Sabtu, 02 November 2013

Mencari Harta Karun



Keceriaan menyelimuti wajah-wajah imut dan mungil di lapangan hijau terbuka samping rumahku.  Suara rebut dan nyaring mengiringi langkah-langkah kecilnya.  Berlari-lari tanpa arah, bersorak bergembira. 
Itulah dunia anak.  Dunia penuh dengan canda tawa, senyum ceria, main dan main.

Sekelompok anak yang memakai seragam coklat tanah, pramuka, sejak kemarin berkemah.  Lapangan tempat mendirikan tenda, tepat di samping jendela kamarku. Kubuka jendela pagi, menyeruak bau udara pagi yang sejuk dan dingin, mengembalikan semua ingatan lamaku saat melihat mereka.

Seorang pramuka sejati.

Aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.  Kegiatan di lapangan yang rutin setiap jumat siang menarik perhatianku.  Aku suka melihat kakak kelas yang teratur dalam barisan, belajar baris berbaris, membuat tenda, menjelajah, membuat tandu, membuat obat-obatan dan ramuan dari tanaman yang tumbuh di sekitar, gagah dengan perlengkapan mulai dari topi, berbagai emblem, ikat pinggang yang memuat tambang dan pisau belati walau hanya seperti mainan saja.

Sejak itulah, perkemahan demi perkemahan aku ikuti, walau masih menjadi peserta yang paling imut.  Di situlah kemandirian terasah. Dengan menjelajah, kecintaan terhadap lingkungan sekitar dipupuk, belajar strategi bagaimana mencari jejak yang sudah disiapkan oleh panitia.  Pandai mencari jalan keluar dan mencari cari menyelesaikan masalah yang dihadapi disetiap pos penjelajahan.  Terampil menggunakan bahan yang ada di alam sekitar untuk penyelamatan, bila mendapat masalah selama mendapatkan petunjuk yang diberikan oleh pembina.

Seru banget….apalagi bila sudah memberikan pesan lewat sandi morse, semaphore maupun memecahkan masalah.  Belajar mengenal sifat, tabiat, watak, karakter teman satu gugus depan maupun teman dari gudep lain melalui interaksi yang terjadi selama perkemahan.  Perkemahan sabtu minggu (persami), perkemahan jumat sabtu minggu (perjumsami), jambore kecamatan (jamcam). jambore daerah (jamda) maupun jambore nasional (jamnas).  Setelah perkemahan selesai, ada satu kegiatan yang mengakhiri. yaitu “mencari harta karun”.  Upacara penutupan perkemahan sudah selesai, semua peserta diminta jongkok.  Selama perkemahan biasanya menyisakan sampah yang sangat banyak, semua peserta harus mengumpulkan “harta karun” lalu berlari mengumpulkan “harta karun” yang sudah didapat ke tempat yang sudah disediakan.  Ramai, riuh rendah, terkadang saling bertubrukan saking semangatnya mencari dan menyimpan harta karun
.
Dengan berbekal pengalaman pramuka di tingkat sekolah dasar selama tiga tahun, saat duduk di sekolah menengah pertama, aku ditunjuk mewakili sekolah dan kecamatan tempat aku tinggal untuk mengikuti jambore nasional 1991.  Aku kaget, aku yang masih imut, lucu, kecil kok bisa menyaingi teman dan kakak kelas yang lebih senior di sekolah.  Sampai 20 tahun ke depan, aku baru tahu alasan mengapa aku yang ditunjuk. Aku berangkat berdua, satunya lagi kakak kelas yang merangkap sebagai ketua OSIS. Jamnas 1991 berlokasi di Cibubur, Jakarta.  Aku ada di kelurahan 5.  Pengalaman tak terlupakan.  Senang karena pengalaman pertama jauh dari orang tua, mendapat uang saku dari sekolah, dari kecamatan, dari bupati, dari gubernur, makan 3x sehari dengan menu yang padat gizi, jajan, jalan-jalan ke dunia fantasi, ke gelanggang samudera, benar-benar pesta pramuka yang menyenangkan.  Kegiatan diselingi menjelajah, mencari jejak, demo semaphore.  Setiap malam, di setiap kelurahan diputar film perjuangan, jadi setiap malam bisa nonton.  Hanya saja kesulitan dalam mandi, cuci dan buang air.  Karena banyaknya peserta dari  seluruh Indonesia sedangkan tempat yang disediakan sangat terbatas.

Lanjut ketika duduk di tingkat SMA. Kegiatan pramuka sangat banyak dan bervariasi.  Mulai dari panitia lomba yang diselenggaran oleh gugus ITB, gugus Kota maupun kemping ke daerah utara Bandung.

Salam Pramuka untuk teman-teman JAMNAS 1991 Cibubur

BERSATU, BERJIWA, MANDIRI…………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar