April 2014, tinggal
menghitung hari.
Pesta demokrasi
terbesar di negeri tercinta segera di gelar.
Lima partai terbesar
menurut sebuah survey yaitu Golkar, Demokrat, PDI-P, Gerindra, PKS mulai
mempersiapkan strategi pemenangan. Mulai
dari berusaha memenangkan pemilihan kepala daerah, membentuk tim sukses dari
tingkat pusat sampai tingkat desa, mempersiapkan dana yang hitungannya miliaran
rupiah, mencetak berbagai “amunisi” seperti spanduk, banner, baligo, membuat
berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat seperti bazaar sembako murah,
pemeriksaan kesehatan gratis, menemui tokoh masyarakat dan simpul masa di
berbagai daerah dan berbagai strategi pemenangan lain. Yang utama adalah MERAIH
SUARA sebanyak-banyaknya saat April 2014.
Masyarakat sebagai objek
yang menerima berbagai kegiatan dari berbagai partai politik adalah yang
diuntungkan karena sebagai penerima manfaat langsung. Di satu sisi, mereka aka lah mengalami
kebingungan, April 2014 kelak ia akan menyalurkan suaranya ke partai mana. Akhirnya mereka menunggu serangan fajar saja
kelak saat hari “H”, siapa yang ketuk pintu dini hari dan memberi amplop warna
pink kemerahan yang ada gambar Soekarno-Hatta lah yang akan ia pilih.
Disinilah sebenarnya
tugas pemerintah untuk memberikan pendidikan politik kepada semua lapisan
masyarakat yang berhak mengikuti pemilihan umum. Apa pemerintah membiarkan saja masyarakat
tidak pintar dalam politik dengan alasan tidak memiliki dana untuk pendidikan
politik? Agar saat pemilu tiba, masyarakat bisa memilih dengan bebas sesuai
dengan pilihannya.
Seharusnya, masyarakat
lebih cerdas memilih. Memilih partai
politik yang konsisten membela kepentingan rakyat.
“Tidak ada satu pun
partai yang bersih, semuanya pernah terlibat kasus korupsi”
“Partai yang dakwah
juga sama saja dengan partai lain, kadernya bila sudah memiliki jabatan dan
kekuasaan sama saja melakukan korupsi, gak ada bedanya dengan partai nasionalis
lain”
“Partai besar pun
kadernya satu demi satu dipreteli KPK karena korupsi”
“Partai baru pun
sepertinya bila memiliki kekuasaan akan sama juga korupsi, mementingkan partai
dan urusan perutnya”
“Aku sih mendingan gak
usah memilih mana pun, gak ada yang bener”
“Aku sih mau milih 1
partai yang paling sedikit kasusnya. Mana ada partai yang bersih di dunia ini,
namanya juga partai yang isinya manusia, tempat salah dan khilaf.”
“Sebelum memilih,
malamnya lakukan shalat istikhoroh, semoga diberikan petunjuk. Karena aku yakin, setiap pilihan kita akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Jadi pilih partai yang banyak kebaikannya
untuk masyarakat”
Celoteh, ungkapan dan
cerita tentang partai politik tidak ada matinya di kalangan ibu-ibu yang
memiliki hak pilih.
Sebagai warga negara
yang baik seharusnya ikut serta dalam pesta ini. Menyalurkan suara demi masa depan
Indonesia. Mau di bawa kemana negeri ini
tergantung dari suara pilihan suara rakyatnya.
Jadilah pemilih cerdas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar