Keceriaan menyelimuti
wajah-wajah imut dan mungil di lapangan hijau terbuka samping rumahku. Suara rebut dan nyaring mengiringi
langkah-langkah kecilnya. Berlari-lari
tanpa arah, bersorak bergembira.
Itulah dunia anak. Dunia penuh dengan canda tawa, senyum ceria,
main dan main.
Sekelompok anak yang
memakai seragam coklat tanah, pramuka, sejak kemarin berkemah. Lapangan tempat mendirikan tenda, tepat di
samping jendela kamarku. Kubuka jendela pagi, menyeruak bau udara pagi yang
sejuk dan dingin, mengembalikan semua ingatan lamaku saat melihat mereka.
Seorang pramuka sejati.
Aku mengenalnya sejak
aku duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
Kegiatan di lapangan yang rutin setiap jumat siang menarik
perhatianku. Aku suka melihat kakak
kelas yang teratur dalam barisan, belajar baris berbaris, membuat tenda, menjelajah,
membuat tandu, membuat obat-obatan dan ramuan dari tanaman yang tumbuh di
sekitar, gagah dengan perlengkapan mulai dari topi, berbagai emblem, ikat
pinggang yang memuat tambang dan pisau belati walau hanya seperti mainan saja.
Sejak itulah, perkemahan
demi perkemahan aku ikuti, walau masih menjadi peserta yang paling imut. Di situlah kemandirian terasah. Dengan
menjelajah, kecintaan terhadap lingkungan sekitar dipupuk, belajar strategi
bagaimana mencari jejak yang sudah disiapkan oleh panitia. Pandai mencari jalan keluar dan mencari cari
menyelesaikan masalah yang dihadapi disetiap pos penjelajahan. Terampil menggunakan bahan yang ada di alam
sekitar untuk penyelamatan, bila mendapat masalah selama mendapatkan petunjuk
yang diberikan oleh pembina.
Seru banget….apalagi
bila sudah memberikan pesan lewat sandi morse, semaphore maupun memecahkan
masalah. Belajar mengenal sifat, tabiat,
watak, karakter teman satu gugus depan maupun teman dari gudep lain melalui
interaksi yang terjadi selama perkemahan.
Perkemahan sabtu minggu (persami), perkemahan jumat sabtu minggu (perjumsami),
jambore kecamatan (jamcam). jambore daerah (jamda) maupun jambore nasional
(jamnas). Setelah perkemahan selesai,
ada satu kegiatan yang mengakhiri. yaitu “mencari harta karun”. Upacara penutupan perkemahan sudah selesai,
semua peserta diminta jongkok. Selama
perkemahan biasanya menyisakan sampah yang sangat banyak, semua peserta harus
mengumpulkan “harta karun” lalu berlari mengumpulkan “harta karun” yang sudah
didapat ke tempat yang sudah disediakan.
Ramai, riuh rendah, terkadang saling bertubrukan saking semangatnya mencari
dan menyimpan harta karun
.
Dengan berbekal
pengalaman pramuka di tingkat sekolah dasar selama tiga tahun, saat duduk di
sekolah menengah pertama, aku ditunjuk mewakili sekolah dan kecamatan tempat
aku tinggal untuk mengikuti jambore nasional 1991. Aku kaget, aku yang masih imut, lucu, kecil
kok bisa menyaingi teman dan kakak kelas yang lebih senior di sekolah. Sampai 20 tahun ke depan, aku baru tahu
alasan mengapa aku yang ditunjuk. Aku berangkat berdua, satunya lagi kakak
kelas yang merangkap sebagai ketua OSIS. Jamnas 1991 berlokasi di Cibubur,
Jakarta. Aku ada di kelurahan 5. Pengalaman tak terlupakan. Senang karena pengalaman pertama jauh dari
orang tua, mendapat uang saku dari sekolah, dari kecamatan, dari bupati, dari
gubernur, makan 3x sehari dengan menu yang padat gizi, jajan, jalan-jalan ke
dunia fantasi, ke gelanggang samudera, benar-benar pesta pramuka yang
menyenangkan. Kegiatan diselingi
menjelajah, mencari jejak, demo semaphore.
Setiap malam, di setiap kelurahan diputar film perjuangan, jadi setiap
malam bisa nonton. Hanya saja kesulitan
dalam mandi, cuci dan buang air. Karena
banyaknya peserta dari seluruh Indonesia
sedangkan tempat yang disediakan sangat terbatas.
Lanjut ketika duduk di
tingkat SMA. Kegiatan pramuka sangat banyak dan bervariasi. Mulai dari panitia lomba yang diselenggaran
oleh gugus ITB, gugus Kota maupun kemping ke daerah utara Bandung.
Salam Pramuka untuk
teman-teman JAMNAS 1991 Cibubur
BERSATU, BERJIWA,
MANDIRI…………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar