Seorang sahabat bercerita kepada saya. Pekan lalu ia dan teman kantornya melakukan sebuah riset.Riset ini ingin melihat tingkat kebahagiaan dalam rumah tangga Respondennya adalah laki-laki yang sudah berkeluarga, dengan usia pernikahan minimal 10 tahun. Hasil riset mengungkapkan bahwa 80 persen dari jumlah responden sekitar 300 orang, merasa tidak bahagia dengan rumah tangga yang sedang dijalaninya. Tentu saja dikuesioner diungkapkan alasan-alasan mengapa ia tidak bahagia.
Saya merasa tertarik dengan hasil riset ini. Apa
sebenarnya arti kebahagian menurut laki-laki yag sudah mengarungi biduk
rumah tangga minimal 10 tahun dengan istrinya dan mungkin sudah
dikaruniai oleh anak-anak.
Ketika dua insan akan memasuki gerbang pernikahan, masing-masing semestinya sudah memiliki visi dan misi berumah tangga. Ketika
pernikahan berlangsung tentu saja visi dan misi antara suami dan istri
haruslah sama, sejalan dan seirama sehingga dalam menjalani kehidupan
berumah tangga akan mudah dilalui bersama. Dalam sebuah keluarga, visi dan misi ini mutlak diperlukan. Mengapa,
karena visi dan misi adalah semacam undang-undang kesepahaman bersama
antara suami istri dalam melalui tahapan-tahapan berumah tangga. Saat ada masalah, persoalan, onak duri yang mengganjal maka suami istri bisa melihat kembali visi dan misi awal berumah tangga.
Visi dan misi berumah tangga menjadikan tolak ukur sandaran agar dalam melangkah sesuai dengan isi dari kesepakatan awal. Pernikahan
tidak seperti mengendarai mobil di jalan bebas hambatan tapi banyak
jalanan menukik, turunan terjal bahkan menemui jalan yang buntu.
Kebahagiaan tidak mutlak dari datang dari pasangan,anak, sahabat, uang, hobi dan lainnya. Sesungguhnya kebahagiaan itu mutlak ada dalam diri sendiri. Kebahagiaan tergantung pemaknaan seseorang terhadap kebahagiaan itu sendiri. Dengan
mensyukuri apapun yang Allah berikan akan mendatangkan kebahagiaan,
kebahagiaan muncul dengan lapang dada dan merasa cukup atas karunia dan
rahmatNya pada dirinya. Kebahagiaan bisa muncul saat
seseorang bisa melakukan sebuah perbuatan yang membuat orang lain
bahagia seperti dengan berbagi, membantu anak yatim piatu, mengurangi
beban janda miskin yang memiliki tanggungan anak sekolah dengan
menyantuninya dan banyak hal yang bisa membangkitkan kebahagiaan orang
di sekitar kita.
Seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sesungguhnya pola pikir seseoranglah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan dari faktor luar. Bahagia
tidaknya kehidupan kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta
yang dimiliki, seberapa cantik atau tampan pasangan kita, seberapa
banyak keturunan yang dimiliki, seberapa panjang gelar yang dimiliki
atau sesukses apa kehidupan kita.
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan, apakah kita akan memilih bahagia atau tidak bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar