Saat
pulang mengantar anak sekolah, saya terkejut melihat Bu Ira, seorang
rekan pengajar bersimpuh dibelakang pintu dapur. Ia berpakaian kaos
pendek dengan celana robek selutut dan tidak mengenakan jilbab. Padahal
dalam keseharian sang rekan menutup auratnya dengan rapi. Ia duduk sambil mendekap kedua lututnya, matanya bengkak dan sembab sebagai tanda telah lama menangis. Ketika melihat kedatangan saya, ia langsung memeluk saya dan menangis dengan sangat kencang.
Ketika
tangisnya sudah mereda, ia menunjukkan bagian atas tangan kanannya yang
biru lebam, dekat pergelangan tangan kirinya menghitam, bagian
punggungnya biru lebam dan diatas alis kirinya ada dua luka terbakar
berdiameter sekitar satu sentimenter. Saya tidak berani menanyakan penyebabnya, saya pikir biarlah ia cerita sendiri. Sambil meminum air putih yang saya hidangkan, dengan kata yang terbata-bata ia bercerita. “Bunda, semua biru lebam dan bekas luka bakar ini adalah perbuatan suamiku. Penyebabnya adalah suami membaca sebuah pesan singkat di telepon selulerku”. “Pesan
singkat yang dibacanya dari mantanku yang isinya apakah aku masih
mencintainya atau tidak dan aku membalas bahwa sekarang sudah mempunyai
suami dan anak”. Suaminya marah sekali dan menyangka selama 16 tahun pernikahan, Bu Ira menjalin hubungan dengan sang mantan pacar.
Bu Ira sudah menjelaskan bahwa selama 16 tahun menikah tidak pernah berhubungan dengan mantan pacarnya. Suami Bu Ira tidak percaya lalu memukuli punggung dan tangan Bu Ira dengan bertubi-tubi. Bu
Ira sudah bersumpah tidak melakukan apapun tuduhan suaminya,
ujung-ujungnya malah di atas alisnya ditempelkan rokok panas yang sedang
diisap suaminya. Tidak tahan menghadapi perlakuan suaminya, ia pergi dengan naik ojeg dengan memakai pakaian seadanya ke rumah saya. Karena saya tidak ada di rumah, ia menunggu saya di depan pintu dapur, denga harapan tidak ada orang yang melihatnya.
Saya
langsung mengajaknya ke rumah sakit untuk di visum. Menurut pemeriksaan
dokter, luka lebamnya karena pukulan benda tumpul dan luka bakarnya
bekas rokok panas. Saya menanyakan ke Bu Ira, apakah
kasusnya mau dibawa ke pihak yang berwajib karena sudah masuk kekerasan
dalam rumah tangga ataukah mau pulang ke rumah orang tuanya. Ia
memilih pulang ke rumah orang tuanya dan menjaga jarak dulu dengan
suami sambil berharap suaminya sadar atas perbuatan yang menyakitinya.
Sebagai seorang perempuan, saya sangat merasakan apa yang Bu Ira rasakan. Sedih, prihatin, empati dan simpati terhadap masalah yang ia alami. Niat
awal saat menikah salah satunya adalah mendapatkan cinta, kasih sayang,
rasa aman dan perlindungan dari suami. Waktu 24 jam dihabiskan untuk
mengurus keperluan suami, anak, rumah. Istri terkadang lupa untuk
merawat diri karena sudah kecapaian mengurus rumah tangga. Perjalanan
waktu yang panjang berumah tangga selayaknya sudah dibangun rasa
kepercayaan, rasa memiliki, rasa mencintai dan mengetahui kelemahan dan
kelebihan pasangan. Masalah selalu ada dalam kehidupan
berumah tangga karena menikah itu menyatukan dua hati, dua pemikiran
yang berbeda pastilah ada gesekan-gesekan. Saat masalah itu
timbul, bisa dikomunikasikan dengan baik sehingga ditemukan jalan
keluarnya dengan kepala dingin, dewasa dan bertanggung jawab. Tetapi
bila masalah diselesaikan dengan ringan tangan, memukul, menganiaya
bahkan sampai membakar kulit istri dengan rokok, hal itu sangat
menyakitkan hati dan fisik istri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar