Rabu, 02 Mei 2012

Seorang Guru menjadi Korban Kekerasan Suami


Saat pulang mengantar anak sekolah, saya terkejut melihat Bu Ira, seorang rekan pengajar bersimpuh dibelakang pintu dapur. Ia berpakaian kaos pendek dengan celana robek selutut dan tidak mengenakan jilbab. Padahal dalam keseharian sang rekan menutup auratnya dengan rapi. Ia duduk sambil mendekap kedua lututnya, matanya bengkak dan sembab sebagai tanda telah lama menangis. Ketika melihat kedatangan saya, ia langsung memeluk saya dan menangis dengan sangat kencang. 

Ketika tangisnya sudah mereda, ia menunjukkan bagian atas tangan kanannya yang biru lebam, dekat pergelangan tangan kirinya menghitam, bagian punggungnya biru lebam dan diatas alis kirinya ada dua luka terbakar berdiameter sekitar satu sentimenter. Saya tidak berani menanyakan penyebabnya, saya pikir biarlah ia cerita sendiri. Sambil meminum air putih yang saya hidangkan, dengan kata yang terbata-bata ia bercerita. “Bunda, semua biru lebam dan bekas luka bakar ini adalah perbuatan suamiku. Penyebabnya adalah suami membaca sebuah pesan singkat di telepon selulerku”. “Pesan singkat yang dibacanya dari mantanku yang isinya apakah aku masih mencintainya atau tidak dan aku membalas bahwa sekarang sudah mempunyai suami dan anak”. Suaminya marah sekali dan menyangka selama 16 tahun pernikahan, Bu Ira menjalin hubungan dengan sang mantan pacar.
Bu Ira sudah menjelaskan bahwa selama 16 tahun menikah tidak pernah berhubungan dengan mantan pacarnya. Suami Bu Ira tidak percaya lalu memukuli punggung dan tangan Bu Ira dengan bertubi-tubi. Bu Ira sudah bersumpah tidak melakukan apapun tuduhan suaminya, ujung-ujungnya malah di atas alisnya ditempelkan rokok panas yang sedang diisap suaminya. Tidak tahan menghadapi perlakuan suaminya, ia pergi dengan naik ojeg dengan memakai pakaian seadanya ke rumah saya. Karena saya tidak ada di rumah, ia menunggu saya di depan pintu dapur, denga harapan tidak ada orang yang melihatnya.

Saya langsung mengajaknya ke rumah sakit untuk di visum. Menurut pemeriksaan dokter, luka lebamnya karena pukulan benda tumpul dan luka bakarnya bekas rokok panas. Saya menanyakan ke Bu Ira, apakah kasusnya mau dibawa ke pihak yang berwajib karena sudah masuk kekerasan dalam rumah tangga ataukah mau pulang ke rumah orang tuanya. Ia memilih pulang ke rumah orang tuanya dan menjaga jarak dulu dengan suami sambil berharap suaminya sadar atas perbuatan yang menyakitinya.

Sebagai seorang perempuan, saya sangat merasakan apa yang Bu Ira rasakan. Sedih, prihatin, empati dan simpati terhadap masalah yang ia alami. Niat awal saat menikah salah satunya adalah mendapatkan cinta, kasih sayang, rasa aman dan perlindungan dari suami. Waktu 24 jam dihabiskan untuk mengurus keperluan suami, anak, rumah. Istri terkadang lupa untuk merawat diri karena sudah kecapaian mengurus rumah tangga. Perjalanan waktu yang panjang berumah tangga selayaknya sudah dibangun rasa kepercayaan, rasa memiliki, rasa mencintai dan mengetahui kelemahan dan kelebihan pasangan. Masalah selalu ada dalam kehidupan berumah tangga karena menikah itu menyatukan dua hati, dua pemikiran yang berbeda pastilah ada gesekan-gesekan. Saat masalah itu timbul, bisa dikomunikasikan dengan baik sehingga ditemukan jalan keluarnya dengan kepala dingin, dewasa dan bertanggung jawab. Tetapi bila masalah diselesaikan dengan ringan tangan, memukul, menganiaya bahkan sampai membakar kulit istri dengan rokok, hal itu sangat menyakitkan hati dan fisik istri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar