuka pukul 08.00 pada 7/4/2012. Karena kelelahan, 12 remaja pingsan saat mengantre. Kacaunya antrean dan fisik yang lemah adalah penyebabnya. Mereka antre mulai dini hari dan belum makan.
Remaja dan ABG memiliki seorang idola adalah hal yang wajar dan biasa. Tetapi kalau seorang idola sudah dijadikan seorang suri tauladan yaitu seseorang yang diteladani tingkah laku dan perbuatannya, maka nilai sebuah keteladanan sudah bergeser ke arah hal yang tidak pantas. Sang idola dijadikan kiblat berpakaian, model rambut, asesoris, gaya hidup dan tingkah laku para penggemar. Remaja dan ABG yang tidak mengikuti trendsetter dianggap sebagai remaja dan ABG kuper dan kolot.
Remaja dan ABG yang rela antri sejak dini hari demi selembar tiket, apakah dalam kesehariannya rela bangun dini hari untuk melaksanakan shalat malam. Apakah dana yang dikeluarkan untuk membayar selembar tiket sama dengan dana yang ia keluarkan untuk bersedekah dan berinfak. Apakah waktu yang dihabiskan untuk menunggu pintu Gedung Konser, ia tidak melupakan waktu shalat. Apakah banyak lagu-lagu yang dihafal dari album SuJu, sebanding dengan jumlah hafalan surat-surat dalam Alqur’an.
Semoga saja para remaja dan ABG yang sedang mencari identitas dirinya menemukan sebuah figur keteladanan yang akan menyelamatkannya di dunia dan di akherat.
Semoga saja para remaja dan ABG menjadi sebuah generasi yang dapat mewarisi tongkat estafet kepemimpinan bangsa yang berakhlak mulia dan sesuai dengan seorang suri tan tauladan terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar