Keluhan pertama :
“Aduh, besok pelajaran basa Sunda, males sekolah aahh”
Keluhan kedua : “Basa
Sunda di Bogor kasar banget ya, jadi males bicara basa Sunda”
Keluhan ketiga : “Masa
Ibunya orang Sunda, anaknya gak bisa ngomong Sunda”
Keluhan keempat : “Susah
mencari adat budaya Sunda asli di jaman sekarang”
Keluhan kelima, keenam
dan seterusnya sering terdengar di telinga saya terkait dengan basa Sunda, adat
dan budaya Sunda. Suku Sunda yang mendominasi penduduk Jawa Barat dan
Banten kini keberadaannya semakin pudar
seiring dengan semakin masuknya budaya asing ke Indonesia.
Budaya Sunda yang
seharusnya masih melekat pada masyarakat suku Sunda sudah semakin tidak di
kenal. Tari jaipongan, seni pencak
silat, debus, sisingaan, kuda renggong sepertinya mulai kepunahan di berbagai
tempat. Bila hal ini tidak ada yang memperdulikan, salah satu asset bangsa akan
punah dalam beberapa dekade ke depan.
Apa yang bisa orang
Sunda lakukan untuk “ngamumule” adat istidat Sunda itu sendiri ?
Jawabannya sangat sulit
saya temukan.
Ternyata ada Paguyuban
Pendekar Jalak Banten (PJB) yang ada di Bogor.
Paguyuban ini bercita-cita untuk membangkitkan kembali nilai-nilai adat
istiadat dan budaya Sunda bagi orang Sunda pada khususnya dan memperkenalkan
pada masyarakat luas pada umumnya.
Kegiatan yang selama ini dilakukan oleh PJB adalah latihan-latihan fisik
seperti pencak silat, jaipongan, debus dan kegiatan lainnya yang melibatkan
sekitar 1000 orang anggota yang tersebar di Bogor raya dan Cianjur. Para anggotanya wajib menggunakan basa Sunda
sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
Sebuah kebanggaan tersendiri bila sebagai anggota sebuah suku tertentu
bisa dapat mewariskan budaya dan adat istiadat Sunda kepada generasi
selanjutnya.
Sangat sulit menemukan
sebuah komunitas yang menggunakan basa Sunda yang halus, baik dan benar. Kalau saya lihat mata pelajaran pengantar
basa Sunda di sekolah, bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari, tidak
ada keterangan kata mana yang digunakan untuk ke yang lebih tua dan dihormati,
bahasa untuk teman seumur atau bahasa ke yang lebih muda usianya.
Kewajiban untuk
menggunakan bahasa Indonesia di sekolah terkadang memberikan ruang yang sempit
bagi pengguna bahasa daerah atau bahasa lokal.
Perlu komunikasi yang baik antara suami istri yang salah satu
pasangannya suku yang berbeda. Sebagai
bahasa ibu, sebaiknya anak diperkenalkan sejak dini untuk memakai bahasa daerah
sehingga tidak kaku bila berkomunikasi dengan temannya yang menggunakan bahasa
daerah yang sama.
Pemerintah memegang
peran atau andil yang besar dalam melestarikan budaya, adat istiadat bahasa
lokal atau daerah. Perkumpulan perlu di
bina pemerintah dan membuat masyarakat paham bahwa salah satu kekuatan negeri
ini adalah dengan merawat dan membuat adat istiadat serta budaya daerah
terpelihara oleh masing-masing individu suku tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar