Seperti pagi hari yang biasa dilewati, saya bangun sebelum anggota keluarga bangun. Setelah
selesai bertemu dengan Sang Kholik, saya bergegas menuju dapur dan
sumur, mempersiapkan segala keperluan anak-anak dan suami. Tapi hari ini
ada yang lain rasanya, ada tamu yang akan datang siang nanti. Tamu luar biasa yang selalu saya nantikan kehadirannya.
Ibu…tepat sekali.
Hari ini ibu akan datang ke rumah untuk menjenguk keempat cucunya,
putrinya tercinta dan menantunya yang sangat ia sayangi. Perjalanan
selama tujuh jam tidak menyurutkan niat Ibu untuk datang ke rumah. Di usia Beliau yang genap 55 tahun masih sanggup bepergian jauh sendirian tanpa diantar saudara di kampung. Sosok yang sangat mandiri, kuat dan penuh energi. Ibu masih rutin pergi ke pasar setiap hari untuk berbelanja, siang hari sampai sore menunggu toko. Di sela-sela menunggu toko, beliau juga menerima jahitan, menerima yang mau potong rambut dan bahkan masih merias pengantin. Subhanallah…sebuah figur idola dan panutan saya sebagai anak pertamanya. Beliau tidak pernah mengeluh atas rutinitas kesehariannya, malah kalau tidak beraktifitas malah badan sakit katanya.
Ibu tidak pernah menyuruh saya mencuci pakaian, tidak pernah menyuruh saya memasak, tidak pernah menyuruh saya ini dan itu. Saat
kecil saya hanya diberi tugas untuk membersihkan semprong lampu kaca,
saat saya sekolah dasar belum ada listrik jadi kami memakai lampu teplok
minyak tanah. Hanya itu saja tugas rutin yang saya
lakukan. Hal ini berlanjut sampai saya duduk di bangku perguruan tinggi,
tidak pernah menyuruh bekerja atau membantu urusan rumah tangga. Kalau saya Tanya mengapa saya tidak diperkenankan membantu pekerjaaan rumah tagga, Beliau
selalu bilang, “Teteh belajar saja ya agar jadi orang pintar dan
sholehah, kerjaan rumah tangga biar mamah saja yang mengerjakan. Nanti
kalau sudah menikah akan bisa sendiri.” Pulang sekolah biasanya saya
ganti baju shalat makan lalu main sampai waktu asar tiba, lanjut main
sampai waktu magrib.
Setelah saya menikah, saya mengambil pelajaran atas didikan Ibu selama saya sebelum berumah tangga. Demi
kebaikan anaknya agar menjadi orang pintar dan sholehah, Ibu saya rela
tidak berbagi tugas rumah tangga pada saya, hanya satu yang diinginkan
beliau agar kelak saya menjadi orang pintar dan sholehah. Sebuah cita-cita yang sangat mulia. Semoga saja Allah memperkenanka doa Ibu. Semoga
Allah selalu menjaga Ibu, selalu memberi kesehatan, kebaikan,
kelapangan, perlindungan dengan sebaik-baiknya perlindungan.
Miss you so much, Mamah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar