Jumat, 27 April 2012

Ummi, Teteh Bosan Shalat


Ummi….Teteh gak mau shalat, Teteh bosen shalat lagi shalat lagi.  Teman Teteh juga kalau datang waktu shalat gak disuruh-suruh sama umminya shalat.
Ummi….Teteh gak mau makan, bosen makan, makannya itu lagi-itu lagi.  Teman Teteh juga kalau makan sama yang enak-enak terus.
Ummi….Teteh gak mau mandi sore, bosen mandi terus nanti juga bau lagi.  Teman Teteh juga mandinya hanya sekali saja kalau mau berangkat sekolah.
Ummi….Teteh gak mau rapikan mainan, bosen rapikan nanti juga dimainin lagi.  Teman Teteh juga kalau habis main berantakan.
Ummi…..Teteh gak mau belajar malam, bosen belajar terus kan sudah tadi di sekolah.  Teman Teteh belajarnya kalau mau ulangan saja.
Ummi….Teteh gak mau ngaji setelah magrib, bosen ngaji kan sudah ngaji di sekolah.  Teman Teteh juga ngajinya di sekolah saja.
            Hampir setiap hari Bu Iis mendengar kalimat diatas dari putri keduanya, Ria yang berumur 8 tahun.  Ria anak yang pintar di sekolahnya.  Ria sangat senang bermain peran, menari dan nonton film kartun. Bu Iis merasa kebingungan menghadapi tingkah laku Ria.  Semenjak usianya menginjak 8 tahun, sebulan yang lalu, bila disuruh melakukan sesuatu pasti banyak membantah.  Selama ini Bu Iis selalu mencoba untuk membujuk dengan kata-kata yang halus, mengimingi dengan hadiah bila telah melakukan sebuah perbuatan baik sampai suaranya agak meninggi.  Tetap saja Ria sangat sulit untuk mematuhi perintah Bu Iis.
            Bu Iis dengan belaian kasih sayangnya, membawa Ria jalan-jalan.  Jalan-jalan ke pasar terdekat tidak melalui jalur angkutan seperti biasa tetapi melewati jalur kebun dan pematang sawah yang jalannya terjal, licin dan berliku. Dengan wajah cemberut Ria merajuk agar kembali ke jalur angkutan agar lebih cepat sampai, tidak kelelahan.  Bu Iis membujuk Ria dengan mengajak bernyanyi dan bercerita.  Sampailah akhirnya di pasar. Di pasar Ria segera menyerbu tukang batagor dan es kelapa muda kesukaannya.  Sambil menikmati sepiring batagor kuah yang masih panas, Bu Iis bertanya, “Setelah perjalanan yang melelahkan, menuruni kebun, melewati pematang sawah yang licin, lalu jalan menanjak ketika sampai pasar langsung menikmati batagor, bagaimana perasaan Ria?” Ria menjawab, “Hilang letih dan capenya saat ketemu makanan dan minuman kesukaan Ria,” Bu Iis. “Begitu pun dengan Ria, setelah bersusah payah belajar, bersungguh-sungguh mengaji, merasakan capenya merapikan mainan, mandi dan makan teratur suatu saat pasti akan memberikan kebahagian.  Bila rajin belajar, insyaAllah akan mendapatkan prestasi yang bagus.  Bila rajin shalat dan mengaji, insyaAllah akan disayangi Allah.  Bila teratur mandi dan makan, makan badan kita akan sehat dan terhindar dari penyakit.”
            Sebagai manusia, kita hanya berkewajiban memaksimalkan ikhtiar, mengoptimalkan berdoa, selanjutnya bertawakal.  Permintaan kita dikabulkan atau tidak  oleh Allah adalah hak preogratif Allah.  Anak hanyalah sebuah amanah atau titipan Allah. Suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban akan amanah yang selama ini Ia titipkan.  Merawat dan mendidik anak sangat perlu ilmu.  Ilmu tentang pendidikan anak harus selalu bertambah sesuai dengan bertambahnya usia anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar