Tuhan, aku menerima
dengan ikhlas semua ketentuan-Mu.
Aku menerima dengan lapang semua
takdir-Mu. Aku akan selalu menjaga hati
bahwa semua ketentuan-Mu padaku adalah ketentuan terbaik untuk
kehidupanku. Aku yakin semua takdirku
untuk lebih mendekatkan aku pada-Mu.
Engkau ciptakan aku
dengan banyak kelebihan. Aku terlahir
dari keluarga baik-baik, orang tuaku adalah terpandang di kotaku, kecerdasanku
di atas rata-rata teman sekolah, fisikku sangat sempurna, hampir semua orang mengatakan
aku cantik, baik hati, rendah hati, mudah bergaul, sayang sama yang lebih muda,
menghormati yang lebih tua, loyal dengan
teman seusia. Sewaktu di bangku sekolah
selalu aktif di berbaga kegiatan siswa dan sering menjadi pemimpin, jiwa
kepemimpinanku baik, aku terlahir di keluarga yang religius dan terbiasa dengan
melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba Allah SWT seperti shalat wajib,
shalat sunnah, puasa, mengaji dan ikut pengajian. Aku sangat bersyukur pada Allah SWT atas
semua kelebihan yang aku miliki, aku sangat berterima kasih pada ayah dan ibu
serta lingkungan terdekatku sehingga membentuk aku seperti saat ini. Aku sangat mencintai keluarga dan keluarga
juga sangat mencintai aku. Mereka adalah
segalanya bagiku. Aku selalu berbuat terbaik
untuk mereka. Aku buktikan dengan meraih
prestasi terbaik saat duduk di bangku sekolah. Aku sering mendapat beasiswa
pendidikan dan berulang kali mendapat kesempatan untuk mewakili sekolah dalam
berbagai lomba tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional.
Tapi tidak dengan kisah
cintaku.
Cinta pertamaku
sekaligus pernikahan pertamaku berakhir tragis. Pernikahanku menyisakan kepedihan
yang sangat mendalam. Kami adalah pasangan yang serasi. Banyak orang yang bilang kalau wajah kami
sangat mirip dan itulah jodoh. Suamiku sangat
baik, perhatian dan sangat mencintai serta menyayangiku. Kami sama-sama aktivis organisasi sewaktu di
sekolah maupun kuliah. Kami memiliki
banyak persamaan visi dan misi hidup.
Kegemaran dan hobi kami sama yaitu suka berpetualang, suka tantangan,
suka dengan hal yang baru. Suamiku
adalah pujaan setiap wanita. Wajahnya
rupawan, suka merawat diri, fisiknya bagus, suka olah raga, supel, sehingga
suamiku seperti layak diriku. Dan inilah
awal dari malapetaka kehidupan rumah tangga kami. Sebagai seorang executive muda di sebuah bank
terkemukan di Kota Jakarta, ia banyak bergaul dengan berbagai kalangan, relasi
baik laki-laki dan perempuan. Aku juga
yang berprofesi sebagai seorang notaris, sangat mempercayai suamiku dan suamiku
sangat mempercayai aku. Kesetiaan kami
sangat kuat karena dilandasi cinta dan sayang yang mendalam. Waktu berlalu dan kehidupan rumah tangga kami
mengalami ujian. Suamiku tergoda dengan
seorang rekan kerja perempuan. Suamiku
mengatakan dengan jujur semua hubungannya dengan perempuan tadi. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab karena
aku terlalu sibuk sehingga ia mendapatkan perhatian dari perempuan tadi
sehingga ia ingin menikahinya. Aku
sangat shok, kaget, sedih, marah, semua rasa campur aduk sehingga aku
memutuskan untuk berpisah dari pada aku sakit hati di madu dengan perempuan
lain. Aku berpisah.
Beberapa
lama waktu berselang, aku menikah dengan seseorang pilihan orang tuaku. Aku sangat ingin membahagiakan orang tuaku,
makanya aku memutuskan untuk menerima seorang laki-laki pilihan kedua orang
tua. Aku hanya meminta keridhoan orang
tua dan mengharap kebaikan di kehidupanku.
Suamiku seorang jejaka. Usianya
beberapa tahun diatasku. Ia seorang
pengajar di sebuah sekolah menengah atas.
Wajahnya biasa saja. Namun ada
keteduhan setiap kali melihat wajahnya.
Ia sangat baik, perhatian dan sangat menyayangiku. Ia selalu membantu dalam mengerjakan semua
pekerjaan rumah, memperhatikanku dari hal yang terkecil sampai membantu urusan
kantorku. Tapi entahlah, aku tidak mencintainya walau kelihatannya ia
sangat mencintaiku. Cinta itu belum juga
hadir dalam hatiku walau pernikahanku sudah berjalan satu tahun. Aku menghormatinya tapi aku tidak
mencintainya. Aku ceritakan semua perasaanku pada orang tuaku dan mereka sangat
memahami apa yang aku alamai dan aku rasakan.
Mereka menyerahkan semua keputusannya padaku. Setelah aku meminta petunjuk pada Sang Maha
Kuasa, aku memutuskan untuk berpisah.
Aku kasihan sama suamiku karena ia sangat baik namun aku tidak juga
mencintainya.
Aku
merasa terpuruk, sedih dan kecewa dengan kegagalan kedua pernikahanku. Tapi aku selalu yakin ini adalah ujian dari
Allah SWT agar aku lebih dewasa lagi dalam menghadapi kehidupan dan aku rasa
Allah SWT sangat baik padaku karena aku tidak dibiarkan tetapi diberikan sebuah
“tamparan” kehidupan, itu artinya artinya aku masih diakui sebagai seorang
hamba. Aku menyibukan diri dengan
berbagai kegiatan keagamaan dan tugas di kantor.
Hingga
suatu hari aku berkenalan dengan seorang pria yang usianya terpaut beberapa
tahun di bawahku. Tapi ia kelihatan
sangat dewasa dibanding dengan usianya.
Ia adalah seorang klien di kantorku sehingga aku beberapa kali
berhubungannya sesuai dengan tugasku sebagai seorang notaris. Pertemuan kami pada awalnya hanya berputar
sekitar pekerjaan. Lama kelamaan kami
saling bertukar cerita, berbincang mengenai semua hal dan berlanjut dengan
makan siang serta jalan bareng. Cinta
itu mulai tumbuh sering dengan seringnya intensitas pertemuan kami, walau
pertemuannya seminggu atau dua minggu sekali karena kesibukan kerja kami
berdua. Tapi cinta yang tumbuh di antara
kami berdua adalah sebuah hal yang tidak wajar.
Ia sudah memiliki keluarga. Ia
sudah berumah tangga. Ia sudah memiliki
seorang istri. Walau ia berniat
menjadikan aku istri keduanya tapi aku tahu kalau keluarga besarku tidak akan
memberikan ijin bila aku menikah lagi dan menjadi istri kedua. Aku merasakan apa yang akan dirasakan istri
pertamanya karena aku juga merasakan hal yang sama saat pernikahanku yang
pertama. Oh Tuhan…..aku sangat
mencintainya. Cinta itu hadir dan
bersemi sehingga mencairkan kebekuan hatiku, meluluhlantakan rasa sakitku. Cinta itu berkembang hanya dalam waktu
beberapa bulan. Ia hadir saat aku terpuruk.
Ia hadir saat aku hancur. Ia
memberikan aku kehidupan baru. Ia
memberikan aku warna yang baru dalam kehidupanku. Ia memberikan aku sebuah semangat baru. Ia membuat aku tertawa lagi. Ia membuat aku
bahagia. Aku sangat menginginkan ia
menjadi pemimpin dalam rumah tanggaku kelak.
Aku sangat bahagia saat bersamanya.
Tapi aku sadar posisiku. Aku
tidak ingin menyakiti hati seseorang yang selama ini mendampinginya. Aku tidak ingin menjadi duri dalam kehidupan
rumah tangganya.
Aku
harus bagaimana sekarang. Apa yang akan
aku lakukan. Langkah apa yang harus aku
ambil dalam posisiku ini.
Oh
Tuhan, haruskah aku lepaskan cinta ini dan aku kembali terpuruk, terluka,
kecewa, sedih, stress dan hatiku akan kembali beku. Haruskah aku mematikan lagi semua cinta
ini. Haruskah aku melupakan dirinya yang
telah membuat aku bersemangat lagi menyambut kehidupan. Apakah ini adalah takdirku untuk kedua
kalinya mencintai dan dicintai seseorang tapi harus berakhir dengan kepahitan.
Apakah ini sebuah jalan kecintaan Allah SWT untukku agar aku semakin kuat dan
tangguh dalam menghadapi hidup. Haruskah
cinta yang hadir ini hanya datang sesaat hanya untuk menyembuhkan luka lamaku
dan aku kembali mengalami luka yang baru? Atau haruskan aku tetap
mempertahankan cinta ini, cinta indah yang kembali hadir setelah aku kecewa dan
patah hati pada mantan suami pertamaku.
Aku dan ia ingin tetap bersama walau apapun yang akan terjadi. Aku mendapat tantangan dari keluarga dan ia
mendapat tantangan dari istri serta keluarga besarnya.
Oh
Tuhan, beri aku petunjukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar