Kok cemburu yaa….
Ya iyalah semua harus
cemburu sama orang nomor satu di Jakarta.
Kenapa coba ? Ada yang bisa bantu menganalisis dan menjawabnya ?
Semua orang harus
cemburu sama JOKOWI kalau selama setahun pemimpin DKI Jakarta, JOKOWI sudah
banyak berbuat dan bertindak. Artinya
janji-janji yang disampaikan JOKOWI selama masa kampanye, ia buktikan dalam
berbagai perbuatan dan tindakan. Perbuatan
dan tindakan yang diambil oleh JOKOWI terasa membuahkan hasil yang terlihat
oleh kasat mata. Seperti penertiban
pedagang kaki lima yang selama ini menjadi salah satu sumber kemacetan di pasar tanah abang dan di pasar minggu. Coba lihat sekarang, kendaraan yang melintas
lancaaar di siang hari, pejalan kaki bisa menikmati berjalan dengan tenang
tanpa ada gangguan pedagang yang merebut jalan di siang hari. Tapi di malam hari, pedagang yang siang hari
di larang mangkal, ada beberapa yang “nakal” dan menggelar dagangannya kalau
Satpol PP sudah bubar. Kalau di siang hari mana ada yang berani, ada yang
nongkrongin, tim seragam coklat Satpol PP.
Semua orang harus
cemburu sama JOKOWI bila JOKOWI mampu mewujudkan semua harapan, impian dan
keinginan masyarakat Jakarta.
Permasalahan utama yang harus dibenahi oleh JOKOWI adalah bagaimana
memberikan kenyamanan terhadap warga Jakarta bila berkendaraan. Sudah menjadi
rahasia umum kalau gak pagi, gak siang, gak sore kemacetan selalu menjadi momok
di jalanan Jakarta. Monorel yang sedang
dan akan di bangun di masa pemerintahan JOKOWI mungkin akan menjadi salah satu
solusi memecahkan masalah kemacetan.
Transportasi umum dan masal yang nyaman, aman, terjangkau oleh warga
Jakarta seperti monorel akan sangat membantu mengurai kemacetan di berbagai
titik. Tentu saja ini hanya salah satu
solusi, masalah lain seperti membengkaknya kepemilikan kendaraan oleh warga
tidak diiringi dengan meningkatnya fasilitas jalan yang memadai dan kebijakan
pemerintah mempermudah impor kendaraan harus segera dibatasi. Permasalahan lain yang krusial adalah
kebanjiran yang dialami warga di beberapa daerah yang mengakibatkan kelumpuhan
banyak sektor terutama sektor ekonomi.
Banyak faktor yang menyebabkan banjir Jakarta. Faktor lingkungan, seperti di analisis banyak
ahli lingkungan bahwa Jakarta itu tempatnya bertemunya air dan bukan tempat
yang baik untuk ditinggali manusia, ya wajar saja bila air meminta “hak” nya
kepada manusia, toh manusia menempati tempatnya air. Secara sosial, kepedulian warga Jakarta
terhadap lingkungan sangat kurang. Lihat
saja, warga dengan mudah melempar sampah rumah tangga ke sungai, pabrik-pabrik
membuang limbah buangan hasil produksinya ke sungai, sungai dijadikan tempat
pembuangan akhir sampah. Bila air dari
hulu melimpah, terpaksa air tidak bisa melewati jalan yang seharusnya ia lewati,
ia meluap ke pemukiman warga. Faktor
pemerintah, pemerintah tidak menerapkan
tata ruang yang baik dalam penataan kawasan industry, pemukiman, perdagangan,
pemerintahan. Semuanya amburadul dan
semrawut.
Semua orang harus
cemburu sama JOKOWI kalau semua orang memandang JOKOWI menjadi gubernur DKI
Jakarta itu karena pencitraan media dan berhasil menarik banyak dukungan. Apa yang salah dengan pencitraan media
memangnya? Ya wajar saja, bila seseorang
memiliki banyak dana untuk membayar media atau bahkan memiliki media untuk
mem-blow up semua kebaikan, semua prestasi untuk kepentingan pribadi dan
golongannya. Semua bisa kok membuat pencitraan yang baik, asal pencitraan itu
dibuktikan dengan kinerja yang baik dan berbuat untuk kepentingan orang
banyak. Jangan sampai hanya citranya
saja yang baik namun hanya bicara tanpa ada aksi nyata.
Jadi, cemburulah JOKOWI
agar terpacu dalam berbuat kebaikan untuk kepentingan orang banyak, menjadi
pribadi yang sederhana, tidak neko-neko, merakyat, rendah hati, tidak sombong,
tidak menjadi “jaim” setelah menjadi pejabat tinggi.
Semua kembali pada
pribadi kita.
Semoga kecemburuan sama
JOKOWI berimbas positif dan melahirkan semangat untuk menorehkan karya terbaik
untuk negeri tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar