Bila ada pilihan yang
lain, aku tidak mau menjadi janda atau istri kedua.
Hidup ini memang sulit
bagiku, rasanya dunia ini sempit setelah kepergian suami tercinta. Menginjak
tahun kesepuluh pernikahan, ia kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Di saat madu pernikahan sedang kami reguk, di
saat menikmati senda gurau dengan dua buah hati tersayang, di saat kami
menikmati liburan akhir pekan, tiba-tiba suamiku mengeluh dada kirinya sakit. Beberapa
saat kemudian sudah menghembuskan nafas terakhir dalam pangkuanku, sebelum tim
medis datang.
Dunia rasanya runtuh.
Tuhan, mengapa Engkau
pilih aku yang menjalani takdir ini?
Tuhan, apakah aku layak
dan mampu melewati semua cobaan berat ini?
Tuhan, aku yakin Engkau
tidak akan membiarkan aku sendiri dalam keadaan terguncang, sedih, kecewa,
marah seperti saat ini.
Beri aku kekuatan ya
Tuhan.
Deraian air mata
mengiringi kepergiannya yang ku rasa sangat mendadak. Tangisan kedua anakku tak henti-hentinya
terdengar lirih, sambil memeluk erat diriku yang lemah dan lemas kehilangan
kendali. Seluruh keluarga, teman,
sahabat, handai taulan memberikan ucapan bela sungkawa yang mendalam tapi
semuanya belum bisa sedikit pun menghapus laraku. Riuh rendah tangisan, isak
dan duka menyelimuti rumahku.
Sosok suamiku yang
tinggi besar, atletis, rajin olahraga, tidak merokok, humoris, penyayang, ramah
membuatku terlena. Menurut dokter visum,
suamiku meninggal karena serangan jantung.
Tapi rasanya aku tidak percaya. Aku meyakini kalau suamiku sudah menemui
waktu ajalnya, itu sudah cukup mengobatiku.
Aku tidak percaya bila secepat itukah kami dipisahkan oleh kematian,
yang tak seorang pun bisa mengelak saat ia datang, tak satu pun kekuatan yang
bisa menghalanginya. Ia adalah pemisah
kebahagian, pemisah antara kehidupan dan pemisah dari kesenangan duniawi.
Putra pertamaku baru
menginjak usia 9 tahun dan yang kedua seorang putri berusia 6 tahun. Sepasang buah hati karunia Tuhan yang tidak
ternilai oleh apapun. Mereka sangat baik,
tidak pernah rewel bahkan merepotkan aku dan keluarga. Suka tersenyum, senang membantu dan rajin
beribadah maupun sekolah. Itulah warisan
abadi yang suamiku berikan, yang harus aku didik dan ajar dengan baik agar
kelak menjadi orang yang bertanggung jawab dan bermanfaat untuk umat. Tapi mereka masih belum merasakan rasa
kehilangan yang mendalam, hanya sesekali mereka menanyakan kapan ketemu dengan
ayah kembali dan bisa bermain lagi keluar kota.
Sedih, hancur rasanya
hatiku saat mereka merindukan kehadiran ayahnya.
Dua tahun berlalu….
Kesendirianku dengan
label janda membuatku tidak nyaman. Di mata masyarakat umum, janda masih
memiliki kelas yang kurang bagus pencitraannya, walau aku janda di tinggal mati
bukan janda cerai. Tatapan dan sindiran
nyeleneh selalu menghantui keseharianku.
Padahal rasanya aku ini wanita yang pandai menempatkan diri, jarang
keluar rumah kecuali hal yang sangat penting.
Dalam relung hati terdalam, aku merindukan seseorang yang hadir
melindungiku dan menjadi sandaran untuk anak-anakku. Tapi siapalah yang mau menikah denganku,
janda dengan anak dua.
Tuhan membalas
doa-doaku.
Seorang laki-laki
rupawan datang melamarku.
Dengan sopan, tegas ia
memintaku menjadi istir keduanya. Ia
bercerita kalau pernikahan pertamanya yang memasuki usia 15 tahun, belum
dikarunia seorang pun keturunan. Ia
bersedia menjadi ayah dan pelindung kedua anakku da berharap agar kelak aku
bisa memberikannya keturunan bila Tuhan mengijinkan. Kedua orang tuaku sangat senang dan bahagia
bila aku bisa menikah dan bisa menemukan kebahagiaan kembali dipernikahanku
yang kedua.
Tapi aku bingung.
Aku juga seorang
wanita. Bila aku jadi istri pertamanya,
aku tidak rela melepas suamiku untuk menikahi wanita lain. Haruskah aku bahagia
di atas penderitaan wanita lain yang sudah 15 tahun mendampinginya?
Beri aku petunjuk dan
kekuatan ya Tuhan…aku tidak berniat merebut suami orang, aku hanya membutuhkan
seseorang yang bertanggung jawab, melindungi dan tempat aku berbagi rasa. Aku akan berusaha menjadikan istri pertama
suamiku sebagai kakak. Aku tidak meminta
hak yang banyak sama suamiku seperti hari, aku hanya butuh 2 hari saja dalam
seminggu bila istri pertama mau. Aku tidak akan memaksakan suamiku untuk
berbuat adil sama rata tidak, aku akan menerima apa aja keputusan pembagian apa
pun dalam rumah tangga keduaku ini.
Tuhan….aku memohon
untuk diberikan jalan yang terbaik untuk kehidupanku dan anak-anakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar