Saat memutuskan memilih
sebuah lembaga pendidikan formal untuk buah hati tercinta, orang tua telah
memikirkan banyak hal. Seperti kapan
pendaftaran, berapa biaya masuk, berapa biaya per bulan, kurikulum apa yang diberikan
kepada siswa, apakah ada persatuan orang tua dan murid (POMG) sebagai jembatan
komunikasi antara sekolah dan orang tua, apakaha disediakan catering, apakah
ada jemputan, ekstrakurikuler apa yang disiapkan untuk mengoptimalkan bakat dan
minat siswa, fasilitas apa saja di sekolah yang menunjang proses belajar
mengajar siswa.
Tentu saja, hal di atas
adalah yang dilakukan orang tua siswa yang mencari sekolah swasta yang sudah
memiliki track record yang baik seperti full day school atau yang lagi booming
sekolah islam terpadu. Jangan dibayangkan
berapa rupiah yang harus dikeluarkan orang tua.
Mulai tingkat taman kanak-kanak sampai tingkat lanjutan atas. Biasanya hanya orang tua dari kalangan
menengah ke atas yang melirik karena hanya dengan mempersiapkan sejumlah rupiah
tertentu, orang tua sudah menerima hasil pendidikan sekolah pada anaknya. Terutama pada kedua orang tua yang sama-sama
bekerja pagi pulang sore sehingga memiliki waktu yang terbatas dalam
mendampingi anak belajar. Hanya dengan
mengeluarkan rupiah yang cukup, orang tua bisa melihat anaknya pinta mengaji,
membaca, berhitung, pendidikan agama yang bagus. Orang tua harus selalu
mempersiapkan dana yang lebih karena biasanya sekolah swasta banyak sekali
pungutan dengan rincian yang banyak sekali, tentu saja dengan alasan untuk
memperlancar proses pendidikan siswa dan belajar mengajar.
Cukupkah itu ?
Anak tidak hanya membutuhkan pendidikan formal dari sekolah, anak juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya. Pendampingan orang tua dan pendidikan yang selaras antara sekolah dan dirumah akan mensinergiskan serta memaksimalkan potensi anak baik secara lahiriah maupun batiniah. Kebutuhan fisik dan kebutuhan rohani.
Bagaimana dengan
keluarga menengah ke bawah ? Bukannya tidak mau menyekolahkan anak di sekolah
swasta yang menawarkan banyak kegiatan, kurikulum, fasilitas yang baik tapi
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saja sudah sulit. Sekolah negeri menjadi pilihan terutama saat
masuk sekolah dasar negeri. Sekolah
dasar negeri di Jawa Barat menggratiskan biaya masuk dan biaya sekolah. Tetapi
dalam pelaksanaannya ada pungutan.
Seperti membayar uang lembar kerja siswa (LKS) di setiap mata pelajaran,
membeli baju batik, membeli baju olah raga, bayar rekreasi dan lainnya. Secara kualitas, pendidikan yang ditawarkan
di sekolah dasar negeri pun bagus sesuai dengan standar pendidikan. Hanya saja, jam yang diberikan kepada siswa
salam proses belajar mengajar sangatlah minim.
Anak kelas 1 di SDN masuk jam 7.30 dan jam 9.30 sudah keluar. Jadi hanya
dengan waktu 120 menit sehari anak belajar.
Sedangkan di SD swasta atau SDIT anak masuk jam 7.30 dan pulang jam
14.20. Bisa dibayangkan materi yang
diberikan di kedua sekolah tersebut.
Inilah tantangan bagi
semua guru. Apalagi pemerintah sudah
memberikan sertifikasi pada guru-guru, seharusnya memberikan pendidikan,
pengajaran, pendampingan terbaik untuk siswa.
Siswa bukan hanya menjadi objek pengajaran tetapi siswa adalah manusia
miniatur yang siap menerima semua materi apa saja, sehingga pendampingan
pengajaran yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan pengembangan otak serta
fisik anak. Secara fitrah, seorang anak membutuhkan
kasih sayang dan perhatian, bukan robot yang harus diberikan “file-file” yang
kaku dan membosankan. Sangat diperlukan
kreatifitas guru terutama guru kelas 1 dan 2 karena masa transisi dari balita
ke anak-anak. Masih perlu menyanyi, menggambar, bercerita, mendongeng terkadang
senam dalam memberikan ilmu kepada mereka.
Sangat miris dan patut
dipertanyakan bila orang tua menemukan sebuah sekolah yang mensyaratkan calon
anak didiknya harus sudah bisa membaca, berhitung dan menulis saat masuk kelas
1 sekolah dasar. Hal ini mengakibatkan guru-guru di taman kanak-kanak “memaksa”
anak-anak untuk membaca, berhitung, menulis.
Guru pendamping anak kelas 1 di sekolah dasar sudah dapat “jadi”
sehingga tidak repot lagi mengajarkan membaca, menulis dan berhitung.
Pilihan ada di tangan
Anda wahai Ayah dan Bunda….Cari sekolah yang memanusiakan anak sehingga anak
tidak kehilangan masa kecilnya yang indah dan tidak akan pernah bisa terulang
dan tergantikan oleh apapun dan kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar