Selasa, 29 Mei 2012

Strategi Komunikasi Pada Anak

“Ayah, kapan berangkat ke Kalimantan?”
“InsyaAllah minggu depan, Nak”
“Ayah jangan lupa kalau pulang beli oleh-oleh, ya. Kalau tidak ada, beli makanan saja. Kalau tidak ada makanan, gak apa-apa gak usah bawa oleh-oleh”
“InsyaAllah Ayah belikan oleh-oleh ya. Abang doakan ayah ya, agar ayah sehat dan selamat sampai pulang ke rumah”
Dialog ini terus berulang antara putra pertama kami, Faruq dengan ayahnya, saat ayahnya mau berangkat ke luar kota. Dialog ini memiliki pola yang sama. Ada satu hal menarik yang dapat saya ceritakan dari dialog di atas. Faruq memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap kegiatan ayahnya terutama saat ayahnya mau pergi keluar kota. Faruq memberikan sebuah permintaan pada ayahnya. Tetapi permintaannya ia turunkan satu tahap dari meminta hal yang tinggi, turun ke permintaan yang sedang sampai pada tahap ia tidak meminta apa pun kalau permintaannya tidak ada.
Faruq memiliki tingkat kecerdasan empati yang sangat jarang dimiliki oleh anak usia lima tahun. Kesadaran empati faruq bisa dilihat dari ucapan permintaan oleh-oleh yang ia harapkan. Tetapi ia menyadari saat permintaannya tidak bisa terpenuhi ia meminta hal lain yang sekiranya dapat terpenuhi dan akhirnya ia menyadari bila semua permintaannya tidak biasa terpenuhi, ia tidak menginginkan apa-apa dari ayahnya.
Sebagai orang terkadang sering menyikapi permintaan anak dengan kurang bijaksana tanpa mendengar alasan mengapa ia meminta sesuatu. Apakah karena orang tua kurang memiliki kedekatan secara emosional terhadap anak ataukah kurang memiliki strategi untuk mempengaruhi anak. Sesungguhnya bila orang tua memberikan strategi komunikasi pada anak dengan cara mendengar dan berdialog, orangtua dan anak akan menemukan sebuah pola komunikasi yang unik saat anak mengajukan sebuah permintaan. Tarik ulur pertanyaan dan permintaan akan menggali konsep anak dalam mengajukan sebuah permintaan sehingga hal ini akan member dampak positif pada anak di masa depan. Ia akan terampil dalam mengemukakan pendapat, akan pandai berdiplomasi dan akan bisa mempertahankan argumen atau alasan permintaan yang ia ajukan.
Perlu latihan dan latihan dalam upaya menggali kemampuan dasar anak sehingga akan menjadi bekal terbaiknya di masa yang akan datang.

Minggu, 20 Mei 2012

Negeri Kaya Karena Spanduk

Sudah hampir dua jam saya duduk di ruang tamu sebuah kantor desa, dekat kampus sebuah universitas di Bogor. Saya menunggu bapak sekretaris desa untuk menyerahkan surat ijin pemasangan spanduk. Sebagai seorang humas di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, salah tugas saya adalah mengurus perijinan spanduk penerimaan siswa baru. Setelah beliau datang kami berbincang mengenai surat dan biaya yang diminta pihak desa sebagai tanda ‘menjaga’ spanduk selama proses penerimaan siswa baru.
Pemasangan spanduk yang resmi harus melalui ijin kepala bidang ekonomi di kantor kecamatan. Biaya yang dibayarkan katanya untuk kas daerah kabupaten. Untuk memasang satu spanduk resmi harus mengeluarkan uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah selama kurun waktu dua minggu, selanjutnya hanya wajib lapor ke kecamatan dan untuk kantor desa meminta dana seratus ribu rupiah tidak ada batas waktu pemasangan. Maka terpasanglah sebuah spanduk resmi yang sudah mendapat ijin kecamatan dan desa di sebuah lokasi yang diinginkan.
Kenyataanya, spanduk yang telah terpasang hanya bertahan tiga hari. Besoknya raib entah kemana, digantikan spanduk penerimaan siswa baru untuk sebuah sekolah menengah yang tidak ada ijin. Terlihat dari spanduknya yang tidak ada stiker pengesahan kecamatan dan desa. Ketika konfirmasi ke kantor desa, mereka hanya menjawab “Pasang kembali saja Bu”. Sebuah pernyataan yang kurang simpati. Masalahnya spanduk resmi itu siapa yang menurunkannya dan sekarang ada dimana. Apakah harus membuat spanduk baru dengan biaya sekitar seratus ribu jadi kalau dijumlahkan untuk sebuah spanduk saja menghabiskan uang sebesar tiga ratusan ribu rupiah. Sebuah harga yang sangat besar untuk ukuran sekolah taman kanak-kanak yang baru.
Seandainya saja spanduk yang bertebaran di pinggir jalan, melintang jalan melakukan proses perijinan resmi seperti yang saya lakukan, negeri ini akan menjadi negeri yang sangat kaya raya, pasti milyaran rupiah akan masuk ke kas pemerintah daerah. Seandainya saja semua pemasang spanduk taat hukum, negeri ini akan terbebas dari lilitan hutang. Seandainya saja perijinan pemasangan spanduk disosialisasikan dengan baik pada masyarakat, pasti kemiskinan di negeri ini akan berkurang.
Spanduk oh spanduk….

Kala Perpustakaan Berubah Fungsi

Sebagai mahasiswa, salah satu kegiatan rutin saya adalah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan biasanya saya datangi sebagai tempat mencari buku sesuai keperluan, tempat membaca buku dan literatur atau sekedar mengerjakan tugas karena suasananya sepi sehingga mudah dalam mengembangkan ide.
Sebuah kejadian unik terjadi saat saya di perpustakaan. Lima mahasiswa, sepertinya mahasiswa strata satu, di depan tumpukan buku, berfose layaknya seorang model. Dengan memakai kamera di telepon genggam, dengan menggunakan notebook saling bergantian memoto dengan berbagai gaya. Mengumbar senyum, berlenggak lenggok dengan berbagai gaya.
Saya hanya senyum-senyum saja melihat tingkah laku mereka. Mungkin inilah yang bisa dilakukan mahasiswa disela mengerjakan tugas agar beban yang sedang dihadapi sedikit berkurang. Melepaskan syaraf ketegangan karena dikejar deadline tugas dan paper. Atau hanya sekedar berbagi dengan temannya dan keluarganya di kampung. Suatu aktifitas yang boleh dilakukan tapi tempatnya sungguh tidak tepat karena mengganggu sesama pengunjung perpustakaan.
Menurut UU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.
Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.
Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia.
Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).

I miss u Mom

Seperti pagi hari yang biasa dilewati, saya bangun sebelum anggota keluarga bangun. Setelah selesai bertemu dengan Sang Kholik, saya bergegas menuju dapur dan sumur, mempersiapkan segala keperluan anak-anak dan suami. Tapi hari ini ada yang lain rasanya, ada tamu yang akan datang siang nanti. Tamu luar biasa yang selalu saya nantikan kehadirannya.
Ibu…tepat sekali. Hari ini ibu akan datang ke rumah untuk menjenguk keempat cucunya, putrinya tercinta dan menantunya yang sangat ia sayangi. Perjalanan selama tujuh jam tidak menyurutkan niat Ibu untuk datang ke rumah. Di usia Beliau yang genap 55 tahun masih sanggup bepergian jauh sendirian tanpa diantar saudara di kampung. Sosok yang sangat mandiri, kuat dan penuh energi. Ibu masih rutin pergi ke pasar setiap hari untuk berbelanja, siang hari sampai sore menunggu toko. Di sela-sela menunggu toko, beliau juga menerima jahitan, menerima yang mau potong rambut dan bahkan masih merias pengantin. Subhanallah…sebuah figur idola dan panutan saya sebagai anak pertamanya. Beliau tidak pernah mengeluh atas rutinitas kesehariannya, malah kalau tidak beraktifitas malah badan sakit katanya.
Ibu tidak pernah menyuruh saya mencuci pakaian, tidak pernah menyuruh saya memasak, tidak pernah menyuruh saya ini dan itu. Saat kecil saya hanya diberi tugas untuk membersihkan semprong lampu kaca, saat saya sekolah dasar belum ada listrik jadi kami memakai lampu teplok minyak tanah. Hanya itu saja tugas rutin yang saya lakukan. Hal ini berlanjut sampai saya duduk di bangku perguruan tinggi, tidak pernah menyuruh bekerja atau membantu urusan rumah tangga. Kalau saya Tanya mengapa saya tidak diperkenankan membantu pekerjaaan rumah tagga, Beliau selalu bilang, “Teteh belajar saja ya agar jadi orang pintar dan sholehah, kerjaan rumah tangga biar mamah saja yang mengerjakan. Nanti kalau sudah menikah akan bisa sendiri.” Pulang sekolah biasanya saya ganti baju shalat makan lalu main sampai waktu asar tiba, lanjut main sampai waktu magrib.
Setelah saya menikah, saya mengambil pelajaran atas didikan Ibu selama saya sebelum berumah tangga. Demi kebaikan anaknya agar menjadi orang pintar dan sholehah, Ibu saya rela tidak berbagi tugas rumah tangga pada saya, hanya satu yang diinginkan beliau agar kelak saya menjadi orang pintar dan sholehah. Sebuah cita-cita yang sangat mulia. Semoga saja Allah memperkenanka doa Ibu. Semoga Allah selalu menjaga Ibu, selalu memberi kesehatan, kebaikan, kelapangan, perlindungan dengan sebaik-baiknya perlindungan.
Miss you so much, Mamah…

Minggu, 13 Mei 2012

Menjadi Manusia Juara dan Bahagia

SharMatahari masih enggan beranjak dari peraduannya. Kabut tipis menyelimuti jalan. Jam masih menunjukkan 5.35. Dengan tergegas kumelangkahkan kaki menuju jalan raya menyambut angkutan yang menuju ke arah stasiun kota Bogor. Hari ini dengan dua rekan sesama pendidik akan mengikuti acara Seminar Pendidikan dengan tema Menjadi Manusia Juara dan Bahagia, dengan pembicara Pak Munif Chatib seorang pakar Multiple Intelligences dan Ibu Dewi Yogo Pratomo seorang Ketua Hypnotherapis Indonesia Sehati. Acara ini bertempat di Convention Hall, Gedung SMESCO Jl Gatot Soebroto, Jakarta Selatan.
Tepat jam 07.15 Commuter yang menuju ke arah Cawang meninggalkan kota Bogor. Sekitar jam 8.30 sampai di stasiun Cawang, kami langsung mencari halte Busway ke arah Gedung SMESCO. Ini adalah kali pertama saya naik Transjakarta. Setelah membayar uang karcis sebesar Rp 3500, kami harus menunggu dan berdesakan sambil menatap ke arah datangnya bis. Tiga bis sudah melewati halte tetapi kami masih juga belum terangkut. Akhirnya bis keempat tiba dan membawa kami tepat di depan halte Pancoran Barat.
Jam 9.15 kami masuk ke Gedung SMESCO. Antrian registrasi sangat panjang. Menurut panitia, peserta yang datang sekitar 2000 orang yang datang dari Jabodetabek dan daerah Sukabumi. Setelah bersusah payah mengambil tiket tanda masuk dan mendapat goodybag yang berisi buku parenting, majalah dan berbagai macam brosur, kami masuk ke ruang Convention Hall yang sangat besar dan acara pembukaan sudah dimulai.
Acara pembukaan dipandu oleh Daan P-Project dan rekan. Acara dimulai dengan menampilkan sekilas film yang berjudul “Ambilkan Bintang”, film kerjasama antara MIZAN dan BNI Syariah yang akan diputar serentak saat liburan sekolah tiba, tanggal 28 Juni 2012. Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Direktur MIZAN, Direktur BNI Syariah, Inggrid Kansil anggota dewan komisi 8 DPR RI serta penandatanganan kerja sama antara MIZAN dan BNI Syariah. Acara pembukaan diisi oleh pentas dari anak-anak Lazuardi School, penyanyi anak Gita dan group nasyid.
Seminar pendidikan dimulai tepat pukul 11.00. Moderator seminar adalah Shahnaz Haque, seorang selebriti yang juga pemerhati pendidikan keluarga. Acara semakin hangat saat Shahnaz turun ke peserta dan mengajak berdialog dengan peserta.
“Selamat siang Ibu dan Bapak Guru, saya melihat banyak ahli Syurga disini”
Spontan peserta menjawab, “Aamiin” diiringi dengan tepuk tangan dan kilatan foto dari peserta yang ingin memoto sang moderator.
Dialog dilanjutkan dengan mengajak dua narasumber ke atas panggung dan Ibu Dewi mulai memberikan materi manfaat Hypnoparenting pada peserta. Para peserta diminta berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan, lalu masing-masing saling menarik. Ibu Dewi meminta peserta menggambar lingkaran dari ukuran kecil sampai besar bergantian kanan kiri kemudian dua-duanya. Suasana riuh rendah diruangan seminar. Setelah peserta duduk ditempat masing-masing, Ibu Dewi menjelaskan bahwa kegiatan tadi dimaksudkan untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri agar siap untuk mengikuti seminar dengan baik. Ibu Dewi memberikan tips bagaimana mengatasi anak-anak yang sering dianggap nakal, bodoh, agresif dan malas belajar. Salah satunya dengan rutin mengusap punggung anak sebanyak 15 kali saat bangun tidur, saat anak main atau belajar dan saat mau tidur malam. Disitulah waktu yang tepat untuk memberikan kata-kata sugesti yang positif, seperti “Nisa dokter mama yang sholehah dan pintar, jadilah anak yang baik dan sayang sama adik”. Sugesti positif yang dilakukan terus menerus akan menjadikan anak lebih tenang dan bahagia yang akan menyebabkan orang tuanya juga bahagia. Diperagakan juga oleh salah seorang peserta yang mengalami fobia terhadap kucing, bagaimana hipnotheraphy bisa menyembuhkan fobia ini.
Puncak seminar menghadirkan Pak Munif Chatib. Beliau menerangkan bahwa semua anak adalah juara dan memiliki ciri khas yang unik. Kewajiban orang tuanya adalah bagaimana menggali potensi yang domiliki anak dan memaksimalkan potensinya agar anak menjadi bahagia dalam menjalani kehidupannya. Pak Munif banyak bercerita tentang teman-temannya yang memiliki kesulitan dalam menghadapi anak-anaknya. Seorang bapak kehilangan waktu bermain dengan anaknya saat ia pulang bekerja gara-gara anaknya sibuk mengerjakan pr dari sekolahnya, sehingga bapak ini merasa sekolah sudah merebut waktunya bersama anak-anak dirumah. Bapak yang lain merasa pusing melihat kelakuan anak-anaknya saat ia pulang bekerja. Anak yang satu minta digendong, anak yang kedua naik dipunggungnya dan anak ketiga mau naik di atas kepalanya. Melihat apapun fenomena di rumah, pak munif mengajak para orang tua melihat dari sisi kepentingan anak. Mungkin ketiga anak ini merasa rindu ditinggal ayahnya seharian sehingga pas ayahnya datang, diserbu dengan luar biasa. Tinggalkan kepenatan dan keletihan di kantor saat berada di rumah. Jadilah ayah yang utuh dan jangan jadi ayah yang ke rumah dengan membawa beban kantor sehingga hilang kesempatan emas bersama anak.
Semoga materi seminar ini menjadi bekal yang penting untuk para guru agar mendidik anak sesuai dengan potensi anak sehingga bisa melahirkan generasi bangsa yang pintar dan berakhlak mulia

Minggu, 06 Mei 2012

Poligami*Syarat dan Ketentuan Berlaku

Ibu Dini, rekan kerja saya selama satu tahun ini tidak pernah cerita apapun tentang keluarganya. Saat beliau datang ke rumah saya, beliau menceritakan bahwa ia adalah istri kedua dari empat istri suaminya. Anak pertamanya sudah kelas satu sma dan tinggal bersama neneknya, sedangkan sekarang ia tinggal bersama dua anak dari istri ketiga suaminya. Selama ini saya menyangka kedua anaknya itu adalah anak kandungnya. Selama berumah tangga enam belas tahun, ia merasa hidup di neraka. Penuh dengan kesedihan, lahir batin tersiksa, tetapi ia tidak berdaya. Menurut beliau status janda di masyarakat lebih jelek statusnya dibanding status istri kedua. Suaminya cenderung memperhatikan istri mudanya daripada memperhatikannya.
Bagi mayoritas ibu-ibu di daerah saya, kata poligami merupakan kata yang tabu diucapkan dan tabu untuk dibicarakan. Alasan mereka adalah takut dicatat oleh malaikat dan akhirnya menjadi kenyataan. Entah benar atau tidak, hal itu sudah menjadi mitos para ibu yang tidak boleh dilanggar
Kekhawatiran yang dialami ibu-ibu sangat beralasan. Lebih dari lima laki-laki yang melakukan poligami di daerahnya, berbuat sangat tidak adil terhadap istri pertama dan anak-anaknya. Mereka ditelantarkan tanpa diberi nafkah yang memadai dan ditinggalkan tanpa kabar berita. Suaminya tinggal bersama dengan istri barunya dan melupakan keluarga lamanya.
Laki-laki yang memiliki istri baru dan melupakan istri lamanya kurang memiliki pengetahuan bagaimana aturan dan hukum berpoligami. Ajaran Islam mengatur bagaimana aturan, syarat dan hukum berpoligami. Poligami boleh dilakukan tetapi syarat dan ketentuan berlaku. Walaupun berpoligami tidak mesti meminta ijin dari istri pertama tetapi alangkah baiknya membicarakan dengan istri pertamanya. Boleh melakukan poligami tetapi harus memiliki rasa keadilan yang sama untuk istri-istrinya. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan dalam membagi waktu, membagi perhatian, membagi harta, membagi kasih sayang agar kedua belah pihak tidak merasa dirugikan. Pada dasarnya hukum poligami adalah boleh. Diperbolehkan sampai empat istri bila merasa mampu dan sanggup menjaga keutuhan rumah tangga.
Alasan untuk melakukan poligami bermacam-macam. Misalnya atas ijin dan permintaan istri pertamanya karena istrinya memiliki penyakit sehingga tidak bisa melayani kebutuhan batin suaminya, istrinya tidak memiliki keturunan sedangkan suami sangat mengharapkan keturunan, suami memiliki kemampuan untuk berbuat adil saat berpoligami, atau suami hanya ingin menciptakan imej bahwa dia lelaki yang mampu berpoligami dengan kelebihan harta yang ia miliki.
Hukum Allah dibuat agar manusia lebih mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Semoga poligami bukan hal yang menakutkan untuk dibahas tetapi memahami bahwa poligami hal yang diperbolehkan oleh agama asal memahami syarat dan ketentuan yang berlaku. Sehingga pahala bagi laki-laki yang adil dalam berpoligami yang diperoleh dan bukannya kebencian dari manusia dan yang membuat aturan.

Kebahagiaan Adalah Sebuah Pilihan

Seorang sahabat bercerita kepada saya. Pekan lalu ia dan teman kantornya melakukan sebuah riset.Riset ini ingin melihat tingkat kebahagiaan dalam rumah tangga Respondennya adalah laki-laki yang sudah berkeluarga, dengan usia pernikahan minimal 10 tahun. Hasil riset mengungkapkan bahwa 80 persen dari jumlah responden sekitar 300 orang, merasa tidak bahagia dengan rumah tangga yang sedang dijalaninya. Tentu saja dikuesioner diungkapkan alasan-alasan mengapa ia tidak bahagia.
Saya merasa tertarik dengan hasil riset ini. Apa sebenarnya arti kebahagian menurut laki-laki yag sudah mengarungi biduk rumah tangga minimal 10 tahun dengan istrinya dan mungkin sudah dikaruniai oleh anak-anak.
Ketika dua insan akan memasuki gerbang pernikahan, masing-masing semestinya sudah memiliki visi dan misi berumah tangga. Ketika pernikahan berlangsung tentu saja visi dan misi antara suami dan istri haruslah sama, sejalan dan seirama sehingga dalam menjalani kehidupan berumah tangga akan mudah dilalui bersama. Dalam sebuah keluarga, visi dan misi ini mutlak diperlukan. Mengapa, karena visi dan misi adalah semacam undang-undang kesepahaman bersama antara suami istri dalam melalui tahapan-tahapan berumah tangga. Saat ada masalah, persoalan, onak duri yang mengganjal  maka suami istri bisa melihat kembali visi dan misi awal berumah tangga.
Visi dan misi berumah tangga menjadikan tolak ukur sandaran agar dalam melangkah sesuai dengan isi dari kesepakatan awal. Pernikahan tidak seperti mengendarai mobil di jalan bebas hambatan tapi banyak jalanan menukik, turunan terjal bahkan menemui jalan yang buntu.
Kebahagiaan tidak mutlak dari datang dari pasangan,anak, sahabat, uang, hobi dan lainnya. Sesungguhnya kebahagiaan itu mutlak ada dalam diri sendiri. Kebahagiaan tergantung pemaknaan seseorang terhadap kebahagiaan itu sendiri. Dengan mensyukuri apapun yang Allah berikan akan mendatangkan kebahagiaan, kebahagiaan muncul dengan lapang dada dan merasa cukup atas karunia dan rahmatNya pada dirinya. Kebahagiaan bisa muncul saat seseorang bisa melakukan sebuah perbuatan yang membuat orang lain bahagia seperti dengan berbagi, membantu anak yatim piatu, mengurangi beban janda miskin yang memiliki tanggungan anak sekolah dengan menyantuninya dan banyak hal yang bisa membangkitkan kebahagiaan orang di sekitar kita.
Seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sesungguhnya pola pikir seseoranglah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan dari faktor luar. Bahagia tidaknya kehidupan kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa cantik atau tampan pasangan kita, seberapa banyak keturunan yang dimiliki, seberapa panjang gelar yang dimiliki atau sesukses apa kehidupan kita.
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan, apakah kita akan memilih bahagia atau tidak bahagia

TV Digital di Indonesia Adalah Sebuah Keniscayaan

“Zaman merupakan keniscayaan. Inovasi teknologi tidak bisa ditawan, “ sebuah konsep Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring. Menkoinfo akan memberlakukan sistem televisi digital secara nasional pada tahun 2018. Televisi dengan konsep Digital Video Broadcasting Terrestial akan diberlakukan di Indonesia seiring switch of system analog pada 17 Juni 2015 yang dicanangkan International Television Union.
Pengertian TV Digital
TV Digital adalah sebuah perkembangan teknologi di bidang elektronik. TV digital memiliki kualitas gambar yang bagus, spektrum komunikasi lebih hemat. Perbedaan mendasar antara sistem penyiaran televisi analog dan digital terletak pada penerimaan gambar lewat pemancar. Pada sistem analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi, sinyal akan melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Sedangkan pada sistem digital, siaran gambar yang jernih akan dinikmati sampai pada titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi.
Perkembangan teknologi sangat berkembang pesat. Seperti jam, banyak yang sudah beralih memakai teknologi digital. Beralihnya siaran televisi analog ke televisi digital memiliki banyak keuntungan, baik terhadap konsumen, pemerintah maupun industri televisi.
Semoga semakin meningkatnya perkembangan sistem industri televisi diimbangi dengan meningkatnya kualitas siaran yang menitik beratkan pada pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa

Rabu, 02 Mei 2012

Seorang Guru menjadi Korban Kekerasan Suami


Saat pulang mengantar anak sekolah, saya terkejut melihat Bu Ira, seorang rekan pengajar bersimpuh dibelakang pintu dapur. Ia berpakaian kaos pendek dengan celana robek selutut dan tidak mengenakan jilbab. Padahal dalam keseharian sang rekan menutup auratnya dengan rapi. Ia duduk sambil mendekap kedua lututnya, matanya bengkak dan sembab sebagai tanda telah lama menangis. Ketika melihat kedatangan saya, ia langsung memeluk saya dan menangis dengan sangat kencang. 

Ketika tangisnya sudah mereda, ia menunjukkan bagian atas tangan kanannya yang biru lebam, dekat pergelangan tangan kirinya menghitam, bagian punggungnya biru lebam dan diatas alis kirinya ada dua luka terbakar berdiameter sekitar satu sentimenter. Saya tidak berani menanyakan penyebabnya, saya pikir biarlah ia cerita sendiri. Sambil meminum air putih yang saya hidangkan, dengan kata yang terbata-bata ia bercerita. “Bunda, semua biru lebam dan bekas luka bakar ini adalah perbuatan suamiku. Penyebabnya adalah suami membaca sebuah pesan singkat di telepon selulerku”. “Pesan singkat yang dibacanya dari mantanku yang isinya apakah aku masih mencintainya atau tidak dan aku membalas bahwa sekarang sudah mempunyai suami dan anak”. Suaminya marah sekali dan menyangka selama 16 tahun pernikahan, Bu Ira menjalin hubungan dengan sang mantan pacar.
Bu Ira sudah menjelaskan bahwa selama 16 tahun menikah tidak pernah berhubungan dengan mantan pacarnya. Suami Bu Ira tidak percaya lalu memukuli punggung dan tangan Bu Ira dengan bertubi-tubi. Bu Ira sudah bersumpah tidak melakukan apapun tuduhan suaminya, ujung-ujungnya malah di atas alisnya ditempelkan rokok panas yang sedang diisap suaminya. Tidak tahan menghadapi perlakuan suaminya, ia pergi dengan naik ojeg dengan memakai pakaian seadanya ke rumah saya. Karena saya tidak ada di rumah, ia menunggu saya di depan pintu dapur, denga harapan tidak ada orang yang melihatnya.

Saya langsung mengajaknya ke rumah sakit untuk di visum. Menurut pemeriksaan dokter, luka lebamnya karena pukulan benda tumpul dan luka bakarnya bekas rokok panas. Saya menanyakan ke Bu Ira, apakah kasusnya mau dibawa ke pihak yang berwajib karena sudah masuk kekerasan dalam rumah tangga ataukah mau pulang ke rumah orang tuanya. Ia memilih pulang ke rumah orang tuanya dan menjaga jarak dulu dengan suami sambil berharap suaminya sadar atas perbuatan yang menyakitinya.

Sebagai seorang perempuan, saya sangat merasakan apa yang Bu Ira rasakan. Sedih, prihatin, empati dan simpati terhadap masalah yang ia alami. Niat awal saat menikah salah satunya adalah mendapatkan cinta, kasih sayang, rasa aman dan perlindungan dari suami. Waktu 24 jam dihabiskan untuk mengurus keperluan suami, anak, rumah. Istri terkadang lupa untuk merawat diri karena sudah kecapaian mengurus rumah tangga. Perjalanan waktu yang panjang berumah tangga selayaknya sudah dibangun rasa kepercayaan, rasa memiliki, rasa mencintai dan mengetahui kelemahan dan kelebihan pasangan. Masalah selalu ada dalam kehidupan berumah tangga karena menikah itu menyatukan dua hati, dua pemikiran yang berbeda pastilah ada gesekan-gesekan. Saat masalah itu timbul, bisa dikomunikasikan dengan baik sehingga ditemukan jalan keluarnya dengan kepala dingin, dewasa dan bertanggung jawab. Tetapi bila masalah diselesaikan dengan ringan tangan, memukul, menganiaya bahkan sampai membakar kulit istri dengan rokok, hal itu sangat menyakitkan hati dan fisik istri.