Anang Hermansyah: “Gaya kalian seperti perempuan, bergayalah layaknya laki-laki jangan seperti perempuan,”
Ahmad Dhani: “Ini yang namanya kiamat sudah dekat. Tampangmu nggak cocok dengan lagu ini,”
Agnes Monica: Gayanya Laki banget,”
Itu adalah cuplikan percakapan Anang, Agnes dan Ahmad Dhani terhadap salah satu kontestan Indonesia Idol tersebut pada tayangan tertanggal 25 Maret 2012 di Televisi Swasta atau RCTI pukul 13.00 siang.
Saya bukanlah seorang penggemar Indonesia Idol. Saya sangat kurang menaruh perhatian pada ajang pencarian bakat penyanyi ini. Ajang pencarian bakat ini terkesan sangat dipaksakan dan hanya meng-copypaste ajang pencarian bakat yang berlangsung di Amerika. Ajang ini hanya menaruhkan potensi suara tidak ada yang lain. Dengan leluhurnya yang sudah memenangkan kontes ini, ribuan remaja menaruh banyak impian dan harapan agar setelah ikut ajang ini menjadi terkenal dan bisa merubah kehidupannya. Saya melihat para juri bagaikan seorang ‘Raja’ yang dengan seenaknya saja menghakimi dan memberikan komentar terhadap penampilan para peserta.
Komentar pedas terhadap kontestan Indonesian Idol menyeret Ahmad Dhani, Agnes Monica dan Anang Hermansyah dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Aliansi Peduli Acara Televisi Indonesia (Ampati) melaporkan para juri ini karena dinilai merendahkan martabat manusia.
Ketua Ampati Hartoyo mencontohkan perendahan martabat kontestan dengan percakapan diatas.
“Banyak pernyataan mereka para juri Anang, Dhani dan Agnes kepada para peserta idol. pernyataan juri yang sangat melecehkan, dia persoalkan penampilan feminim seseorang, kamu kok begitu banget, itu nggak etis,” terang Hartoyo.
Saya rindu dengan kompetisi pencarian bakat, minat anak muda harapan bangsa Indonesia yang berlandaskan atas kemampuan akademis, keahlian di suatu bidang studi, hafalan AlQur’an dan Hadits yang tidak menampilkan keindahan fisik, keindahan suara yang akhirnya akan melenakan peserta dan menjauhkan dari arti kehidupan dunia yang fana.
Media yang memiliki kekuatan yang luar biasa selain berfungsi sebagai informatif, memberikan informasi, media juga memiliki fungsi sebagai sarana edukatif, memberikan ilmu atau pelajaran yang bernilai positif pada khalayaknya. Fungsi media sebagai to educate nyaris tergerus oleh kepentingan pemilik media untuk meraup untung sebanyak-banyaknya pada program yang disukai khalayak walau isi dari program tersebut jauh dari nilai kebaikan hanya mengajarkan untuk berkhayal, hidup materialism dan hedonism.
Kita tunggu media yang berpihak pada pendidikan.
Ahmad Dhani: “Ini yang namanya kiamat sudah dekat. Tampangmu nggak cocok dengan lagu ini,”
Agnes Monica: Gayanya Laki banget,”
Itu adalah cuplikan percakapan Anang, Agnes dan Ahmad Dhani terhadap salah satu kontestan Indonesia Idol tersebut pada tayangan tertanggal 25 Maret 2012 di Televisi Swasta atau RCTI pukul 13.00 siang.
Saya bukanlah seorang penggemar Indonesia Idol. Saya sangat kurang menaruh perhatian pada ajang pencarian bakat penyanyi ini. Ajang pencarian bakat ini terkesan sangat dipaksakan dan hanya meng-copypaste ajang pencarian bakat yang berlangsung di Amerika. Ajang ini hanya menaruhkan potensi suara tidak ada yang lain. Dengan leluhurnya yang sudah memenangkan kontes ini, ribuan remaja menaruh banyak impian dan harapan agar setelah ikut ajang ini menjadi terkenal dan bisa merubah kehidupannya. Saya melihat para juri bagaikan seorang ‘Raja’ yang dengan seenaknya saja menghakimi dan memberikan komentar terhadap penampilan para peserta.
Komentar pedas terhadap kontestan Indonesian Idol menyeret Ahmad Dhani, Agnes Monica dan Anang Hermansyah dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Aliansi Peduli Acara Televisi Indonesia (Ampati) melaporkan para juri ini karena dinilai merendahkan martabat manusia.
Ketua Ampati Hartoyo mencontohkan perendahan martabat kontestan dengan percakapan diatas.
“Banyak pernyataan mereka para juri Anang, Dhani dan Agnes kepada para peserta idol. pernyataan juri yang sangat melecehkan, dia persoalkan penampilan feminim seseorang, kamu kok begitu banget, itu nggak etis,” terang Hartoyo.
Saya rindu dengan kompetisi pencarian bakat, minat anak muda harapan bangsa Indonesia yang berlandaskan atas kemampuan akademis, keahlian di suatu bidang studi, hafalan AlQur’an dan Hadits yang tidak menampilkan keindahan fisik, keindahan suara yang akhirnya akan melenakan peserta dan menjauhkan dari arti kehidupan dunia yang fana.
Media yang memiliki kekuatan yang luar biasa selain berfungsi sebagai informatif, memberikan informasi, media juga memiliki fungsi sebagai sarana edukatif, memberikan ilmu atau pelajaran yang bernilai positif pada khalayaknya. Fungsi media sebagai to educate nyaris tergerus oleh kepentingan pemilik media untuk meraup untung sebanyak-banyaknya pada program yang disukai khalayak walau isi dari program tersebut jauh dari nilai kebaikan hanya mengajarkan untuk berkhayal, hidup materialism dan hedonism.
Kita tunggu media yang berpihak pada pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar