“Tulisan yang mbak
tulis itu tulisan sampah”
“Tulisan sampah itu apa
ya artinya?”
“Apa yang mbak lihat,
apa yang mbak rasa, apa yang mbak pikirkan lalu dituangkan dalam bentuk tulisan
itu adalah tulisan sampah.”
“Kalau saya sih, bila
ingin menulis ya menulis. Apa saja yang
ingin saya tulis.”
“Awalnya sih saya juga
begitu, mbak. Menulis semua yang saya
ingin tulis, tetapi akhirnya saya berhenti karena tidak ada tantangan di sana. Sekarang saya hanya menulis tulisan produktif
yang memerlukan banyak bahan referensi dan rujukan. Sehingga walaupun satu tulisan diselesaikan
dalam waktu lama tapi tulisan saya sangat bermutu dan saya sangat puas.”
“Oh begitu ya, saya
malah baru dengar ada istilah tulisan sampah.
Menurut beberapa penulis senior, dengan menulis apapun setiap hari lama kelamaan akan mengasah kemampuan dalam menulis.”
Sebuah percakapan
ringan antar dua orang. Yang satu
penulis yang baru belajar menulis dan yang satu penulis di sebuah majalah,
sudah menerbitkan buku dan penulis senior.
Tapi saya tidak berkecil hati, walau tulisan saya tulisan sampah, tapi
saya merasa senang sudah bisa mencurahkan apa yang ada dalam hati dan pikiran
saya dalam sebuah tulisan. Walau masih
jauh dari sebuah tulisan yang berkualitas, tapi saya akan terus menulis dan
menulis. Semoga bisa memberikan manfaat
bagi yang membacanya dan bagi saya merupakan sebuah kepuasan sendiri bisa
menuangkan ide dalam bentuk kata demi kata terangkai dalam kalimat.
Tulisan saya masih
tulisan sampah.
Ucapan itu terus menerus
terngiang dalam telinga saya sampai-sampai terbawa dalam alam bawah sadar saya
dan dalam mimpi saya.
Ingin sekali memiliki
tulisan bagus dan berkualitas seperti Kang Abik, A Fuadi, Tere Liye, Mbak asma
nadia, Mbak HTR dan yang lainnya
Perlu pelatihan khusus?
sepertinya ia dan diiringi dengan kemauan untuk selalu menulis dan menulis
untuk mengasah kemampuan toh tulisan saya bukan untuk komersil, hanya kata-kata
sederhana yang paling banter 500 karakter, dan saya posting di Kompasiana, FB
atau Blog pribadi saya.
Tidak, saya tidak sedih
dan tidak putus asa dikatakan tulisan saya sampah. Saya malah terpacu untuk terus menulis. Menulis di antara kesibukan mengurus rumah
tangga, mengurus jualan offline dan online, mengurus masyarakat. Dengan senang hati bila ada yang mau
mendampingi saya agar bisa melahirkan tulisan yang indah, bermutu, bermanfaat
dan berkualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar