Selasa, 22 Oktober 2013

Semua Orang Harus Cemburu Sama JOKOWI



Kok cemburu yaa….
Ya iyalah semua harus cemburu sama orang nomor satu di Jakarta.  Kenapa coba ? Ada yang bisa bantu menganalisis dan menjawabnya ?
Semua orang harus cemburu sama JOKOWI kalau selama setahun pemimpin DKI Jakarta, JOKOWI sudah banyak berbuat dan bertindak.  Artinya janji-janji yang disampaikan JOKOWI selama masa kampanye, ia buktikan dalam berbagai perbuatan dan tindakan.  Perbuatan dan tindakan yang diambil oleh JOKOWI terasa membuahkan hasil yang terlihat oleh kasat mata.  Seperti penertiban pedagang kaki lima yang selama ini menjadi salah satu sumber kemacetan di  pasar tanah abang dan di pasar minggu.  Coba lihat sekarang, kendaraan yang melintas lancaaar di siang hari, pejalan kaki bisa menikmati berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan pedagang yang merebut jalan di siang hari.  Tapi di malam hari, pedagang yang siang hari di larang mangkal, ada beberapa yang “nakal” dan menggelar dagangannya kalau Satpol PP sudah bubar. Kalau di siang hari mana ada yang berani, ada yang nongkrongin, tim seragam coklat Satpol PP.
Semua orang harus cemburu sama JOKOWI bila JOKOWI mampu mewujudkan semua harapan, impian dan keinginan masyarakat Jakarta.  Permasalahan utama yang harus dibenahi oleh JOKOWI adalah bagaimana memberikan kenyamanan terhadap warga Jakarta bila berkendaraan. Sudah menjadi rahasia umum kalau gak pagi, gak siang, gak sore kemacetan selalu menjadi momok di jalanan Jakarta.  Monorel yang sedang dan akan di bangun di masa pemerintahan JOKOWI mungkin akan menjadi salah satu solusi memecahkan masalah kemacetan.  Transportasi umum dan masal yang nyaman, aman, terjangkau oleh warga Jakarta seperti monorel akan sangat membantu mengurai kemacetan di berbagai titik.  Tentu saja ini hanya salah satu solusi, masalah lain seperti membengkaknya kepemilikan kendaraan oleh warga tidak diiringi dengan meningkatnya fasilitas jalan yang memadai dan kebijakan pemerintah mempermudah impor kendaraan harus segera dibatasi.  Permasalahan lain yang krusial adalah kebanjiran yang dialami warga di beberapa daerah yang mengakibatkan kelumpuhan banyak sektor terutama sektor ekonomi.  Banyak faktor yang menyebabkan banjir Jakarta.  Faktor lingkungan, seperti di analisis banyak ahli lingkungan bahwa Jakarta itu tempatnya bertemunya air dan bukan tempat yang baik untuk ditinggali manusia, ya wajar saja bila air meminta “hak” nya kepada manusia, toh manusia menempati tempatnya air.  Secara sosial, kepedulian warga Jakarta terhadap lingkungan sangat kurang.  Lihat saja, warga dengan mudah melempar sampah rumah tangga ke sungai, pabrik-pabrik membuang limbah buangan hasil produksinya ke sungai, sungai dijadikan tempat pembuangan akhir sampah.  Bila air dari hulu melimpah, terpaksa air tidak bisa melewati jalan yang seharusnya ia lewati, ia meluap ke pemukiman warga.  Faktor pemerintah,  pemerintah tidak menerapkan tata ruang yang baik dalam penataan kawasan industry, pemukiman, perdagangan, pemerintahan.  Semuanya amburadul dan semrawut.
Semua orang harus cemburu sama JOKOWI kalau semua orang memandang JOKOWI menjadi gubernur DKI Jakarta itu karena pencitraan media dan berhasil menarik banyak dukungan.  Apa yang salah dengan pencitraan media memangnya?  Ya wajar saja, bila seseorang memiliki banyak dana untuk membayar media atau bahkan memiliki media untuk mem-blow up semua kebaikan, semua prestasi untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Semua bisa kok membuat pencitraan yang baik, asal pencitraan itu dibuktikan dengan kinerja yang baik dan berbuat untuk kepentingan orang banyak.  Jangan sampai hanya citranya saja yang baik namun hanya bicara tanpa ada aksi nyata.
Jadi, cemburulah JOKOWI agar terpacu dalam berbuat kebaikan untuk kepentingan orang banyak, menjadi pribadi yang sederhana, tidak neko-neko, merakyat, rendah hati, tidak sombong, tidak menjadi “jaim” setelah menjadi pejabat tinggi.
Semua kembali pada pribadi kita.
Semoga kecemburuan sama JOKOWI berimbas positif dan melahirkan semangat untuk menorehkan karya terbaik untuk negeri tercinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar