Empat Anak Sekolah di Pondok....Bagaimana Rasanya ?
Popie Susanty
Nikmat sekali
Indah rasanya
Bahagia
Haru
Bercampur semua rasa....rasa yang sering kali datang meluluhlantakan jiwa. Rasa yang mampu membobol pertahanan air mata.
Satu di pondok...masih ada 3
Dua di pondok...masih ada 2
Tiga di pondok...masih ada 1
Empat di pondok....tak bersisa lagi
Sungguh berat sangat berat di awal. Satu hari terasa sangat lama. Satu pekan makin tersiksa jiwa. Melihat kamar yang kosong. Mencium aroma bajunya, kaosnya, mukenanya, spreinya, bantal gulingnya.....ah rasa rindu menyesakkan dada. Seringkali lupa terucap, "Nak sini....makanan sudah siap."
Sering juga saat pulang ke rumah bawa makanan kesukaan anak-anak, sambil buka pintu dan ucap salam, "Nak...Ummi bawa es krim."...tak ada jawaban. Sepi.....
Malam mulai beranjak
Sepi.....
Sepi.....
Sepi.....
Terisak sendiri
Wahai diri, sabar yaa...anak-anak sedang berjuang. Kamu pun berjuang yaa. Ya....saya harus berjuang karena mereka pun sedang sama-sama berjuang. Mereka sedang mempersiapkan menjadi generasi penerus agama dan bangsa di masa depan. Mereka sedang menempah diri dengan berbagai ilmu. Mereka sedang menempuh hidup melawan semua kenyamanan.
Berjuang melawan rindu...
Berjuang melawan rasa nyaman...
Berjuang melawan rasa hangat...
Dalam sujud panjang, dalam doa yang khusyu...semua rasa itu saya tumpahkan. "Duhai Allah Dzat Yang Menggenggam Hati...rindu ini saya mohon untuk di balas dengan cinta-Mu. Kuatkan hati saya. Kuatkan hati anak anak tercinta di tempat perjuangannya."
"Ikhlaskan lapangkan dada ini untuk bisa menjalani rasa sepi ini dengan basah mengingat-Mu. Dengan selalu menyebut-Mu."
"Sayangi, lindungi, cintai mereka dengan kasih sayang-Mu. Engkau sebaik-baiknya Penyayang, Pelindung, Pengasih."
Alhamdulillah dengan bergulirnya waktu,
Alhamdulillah dengan pertolongan Allah,
Semua hari akan kembali terbiasa dengan sepi.....
Alhamdulillaah sudah 100 hari terlewati... semoga Allah terus menguatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar