Senin, 14 Oktober 2013

Basa Sunda Di Ambang Kepunahan



Keluhan pertama : “Aduh, besok pelajaran basa Sunda, males sekolah aahh”
Keluhan kedua : “Basa Sunda di Bogor kasar banget ya, jadi males bicara basa Sunda”
Keluhan ketiga : “Masa Ibunya orang Sunda, anaknya gak bisa ngomong Sunda”
Keluhan keempat : “Susah mencari adat budaya Sunda asli di jaman sekarang”
Keluhan kelima, keenam dan seterusnya sering terdengar di telinga saya terkait dengan basa Sunda, adat dan budaya Sunda. Suku Sunda yang mendominasi penduduk Jawa Barat dan Banten  kini keberadaannya semakin pudar seiring dengan semakin masuknya budaya asing ke Indonesia. 
Budaya Sunda yang seharusnya masih melekat pada masyarakat suku Sunda sudah semakin tidak di kenal.  Tari jaipongan, seni pencak silat, debus, sisingaan, kuda renggong sepertinya mulai kepunahan di berbagai tempat. Bila hal ini tidak ada yang memperdulikan, salah satu asset bangsa akan punah dalam beberapa dekade ke depan. 
Apa yang bisa orang Sunda lakukan untuk “ngamumule” adat istidat Sunda itu sendiri ?
Jawabannya sangat sulit saya temukan.
Ternyata ada Paguyuban Pendekar Jalak Banten (PJB) yang ada di Bogor.  Paguyuban ini bercita-cita untuk membangkitkan kembali nilai-nilai adat istiadat dan budaya Sunda bagi orang Sunda pada khususnya dan memperkenalkan pada masyarakat luas pada umumnya.  Kegiatan yang selama ini dilakukan oleh PJB adalah latihan-latihan fisik seperti pencak silat, jaipongan, debus dan kegiatan lainnya yang melibatkan sekitar 1000 orang anggota yang tersebar di Bogor raya dan Cianjur.  Para anggotanya wajib menggunakan basa Sunda sebagai bahasa pengantar sehari-hari.  Sebuah kebanggaan tersendiri bila sebagai anggota sebuah suku tertentu bisa dapat mewariskan budaya dan adat istiadat Sunda kepada generasi selanjutnya.
Sangat sulit menemukan sebuah komunitas yang menggunakan basa Sunda yang halus, baik dan benar.  Kalau saya lihat mata pelajaran pengantar basa Sunda di sekolah, bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari, tidak ada keterangan kata mana yang digunakan untuk ke yang lebih tua dan dihormati, bahasa untuk teman seumur atau bahasa ke yang lebih muda usianya.
Kewajiban untuk menggunakan bahasa Indonesia di sekolah terkadang memberikan ruang yang sempit bagi pengguna bahasa daerah atau bahasa lokal.  Perlu komunikasi yang baik antara suami istri yang salah satu pasangannya suku yang berbeda.  Sebagai bahasa ibu, sebaiknya anak diperkenalkan sejak dini untuk memakai bahasa daerah sehingga tidak kaku bila berkomunikasi dengan temannya yang menggunakan bahasa daerah yang sama.
Pemerintah memegang peran atau andil yang besar dalam melestarikan budaya, adat istiadat bahasa lokal atau daerah.  Perkumpulan perlu di bina pemerintah dan membuat masyarakat paham bahwa salah satu kekuatan negeri ini adalah dengan merawat dan membuat adat istiadat serta budaya daerah terpelihara oleh masing-masing individu suku tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar