Ummi….Teteh gak mau
shalat, Teteh bosen shalat lagi shalat lagi.
Teman Teteh juga kalau datang waktu shalat gak disuruh-suruh sama
umminya shalat.
Ummi….Teteh gak mau
makan, bosen makan, makannya itu lagi-itu lagi.
Teman Teteh juga kalau makan sama yang enak-enak terus.
Ummi….Teteh gak mau
mandi sore, bosen mandi terus nanti juga bau lagi. Teman Teteh juga mandinya hanya sekali saja
kalau mau berangkat sekolah.
Ummi….Teteh gak mau
rapikan mainan, bosen rapikan nanti juga dimainin lagi. Teman Teteh juga kalau habis main berantakan.
Ummi…..Teteh gak mau
belajar malam, bosen belajar terus kan sudah tadi di sekolah. Teman Teteh belajarnya kalau mau ulangan
saja.
Ummi….Teteh gak mau
ngaji setelah magrib, bosen ngaji kan sudah ngaji di sekolah. Teman Teteh juga ngajinya di sekolah saja.
Hampir setiap hari Bu Iis mendengar
kalimat diatas dari putri keduanya, Ria yang berumur 8 tahun. Ria anak yang pintar di sekolahnya. Ria sangat senang bermain peran, menari dan
nonton film kartun. Bu Iis merasa kebingungan menghadapi tingkah laku Ria. Semenjak usianya menginjak 8 tahun, sebulan
yang lalu, bila disuruh melakukan sesuatu pasti banyak membantah. Selama ini Bu Iis selalu mencoba untuk
membujuk dengan kata-kata yang halus, mengimingi dengan hadiah bila telah
melakukan sebuah perbuatan baik sampai suaranya agak meninggi. Tetap saja Ria sangat sulit untuk mematuhi
perintah Bu Iis.
Bu Iis dengan belaian kasih
sayangnya, membawa Ria jalan-jalan.
Jalan-jalan ke pasar terdekat tidak melalui jalur angkutan seperti biasa
tetapi melewati jalur kebun dan pematang sawah yang jalannya terjal, licin dan
berliku. Dengan wajah cemberut Ria merajuk agar kembali ke jalur angkutan agar
lebih cepat sampai, tidak kelelahan. Bu
Iis membujuk Ria dengan mengajak bernyanyi dan bercerita. Sampailah akhirnya di pasar. Di pasar Ria
segera menyerbu tukang batagor dan es kelapa muda kesukaannya. Sambil menikmati sepiring batagor kuah yang
masih panas, Bu Iis bertanya, “Setelah perjalanan yang melelahkan, menuruni
kebun, melewati pematang sawah yang licin, lalu jalan menanjak ketika sampai
pasar langsung menikmati batagor, bagaimana perasaan Ria?” Ria menjawab, “Hilang
letih dan capenya saat ketemu makanan dan minuman kesukaan Ria,” Bu Iis. “Begitu
pun dengan Ria, setelah bersusah payah belajar, bersungguh-sungguh mengaji,
merasakan capenya merapikan mainan, mandi dan makan teratur suatu saat pasti
akan memberikan kebahagian. Bila rajin
belajar, insyaAllah akan mendapatkan prestasi yang bagus. Bila rajin shalat dan mengaji, insyaAllah
akan disayangi Allah. Bila teratur mandi
dan makan, makan badan kita akan sehat dan terhindar dari penyakit.”
Sebagai manusia, kita hanya
berkewajiban memaksimalkan ikhtiar, mengoptimalkan berdoa, selanjutnya
bertawakal. Permintaan kita dikabulkan
atau tidak oleh Allah adalah hak
preogratif Allah. Anak hanyalah sebuah
amanah atau titipan Allah. Suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban akan
amanah yang selama ini Ia titipkan.
Merawat dan mendidik anak sangat perlu ilmu. Ilmu tentang pendidikan anak harus selalu
bertambah sesuai dengan bertambahnya usia anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar