Senin, 01 April 2013

Antara 3 Cinta




Tuhan, aku menerima dengan ikhlas semua ketentuan-Mu.  Aku  menerima dengan lapang semua takdir-Mu.  Aku akan selalu menjaga hati bahwa semua ketentuan-Mu padaku adalah ketentuan terbaik untuk kehidupanku.  Aku yakin semua takdirku untuk lebih mendekatkan aku pada-Mu. 
Engkau ciptakan aku dengan banyak kelebihan.  Aku terlahir dari keluarga baik-baik, orang tuaku adalah terpandang di kotaku, kecerdasanku di atas rata-rata teman sekolah, fisikku sangat sempurna, hampir semua orang mengatakan aku cantik, baik hati, rendah hati, mudah bergaul, sayang sama yang lebih muda, menghormati yang lebih  tua, loyal dengan teman seusia.  Sewaktu di bangku sekolah selalu aktif di berbaga kegiatan siswa dan sering menjadi pemimpin, jiwa kepemimpinanku baik, aku terlahir di keluarga yang religius dan terbiasa dengan melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba Allah SWT seperti shalat wajib, shalat sunnah, puasa, mengaji dan ikut pengajian.  Aku sangat bersyukur pada Allah SWT atas semua kelebihan yang aku miliki, aku sangat berterima kasih pada ayah dan ibu serta lingkungan terdekatku sehingga membentuk aku seperti saat ini.  Aku sangat mencintai keluarga dan keluarga juga sangat mencintai aku.  Mereka adalah segalanya bagiku.  Aku selalu berbuat terbaik untuk mereka.  Aku buktikan dengan meraih prestasi terbaik saat duduk di bangku sekolah. Aku sering mendapat beasiswa pendidikan dan berulang kali mendapat kesempatan untuk mewakili sekolah dalam berbagai lomba tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional.
Tapi tidak dengan kisah cintaku. 
Cinta pertamaku sekaligus pernikahan pertamaku berakhir tragis. Pernikahanku menyisakan kepedihan yang sangat mendalam. Kami adalah pasangan yang serasi.  Banyak orang yang bilang kalau wajah kami sangat mirip dan itulah jodoh.  Suamiku sangat baik, perhatian dan sangat mencintai serta menyayangiku.  Kami sama-sama aktivis organisasi sewaktu di sekolah maupun kuliah.  Kami memiliki banyak persamaan visi dan misi hidup.  Kegemaran dan hobi kami sama yaitu suka berpetualang, suka tantangan, suka dengan hal yang baru.  Suamiku adalah pujaan setiap wanita.  Wajahnya rupawan, suka merawat diri, fisiknya bagus, suka olah raga, supel, sehingga suamiku seperti layak diriku.  Dan inilah awal dari malapetaka kehidupan rumah tangga kami.  Sebagai seorang executive muda di sebuah bank terkemukan di Kota Jakarta, ia banyak bergaul dengan berbagai kalangan, relasi baik laki-laki dan perempuan.  Aku juga yang berprofesi sebagai seorang notaris, sangat mempercayai suamiku dan suamiku sangat mempercayai aku.  Kesetiaan kami sangat kuat karena dilandasi cinta dan sayang yang mendalam.  Waktu berlalu dan kehidupan rumah tangga kami mengalami ujian.  Suamiku tergoda dengan seorang rekan kerja perempuan.  Suamiku mengatakan dengan jujur semua hubungannya dengan perempuan tadi.  Ketika ditanya alasannya, ia menjawab karena aku terlalu sibuk sehingga ia mendapatkan perhatian dari perempuan tadi sehingga ia ingin menikahinya.  Aku sangat shok, kaget, sedih, marah, semua rasa campur aduk sehingga aku memutuskan untuk berpisah dari pada aku sakit hati di madu dengan perempuan lain.  Aku berpisah.
Beberapa lama waktu berselang, aku menikah dengan seseorang pilihan orang tuaku.  Aku sangat ingin membahagiakan orang tuaku, makanya aku memutuskan untuk menerima seorang laki-laki pilihan kedua orang tua.  Aku hanya meminta keridhoan orang tua dan mengharap kebaikan di kehidupanku.  Suamiku seorang jejaka.  Usianya beberapa tahun diatasku.  Ia seorang pengajar di sebuah sekolah menengah atas.  Wajahnya biasa saja.  Namun ada keteduhan setiap kali melihat wajahnya.  Ia sangat baik, perhatian dan sangat menyayangiku.  Ia selalu membantu dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah, memperhatikanku dari hal yang terkecil sampai membantu urusan kantorku.  Tapi entahlah,  aku tidak mencintainya walau kelihatannya ia sangat mencintaiku.  Cinta itu belum juga hadir dalam hatiku walau pernikahanku sudah berjalan satu tahun.  Aku menghormatinya tapi aku tidak mencintainya. Aku ceritakan semua perasaanku pada orang tuaku dan mereka sangat memahami apa yang aku alamai dan aku rasakan.  Mereka menyerahkan semua keputusannya padaku.  Setelah aku meminta petunjuk pada Sang Maha Kuasa, aku memutuskan untuk berpisah.  Aku kasihan sama suamiku karena ia sangat baik namun aku tidak juga mencintainya. 
Aku merasa terpuruk, sedih dan kecewa dengan kegagalan kedua pernikahanku.  Tapi aku selalu yakin ini adalah ujian dari Allah SWT agar aku lebih dewasa lagi dalam menghadapi kehidupan dan aku rasa Allah SWT sangat baik padaku karena aku tidak dibiarkan tetapi diberikan sebuah “tamparan” kehidupan, itu artinya artinya aku masih diakui sebagai seorang hamba.  Aku menyibukan diri dengan berbagai kegiatan keagamaan dan tugas di kantor.
Hingga suatu hari aku berkenalan dengan seorang pria yang usianya terpaut beberapa tahun di bawahku.  Tapi ia kelihatan sangat dewasa dibanding dengan usianya.  Ia adalah seorang klien di kantorku sehingga aku beberapa kali berhubungannya sesuai dengan tugasku sebagai seorang notaris.  Pertemuan kami pada awalnya hanya berputar sekitar pekerjaan.  Lama kelamaan kami saling bertukar cerita, berbincang mengenai semua hal dan berlanjut dengan makan siang serta jalan bareng.  Cinta itu mulai tumbuh sering dengan seringnya intensitas pertemuan kami, walau pertemuannya seminggu atau dua minggu sekali karena kesibukan kerja kami berdua.  Tapi cinta yang tumbuh di antara kami berdua adalah sebuah hal yang tidak wajar.  Ia sudah memiliki keluarga.  Ia sudah berumah tangga.  Ia sudah memiliki seorang istri.  Walau ia berniat menjadikan aku istri keduanya tapi aku tahu kalau keluarga besarku tidak akan memberikan ijin bila aku menikah lagi dan menjadi istri kedua.  Aku merasakan apa yang akan dirasakan istri pertamanya karena aku juga merasakan hal yang sama saat pernikahanku yang pertama.  Oh Tuhan…..aku sangat mencintainya.  Cinta itu hadir dan bersemi sehingga mencairkan kebekuan hatiku, meluluhlantakan rasa sakitku.  Cinta itu berkembang hanya dalam waktu beberapa bulan. Ia hadir saat aku terpuruk.  Ia hadir saat aku hancur.  Ia memberikan aku kehidupan baru.  Ia memberikan aku warna yang baru dalam kehidupanku.  Ia memberikan aku sebuah semangat baru.  Ia membuat aku tertawa lagi. Ia membuat aku bahagia.  Aku sangat menginginkan ia menjadi pemimpin dalam rumah tanggaku kelak.  Aku sangat bahagia saat bersamanya.  Tapi aku sadar posisiku.  Aku tidak ingin menyakiti hati seseorang yang selama ini mendampinginya.  Aku tidak ingin menjadi duri dalam kehidupan rumah tangganya. 
Aku harus bagaimana sekarang.  Apa yang akan aku lakukan.  Langkah apa yang harus aku ambil dalam posisiku ini.
Oh Tuhan, haruskah aku lepaskan cinta ini dan aku kembali terpuruk, terluka, kecewa, sedih, stress dan hatiku akan kembali beku.  Haruskah aku mematikan lagi semua cinta ini.  Haruskah aku melupakan dirinya yang telah membuat aku bersemangat lagi menyambut kehidupan.  Apakah ini adalah takdirku untuk kedua kalinya mencintai dan dicintai seseorang tapi harus berakhir dengan kepahitan. Apakah ini sebuah jalan kecintaan Allah SWT untukku agar aku semakin kuat dan tangguh dalam menghadapi hidup.  Haruskah cinta yang hadir ini hanya datang sesaat hanya untuk menyembuhkan luka lamaku dan aku kembali mengalami luka yang baru? Atau haruskan aku tetap mempertahankan cinta ini, cinta indah yang kembali hadir setelah aku kecewa dan patah hati pada mantan suami pertamaku.  Aku dan ia ingin tetap bersama walau apapun yang akan terjadi.  Aku mendapat tantangan dari keluarga dan ia mendapat tantangan dari istri serta keluarga besarnya.
Oh Tuhan, beri aku petunjukmu.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar