Selasa, 22 Oktober 2013

JANDA ATAU ISTRI KEDUA ? *ANDILAU (ANTARA DILEMA DAN GALAU)

 
Bila ada pilihan yang lain, aku tidak mau menjadi janda atau istri kedua.
Hidup ini memang sulit bagiku, rasanya dunia ini sempit setelah kepergian suami tercinta. Menginjak tahun kesepuluh pernikahan, ia kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa.  Di saat madu pernikahan sedang kami reguk, di saat menikmati senda gurau dengan dua buah hati tersayang, di saat kami menikmati liburan akhir pekan, tiba-tiba suamiku mengeluh dada kirinya sakit. Beberapa saat kemudian sudah menghembuskan nafas terakhir dalam pangkuanku, sebelum tim medis datang.
Dunia rasanya runtuh.
Tuhan, mengapa Engkau pilih aku yang menjalani takdir ini?
Tuhan, apakah aku layak dan mampu melewati semua cobaan berat ini?
Tuhan, aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku sendiri dalam keadaan terguncang, sedih, kecewa, marah seperti saat ini.
Beri aku kekuatan ya Tuhan.
Deraian air mata mengiringi kepergiannya yang ku rasa sangat mendadak.  Tangisan kedua anakku tak henti-hentinya terdengar lirih, sambil memeluk erat diriku yang lemah dan lemas kehilangan kendali.  Seluruh keluarga, teman, sahabat, handai taulan memberikan ucapan bela sungkawa yang mendalam tapi semuanya belum bisa sedikit pun menghapus laraku. Riuh rendah tangisan, isak dan duka menyelimuti rumahku.
Sosok suamiku yang tinggi besar, atletis, rajin olahraga, tidak merokok, humoris, penyayang, ramah membuatku terlena.  Menurut dokter visum, suamiku meninggal karena serangan jantung.  Tapi rasanya aku tidak percaya. Aku meyakini kalau suamiku sudah menemui waktu ajalnya, itu sudah cukup mengobatiku.  Aku tidak percaya bila secepat itukah kami dipisahkan oleh kematian, yang tak seorang pun bisa mengelak saat ia datang, tak satu pun kekuatan yang bisa menghalanginya.  Ia adalah pemisah kebahagian, pemisah antara kehidupan dan pemisah dari kesenangan duniawi.
Putra pertamaku baru menginjak usia 9 tahun dan yang kedua seorang putri berusia 6 tahun.  Sepasang buah hati karunia Tuhan yang tidak ternilai oleh apapun.  Mereka sangat baik, tidak pernah rewel bahkan merepotkan aku dan keluarga.  Suka tersenyum, senang membantu dan rajin beribadah maupun sekolah.  Itulah warisan abadi yang suamiku berikan, yang harus aku didik dan ajar dengan baik agar kelak menjadi orang yang bertanggung jawab dan bermanfaat untuk umat.  Tapi mereka masih belum merasakan rasa kehilangan yang mendalam, hanya sesekali mereka menanyakan kapan ketemu dengan ayah kembali dan bisa bermain lagi keluar kota. 
Sedih, hancur rasanya hatiku saat mereka merindukan kehadiran ayahnya.
Dua tahun berlalu….
Kesendirianku dengan label janda membuatku tidak nyaman. Di mata masyarakat umum, janda masih memiliki kelas yang kurang bagus pencitraannya, walau aku janda di tinggal mati bukan janda cerai.  Tatapan dan sindiran nyeleneh selalu menghantui keseharianku.  Padahal rasanya aku ini wanita yang pandai menempatkan diri, jarang keluar rumah kecuali hal yang sangat penting.  Dalam relung hati terdalam, aku merindukan seseorang yang hadir melindungiku dan menjadi sandaran untuk anak-anakku.  Tapi siapalah yang mau menikah denganku, janda dengan anak dua.
Tuhan membalas doa-doaku.
Seorang laki-laki rupawan datang melamarku.
Dengan sopan, tegas ia memintaku menjadi istir keduanya.  Ia bercerita kalau pernikahan pertamanya yang memasuki usia 15 tahun, belum dikarunia seorang pun keturunan.  Ia bersedia menjadi ayah dan pelindung kedua anakku da berharap agar kelak aku bisa memberikannya keturunan bila Tuhan mengijinkan.  Kedua orang tuaku sangat senang dan bahagia bila aku bisa menikah dan bisa menemukan kebahagiaan kembali dipernikahanku yang kedua.
Tapi aku bingung.
Aku juga seorang wanita.  Bila aku jadi istri pertamanya, aku tidak rela melepas suamiku untuk menikahi wanita lain. Haruskah aku bahagia di atas penderitaan wanita lain yang sudah 15 tahun mendampinginya? 
Beri aku petunjuk dan kekuatan ya Tuhan…aku tidak berniat merebut suami orang, aku hanya membutuhkan seseorang yang bertanggung jawab, melindungi dan tempat aku berbagi rasa.  Aku akan berusaha menjadikan istri pertama suamiku sebagai kakak.  Aku tidak meminta hak yang banyak sama suamiku seperti hari, aku hanya butuh 2 hari saja dalam seminggu bila istri pertama mau. Aku tidak akan memaksakan suamiku untuk berbuat adil sama rata tidak, aku akan menerima apa aja keputusan pembagian apa pun dalam rumah tangga keduaku ini.
Tuhan….aku memohon untuk diberikan jalan yang terbaik untuk kehidupanku dan anak-anakku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar