Almarhum Bapak, semoga Allah merahmati dan mengampuni semua dosa-dosanya. Beliau tak banyak bicara tapi satu hal yang sering Beliau ucapkan. Berbuat hal yang membanggakan keluarga dan jangan pernah melakukan hal yang mencoreng nama keluarga.
Awalnya saya tidak faham. Ah yang penting kerja keras untuk dapat rengking terbaik di kelas biar dapat beasiswa dari kantor Bapak. Dan saat pengambilan rapot, Mamah selalu bilang silahkan beli apa saja untuk hadiah. Karena tahu kondisi keuangan keluarga, paling saya ambil coklat cap ayam jago dan permen dalam kemasan kaleng. Waktu itu sudah wah banget untuk saya.
Saat ke kota tempat Bapak bekerja, Bapak bawa saya ke toko buku, beli apa saja yang saya inginkan, pengalaman yang sangat berkesan sampai sekarang. Memiliki waktu khusus berdua sama Mamah dan Bapak. Sedangkan adik ada dirumah bersama keluarga besar.
Kata sekarang istilahnya bullying. Beberapa kali saya dapat saat kecil bahkan sampai sekarang.
“Tiklot, leutik kolot,” sering terdengar saat ambil rapot juara 1 di kelas. Beberapa ibu-ibu di kelas berbisik, padahal usia masuk SD 6 tahun, jadi seumur sama anak-anak lainnya.
“Pendek” kata itu pun sering saya dengar, entah mengejek atau bercanda. Saya abaikan.
Saya ingat kata Bapak, “Kalau itu sebuah kenyataan terhadap diri kita, tidak usah marah, tak usah di lawan.”
Tapi kalau keluarga saya dengar, terutama Ua saya yang mengasuh saya sejak kecil selalu beliau bilang,”Maunya sih seperti kamu, tinggi, pintar, kaya” dalam nada yang marah, tidak menerima saya diejek.
Saya hanya senyum tanpa ada komentar
Mamah saya selalu bilang untuk menguatkan hati saya,” Balas dengan prestasi....cibiran dan ejekan mereka, jangan dibalas dengan ejekan lagi nanti sama derajatnya sama mereka. Terpercik air sendiri nantinya. Senyum atau tinggalkan saja”
Pelajaran hidup yang tak didapat dibangku sekolah bahwa menghormati diri sendiri di hadapan orang salah satunya dengan meninggalkan apa saja yang sebenarnya bisa kita mampu tapi tidak kita lalukan.
“Iri tanda tak mampu” Slogan dari guru saya yang menanamkan muridnya agar jangan pernah ada rasa iri dalam hati kepada siapapun terutama yang memiliki kelebihan seperti prestasi, kekayaan, jabatan atau yang lain. Karena setiap diri punya kelebihan dan kekurangan.
Sabar dan syukur terhadap semua ketentuan Allah.
Bapak dan Mamah saya tak pernah melarang saya apapun. Kepercayaan yang harus saya pegang saat saya memiliki sebuah keinginan. Misalnya saya ingin kursus, silahkan asal jujur, pintar, insya Allah uang diusahakan. Tak pernah mereka melarang saya ikut organisasi apapun di sekolah karena mereka tahu saat anaknya memiliki keinginan harus dipenuhi.
🥺🥺🥺rindu memeluk mereka
Semoga selalu sehat, panjang umur dalam ketaatan dan kebaikan, husnul khotimah dan diberikan rejeki bak air bah yang melimpah, Istiqomah dalam Islam dan bisa selalu bermanfaat untuk sesama.
@popiesusanty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar